Pelangi yang Tersembunyi


Berawal dari perjalananku dalam pengabdian di Tanah Paraneant, Landak Kalimantan Barat. Kakiku menyentuh sudut bumi khatulistiwa bukan untuk bermain atau sekadar wisata, tapi tujuanku adalah menyapa mereka di belantara rimba. Aku ingin menjadi pelita meski menyala kecil untuk asa yang tersembunyi. Hadirku tak hanya sebagai guru yang menggenggam erat tangan mereka untuk melangkah maju, tapi juga sahabat yang kan setia menyemangati dan mendengar secercah impian, serangkai cita yang terbisik pelan penuh harapan.

Haruku menyiksa kalbu dan butiran air mata jatuh perlahan sebab tertahan. Kutatapi kaki-kaki kecil kuning kecoklatan. Tanah liat mengumpul menempel mengikuti langkah gagah mereka ke sekolah yang mereka ayun berjam-jam. Ujung sepatu bak mulut buaya terbuka lebar seakan ingin menerkam mangsa. Saat hujan turun menari, tak ada payung yang meneduhi diri. Tas sekolah yang lusuh menjadi ganti. Begitulah keadaan mereka yang penuh keterbatasan. Bukan hanya kondisi mereka yang membuatku pilu, tapi semangatnya menuntut ilmu lah yang membuatku cemburu.

“Pagi Buuu!!” Sapaan lembut penuh kasih menjadi penyemangatku mengawali hari. Senyum mereka merekah, tak ada keluh kesah meski aku tahu lelah menyelimuti karena perjalanan yang mereka tempuh mendahului terbitnya mentari.

“Pagi sayang..” jawabku tersenyum. “Anga Mu umam?” (apakah kamu sudah makan?) tanyaku dengan bahasa dayak benyadu yang kupelajari dan kuhafal berhari-hari. Kadang pun membuatku pusing sendiri karena susah bagiku untuk melafalkannya. Aku berusaha menyatu dengan mereka lewat bahasa meski kadang ucapku lucu munculkan gelak tawa.

Kebersamaanku dengan mereka tak hanya di sekolah. Tak cukup hanya dengan waktu yang tersedia saat kubekali mereka dengan ilmu matematika atau saat mengajari mereka seni budaya. Kuperpanjang waktu itu hingga kami semakin dekat umpama sahabat akrab. Memang kami berbeda; suku, agama dan budaya, tapi semua terkikis begitu saja. Perbedaan justru mengajari kami untuk saling menghargai. Rasa hormat yang dibumbui cinta mereka tunjukkan dengan ketulusan. Mereka membantuku mengangkat air bersih, memberi sayuran dan buah-buahan yang mereka cari sendiri di hutan. Kadang mereka turut menemaniku lewati malam di bangunan kayu yang merupakan istanaku pada masa pengabdian.

Takjubku meluas saat kusadari bahwa diriku nyata berada di antara generasi emas. Anak didikku sungguh bukan pemanja. Mereka pintar, mandiri, dan rajin membantu orang tua. Usai menimba ilmu di sekolah, tubuhnya tak juga lelah. Sebagian mereka mengais rezeki menoreh getah. Mereka baru pulang ketika senja datang.

Malam mereka gelap. Tak ada arus listrik yang mengalir ke Desa Rasan. Sebuah desa yang memiliki 3 dusun itu. Desa yang setiap malamnya hanya terdengar suara gonggongan anjing dan jangkrik dari tengah hutan. Tapi hal itupun tak membuat mereka goyah lalu bermalas-malasan. Meski hanya dengan cahaya pelita yang meredup, tapi semangat mereka tak kuncup. Mereka sisihkan waktu untuk membaca dan mengulang pelajaran. Aku pun turut membantu mereka mendapatkan ilmu tambahan. Aku benar-benar cinta. Cinta pada semangat mereka yang erat melekat, cinta pada tangguhnya harapan meski dililit keterbatasan.

Sungguh mereka layaknya pelangi yang kutemui tersembunyi di balik hutan waktu itu. Indah dengan percikan air terjun yang menyejukkan. Penuh warna. Akupun melihat warna pada diri mereka yang masih tersembunyi. Hanya yang melihat mereka dekat yang mampu memahami bahwa mereka hebat. Aku yakin warna itu akan dapat melukis cerita baru dan memberikan perubahan dalam babak kehidupan mendatang. Mereka punya potensi yang bisa digali. Dan kini mereka masih berbenah diri. Berharap kasih, dukungan dan motivasi penduduk bumi untuk menambah bekal hingga mereka bisa keluar, meninggi, lalu dunia akan mengakui bahwa mereka layak dipuji.

Hari berganti hari. Belum sempurna kupandangi warna pelangi, namun aku sudah harus kembali sesuai janji. Hanya setahun saja waktuku mendedikasikan diri. Aku terpaksa meninggalkan cinta di tanah pengadian dan kembali kepada cinta di kampung halaman. Dilema, karena hasrat hati yang masih menginginkan kebersamaan ini sama porsinya dengan keinginan untuk segera memeluk orang tua yang telah setahun berpisah.

***

Kini jarak yang teramat panjang terbentang antara Aceh dan Kalimantan. Syukurlah ada media sosial yang membuat jauhnya jarak terasa dekat, dan menjadi sarana untuk menyapa dan menyampaikan rindu.

“Ápa kabar Bu?” pertanyaan yang kerap masuk di inbox facebookku dari mereka yang sekarang sudah keluar desa untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah. Tentu jawabku baik-baik saja, meski sebenarnya hatiku tak sebaik fisikku. Ada rindu yang kian mendesak hingga membuatku sesak. Rindu kembali ke tengah-tengah mereka, generasi yang luar biasa. Dalam harapan dan doa ku meminta agar takdir menuntunku kembali mengobati rindu ini. Pun jika yang kutemui bukan sosok yang persis mereka lagi, tapi (mereka) juga adalah pelangi yang tersembunyi.

Penulis : Ferita Aninda

Ferita Aninda , Total 1 Tulisan .

(Dikunjungi : 43 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
7
Sangat Suka

Komentar Anda