Kisah Pilu Asrawan


Aku selalu percaya akan kekuatan sebuah tulisan yang menyapih doa-doa baik di tiap kalimatnya. Keajaiban itu datang tidak dalam waktu sekejap, memang. Hal itu lah yang membuatku selalu menulis di tiap hari selama menjadi guru para “Anak Marcopoloku” di tengah Samudera Hindia sana. Dan kini, doa yang disangga tulisan yang kutulis pada tahun 2015 lalu membuatku makin percaya dengan kekuatan itu.  

Hari itu terdengar jelas dari pengeras suara di mesjid raya Pulau Balai pengumuman yang dikhususkan bagi masyarakat nelayan Pulau Balai dan Pulau Baguk. Pengumuman yang berisi larangan untuk melaut ke arah Pulau Rangik Besar, Pulau Rangik Kecil, dan Palambak. Larangan ini dilatarbelakangi peristiwa hilangnya dua orang nelayan desa Pulau Baguk sore lalu. Salah seorang nelayan yang akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat, namun kelelahan terdampar di Pulau Palambak. Menurut cerita yang didapatkan dari nelayan yang selamat, dua nelayan itu menyelam hendak mengambil tungkele (sejenis hewan laut yang mempunyai cangkang yang kuat). Jarak menyelam antara nelayan A dan B kira-kira sejauh 200 meter. Saat mereka menyelam itu adalah mendekati waktu maghrib. Tiba-tiba saja nelayan yang selamat ini melihat ada sesosok bayangan yang membawa biduknya. Ia berusaha berenang sekuat tenaga mengejar namun biduk itu terus melaju. Jauh.

Melihat biduk yang terus menjauh, nelayan A memanggil nelayan B yang ternyata adalah orang tua dari salah satu siswaku, Asrawan, dari kelas XI IPS2. Lama tidak ada sahutan akhirnya nelayan A kelelahan karena terus berenang. Dengan tenaga yang masih tersisa ia segera berenang menuju pulau terdekat, yaitu Pulau Palambak. Palambak adalah salah satu dari gugusan pulau banyak yang ada dibangun penginapan untuk wisatawan yang hendak menginap. Jadi nelayan A bisa langsung dibantu warga yang menjaga penginapan di Palambak. Warga mengabarkan ke nelayan lain yang berada di Pulau Balai. Sementara yang lain langsung menuju TKP untuk mencari ayah Asrawan.

Pencarian terus dilakukan. Bahkan dua minggu pertama semua masyarakat nelayan Pulau Balai dan Pulau Baguk diarahkan untuk melakukan pencarian. Bahan bakar kendaraan merekapun ditanggung oleh panglima laut. Mulai dari tim SAR, BKSDA, anak-anak, remaja, sampai orang tua ikut dalam pencarian orang hilang ini. Ada yang memakai speed boat, biduk, dan boat ikan. Namun hasilnya tetap nihil. Bahkan beredar cerita bahwa hilangnya ayah Asrawan karena dimakan nenek atau buaya laut. Pulau Banyak memang dikenal dengan buaya lautnya yang berukuran sangat besar dari pada buaya rawa. Dugaan ini juga diperkuat karena biduk tidak ditemukan. Selain itu kejadian orang pernah dimakan oleh buaya tidak hanya kali ini saja. Beberapa tahun silam bahkan penangkapan buaya yang pernah masuk dalam salah satu siaran tv swasta terjadi di Haloban. Di dalam perut buaya tadi ditemukan potongan-potongan baju dan tulang manusia.

Penangkapan buaya di Pulau Banyak ini menggunakan jasa dukun yang disebut dengan pawang. Pawang buaya pada umumnya berjenis kelamin laki-laki dan berasal dari Sinabang. Bukan sembarang pawang, tapi pawang buaya ini orang yang telah menuntut atau menggeluti ilmu gaib. Cerita penangkapan buaya sebelumnya, pawang mengumpulkan beberapa buaya yang diduga telah memakan manusia tadi. Lalu hanya dengan memukulkan rotan ke tanah sebanyak tiga kali (sambil membaca mantra atau doa-doa), maka buaya yang bersalah akan maju menyerahkan diri, siap untuk diadili. Begitulah kesaktian pawang sebelumnya yang masih segar di ingatan para warga yang menyaksikan prosesi sakral itu.

Untuk menjadi seorang pawang tidaklah mudah. Selain menuntut juga ada yang mengatakan bahwa si pawang harus muja. Belum lagi resiko yang ditanggung si pawang setelah mencoba membantu seseorang dengan ilmunya. Mulai dari harus kehilangan keahliannya dalam artian tidak bisa lagi bekerja sebagai dukun atau pawang dalam kurun waktu ynag cukup lama, kehilangan anggota keluarga (ada masyarakat yang menyebut sebagai tumbal), bahkan mereka sendiri sebagai pesakitan (si pawang bisa menderita stroke berat bahkan kematian). Wallahu alam.

Setelah sekian lama melakukan pencarian yang tidak membuahkan hasil, akhirnya keluarga dan masyarakat sepakat untuk mendatangkan pawang. Pemanggilan pawang ini juga dilatarbelakangi telah dirasukinya raga salah seorang anggota keluarga oleh roh halus yang katanya adalah ayah Asrawan. Ia meminta bahwa keluarga agar mengikhlaskan dia, agar dia bisa beristirahat dengan tenang. Ia juga menyebutkan bahwa ia tewas karena dimakan oleh buaya. Karena hal inilah masyarakat membantu keluarga untuk mencukupi membayar pawang yang akan didatangkan. Masyarakat meminta sumbangan dari masyarakat karena dana untuk mendatangkan pawang tidak lah sedikit, yaitu sejumlah 10 juta rupiah.

Kejadian mengenai pawang yang termasyhur juga pernah terjadi di Pulau Bangkaru, pulau yang dikenal dengan penyu hijaunya dan memiliki bibir pantai yang luas. Namun mitos yang dipercayai masyarakat yang membuat masyarakat terkesan takut untuk ke sana adalah penghuni pulau yang sangat angker jika kita ke sana, kita tidak boleh membunuh makhluk hidup bahkan nyamuk sekalipun. Pernah ada kejadian sekian tahun 2000 an silam di Bangkaru, hilangnya 10 nelayan di sana. Setelah diterawang ternyata para nelayan ini disembunyikan oleh makhluk halus. Untuk menebus 10 orang tadi pawang mematok biaya Rp. 10.000.000,- juta per orangnya. Mengapa bisa semahal itu? Karena jika pawang menggunakan ilmunya saat itu untuk menolong 10 orang tadi di Bangkaru maka ia tidak akan bisa menggunakan ilmunya 10 tahun lamanya. Tidak bisa menggunakan ilmunya berarti tidak bisa bekereja, tidak bisa bekerja berujung pada tidak bisa memberi makan anak bininya.

Lama masyarakat menanti-nanti kapan pawang buaya dari Sinabang ini akan datang. Memang menyangkut masalah buaya masyarakat sangat antusias. Bahkan sempat beberapa kali semua warga pulau berlari menuju POS AL karena adanya isu buaya sudah ditemukan. Kami pun juga segera berkemas-kemas. Namun baru saja mengunci pintu, ternyata kabar telah tertangkapnya buaya hanya hoax belaka. Semua penonton kecewa dan kembali ke rumah masing-masing. Kejadian hoax kedua adalah ketika sedang berlangsung jam pelajaran terakhir di sekolah. Pak Syarif mengangkat telepon ketika ia sedang mengajar di kelas XI IPA. Otomatis apa yang beliau ucapkan disimak oleh siswa-siswi XI IPA. Mereka menangkap maksud yang berbeda dari ucapan Pak Syarif, dan dalam pikiran mereka seragam bahwa buaya telah ditemukan dan kini berada di POS AL. Baru saja bel berbunyi seisi sekolah langsung berlari menuju POS AL. aku dan Pak Syarif yang juga penasaran iseng-iseng lewat ke sana. Dan ternyata? Nothing!

Kembali ke kisah pilu Asrawan. Sehari setelah kejadian hilangnya ayah Asrawan, kami guru-guru SM-3T mengkoordinasikan anak-anak besok ke sekolah membawa surat yasin. Kita akan membacakan yasin dan mendoakan ayah Asrawan. Mengaji yasin ini adalah ide dari salah seorang siswaku yang bernama Rival. Segera kubikin postingan di facebook dan aku tag para siswa, sementara kak Angel menghubungi anak-anak via sms. Pengajian kami lakukan setelah upacara bendera di mushola. Setelah mengaji yasin, Pak Syarif juga sempat memberikan tausiyahnya.

Akhirnya pawang datang, untuk mendampingi pawang didatangkan BKSDA Aceh Singkil yang dikoordinatori oleh Pak Yudistira. Saat-saat musim buaya seperti itu kami malah sempat pergi ke pulau Panjang bersama siswa kelas XII IPS. Masyarakat yang mengetahui hal ini sangat cemas dan memperingatkan kami agar jangan dahulu plesir ke pulau-pulau sebelum ada kejelasan status akan buaya ini. Namun setelah beberapa lama tetap tidak adanya hasil dalam operasi penangkapan buaya ini. Pak Yudis sempat mengatakan buaya terlihat di Palambak tengah memakan katung yang diternakkan oleh warga. Namun ketika pawang akan turun buaya tadi hilang entah ke mana.

Pencarian panjang yang memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit ini tidak mengalami kemajuan. Masyarakat berspekulasi bahwa karena ada 3 orang pawang, makanya pencarian tidak membuahkan hasil. Masing-masing pawang memiliki ilmu dan cara pandang yang berbeda. Spekulasi kedua adalah bahwa ayah Asrawan tidak dimakan buaya melainkan dilarikan oleh hantu laut. Bu Nur, salah satu guru di SMAN 1 Pulau Banyak juga mengalami kisah yang sama. Ketika beliau SMP, ayahnya hilang di tengah laut. Sampai sekarang tidak pernah ditemukan jasad atau barang-barang yang terkait dengan ayahnya tersebut. Akhirnya semua mencoba untuk merelakan dan mengikhlaskan. Biarlah ini menjadi rahasia Tuhan, yang jelas hidup tetap terus berlanjut.

Asrawan di sekolah termasuk anak yang giat dalam belajar. Ia juga suka kegiatan seni. Sebagai anak sulung Asrawan sadar, kini ialah yang akan menjaga ibu dan adik-adiknya yang masih kecil. Mau tidak mau, siap tidak siap, ia menggantikan tugas ayah semampunya, menopang ibunya yang kini menjadi single parent. Asrawan membuktikan bahwa ia siap menghadapi dunia, membuktikan bahwa sepilu apapun kisah hidupnya tidak akan menghentikan langkahnya untuk meraih cita-cita. Dan itu ia buktikan dengan prestasinya yang meningkat, dari hanya mendapatkan 10 besar Asrawan berhasil menduduki peringkat ketiga pada kenaikan kelas kali ini. Belum lagi perannya ikut dalam berbagai penampilan seni, bahkan mewakili SMAN1 Pulau Banyak untuk lomba nasyid dalam rangka acara pentas agama Islam yang diadakan oleh Kemenag Aceh Singkil. Semangatlah terus Asrawan, yakinlah kamu tidak pernah sendiri, percayalah Tuhan selalu menjadi sutradara terbaik untuk setiap hidup yang diperjuangkan, untuk setiap doa yang tak henti dikumandangkan.

-2017 Asrawan berhasil menjadi tentara, membuktikan kepada ayahnya ia mampu melanjutkan perjuangan sang ayah-

Penulis : Wahdini Dwiranda

Wahdini Dwiranda , Total 6 Tulisan .

(Dikunjungi : 19 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
1
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
2
Sangat Suka

Komentar Anda