Menganyam Cita Mencerdaskan Anak Bangsa dengan Literasi Buku


Indonesia ini luas dan kaya akan alam, suku dan budaya. Keanekaragaman itulah yang membuat Indonesia sangat dikagumi oleh banyak wisatawan mancanegara. Wisata Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Mulai dari wisata bawah laut, hutan, ataupun pegunungan. Sebutlah Pulau Bali, Pulau Komodo, Gunung Rinjani, Raja Ampat, Karimunjawa, Toraja, Pantai Bolu-Bolu, dan entah mana lagi. Ini sebuah anugerah yang tak ada duanya. Apa jadinya Indonesia dengan kekayaan itu ketika tidak ditunjang oleh sumber daya manusia yang baik? Mungkin nanti kita akan jadi penonton di negeri sendiri.

Dalam menyongsong generasi emas Indonesia tahun 2045, saatnya kita turut andil dalam menyiapkan anak/peserta didik kita menjadi generasi yang cerdas, generasi yang unggul, dan generasi yang punya jiwa kompetitif disertai karakter yang baik. Berawal dari kecil kita ajarkan peserta didik kita untuk memiliki cita-cita. Ada sebagian anak yang belum memahami makna cita-cita. Kata itu memang sudah tidak asing terdengar di telinga kita. Banyak yang memiliki cita-cita tinggi namun usahanya kurang. Banyak berbagai alasan kecil yang menjadi kekuatan mereka untuk menyerah. Inilah tugas bagi para pendidik di Indonesia, sebagai salah satu penanggung jawab bagi kesuksesan para peserta didik.

Pendidik di Indonesia belum pandai memberikan dorongan tekad yang kuat di setiap hati para peserta didiknya. Kalau kita lihat dari apa yang telah terjadi, guru SD sering mendorong murid-muridnya untuk menyebutkan cita-cita mereka. Kalau mereka bertanya apa itu cita-cita? Pasti guru akan menjawab “Cita-cita itu kamu mau jadi apa di saat besar nanti”. Secara tidak langsung murid-murid diarahkan untuk memilih di antara dokter, polisi, pilot, tentara, guru, dan sebagainya. Ini telah menyempitkan makna dari cita-cita itu sendiri. Padahal keinginan terkecil pun yang kita miliki bisa saja kita sebut dengan cita-cita. Berawal dari cita-citalah kemudian anak kita dorong untuk giat dalam belajar dan menamkan budi pekerti yang baik. Kehadiran bapak/ibu guru di sekolah maupun orang tua di rumah sebagai bekal anak-anak untuk menyongsong masa depan yang cerah.

Buku adalah jendela dunia. Membaca dapat meningkatkan kualitas hidup anak serta menjauhkan dari jurang kebodohan. Membiasakan anak membaca buku, membuat anak berlatih memusatkan pikiran dan merangsang saraf otak untuk bekerja. Membaca buku akan menambah pengetahuan anak tentang apa yang ada di dunia ini. Agar dapat mengetahui apa yang ada di dasar laut, anak cukup membaca tentang kelautan, dan pastilah kamu akan mengetahui apa yang ada di dasar lautan tersebut. Dengan membaca buku, anak mendapat banyak informasi tanpa harus menanggung resiko untuk mendapatkan informasi tersebut. Membaca bisa di mana saja, bisa di kebun, di sawah, di pinggir laut, di puncak gunung, di rumah atau di manapun itu. Itulah keistimewaan membaca buku, mari kita dorong anak membaca buku agar anak mengetahui banyak hal dalam mempersiakan diri menyongsong generasi emas Indonesia.

Penulis : Erwin Yamin

Erwin Yamin , Total 3 Tulisan .

(Dikunjungi : 46 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda