Kesaksian Dinding Kelas


Sekolah adalah interaksi. Interaksi antar masyarakat di dalamnya. Interaksi yang terjalin, kait-mengait, dan saling memengaruhi. Siapa masyarakat yang dimaksud tadi? Tentunya ada guru, siswa, kepala sekolah, pegawai tata usaha, penjaga sekolah, orang tua siswa, dan banyak lagi bila kami sebutkan di sini. Namun kami akan bercerita tentang dua saja, yakni “guru” dan “siswa”. Kenapa kami hanya menceritakan dua? Karena dua tersebut memiliki interaksi yang dominan. Kami adalah saksi atas keberlangsungan yang terjadi di dalam ruang kelas, dan kami sendiri adalah “Dinding” kelas dari sekolah tersebut.

/1/
Saya adalah dinding kelas. Nama saya “Dinding VI A” satu dari banyak ruangan kelas lainnya. Saya sangat menikmati keceriaan anak-anak di dalam kelas. Mendengar tawa riang anak-anak menjadi nyanyian syahdu. Apalagi ketika mereka dengan nakalnya menuliskan di badanku dengan kata-kata layaknya coretan dinding. Namun keceriaan anak-anak akan padam dengan sendirinya tatkala seorang dewasa yang disebut guru masuk ke dalam kelas. Sebagai dinding kodratku hanya bisa diam dan memperhatikan apa saja yang berlangsung di dalam kelas.

Saya memperhatikan guru tersebut menjejali anak-anak dengan pengetahuan. Itu baik. Sangat baik. “Kurang baik” apabila komunikasi satu arah sangat dominan dan pusat komunikasi adalah guru itu sendiri. Sikapnya yang dingin ketika menjelaskan sesuatu, menciptakan aura seram yang ditangkap oleh jiwa anak-anak. Pernah suatu ketika satu persatu anak-anak diminta giliran membaca teks buku. Jika sang anak yang mendapat giliran membaca salah atau kehilangan jejak bacaaan secara otomatis sorot mata guru tersebut akan tajam. Terang saja kami memperhatikan kejadian tersebut sesungguhnya menyakitkan batin sang anak, kemudian lambat laun mental sang anak akan jatuh. Jika mental yang kena, ke depan anak-anak itu diselimuti rasa takut untuk tampil.

Lonceng sekolah menggema di seantero sekolah menandakan pelajaran usai. Guru tersebut keluar dari kelas. Anak-anak berhamburan waktu istirahat. Ruangan kelas kosong sebelum lonceng kembali berbunyi. Saya menangkap anak-anak bersyukur diselamatkan keadaan untuk sementara waktu. “Apakah itu sebenarnya guru?” tanya saya ke tetangga sebelah saya. Dinding VI B.

/2/
Di pintu kelas tersemat papan yang bertuliskan “Kelas VI B”. Dinding kelas yang lain menyebut saya kelas paling bahagia. Penuh cinta dan kasih. Memang, yang diceritakan oleh teman-teman dinding kelas itu benar adanya. Sangat bersyukur, sebab di dalam badan ruangan kelas saya memang telah beredar cinta antara guru dan siswa maupun sebaliknya siswa dan guru.

Suara nyaring guru terdengar jelas. Belajar sambil bernyanyi. Belajar sambil bermain peran. Belajar sambil melakukan. Anak-anak tak canggung jika sudah bersama sosok guru tersebut. Mencintai, mengayomi, dan mendidik. Saya merekam jelas momen tersebut. Satu diantara banyak momen tersebut saya ceritakan sebagai berikut.

Pelajaran sejarah yang sukar disukai menjadi bermakna oleh anak-anak. Guru mengulas sejarah kemerdekaan Indonesia; peristiwa proklamasi. Awal sekali guru membawa gambar wajah Soekarno dan Hatta sebagai bagian apersepsi. Memancing tahu siswa siapakah sosok gambar tersebut? “Perhatikan anak-anak, siapakah sosok di gambar ini?” tanya guru sembari mengangkat gambar ke atas. Sontak sebagian anak-anak menjawab “Itu Pak Soekarno dan Pak Hatta.” Anak-anak lain tak kalah hebatnya menjawab “Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia.”

Guru lanjut mengajak anak-anak mengenali peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan meminta siswa melihat teks proklamasi di papan tulis yang usai ditulis guru mereka dengan kapur. “Perhatikan semua, di depan merupakan teks proklamasi; sebuah teks yang memuat pemberitahuan resmi tentang Bangsa Indonesia yang merdeka terbebas dari penjajahan,” terang guru di depan dan meminta seluruh anak-anak mendengarkan isi teks yang dibacakan. Guru tersebut membaca teks proklamasi dengan khidmat. Penekanan nadanya pada setiap kalimat melambangkan perasaan heroik dan hal itu membuat anak-anak yang mendengar khidmat.

Usai membacakan teks proklamasi, guru kembali meminta anak-anak untuk berlatih bermain peran sebagai Soekarno dan Hatta dengan membacakan teks proklamasi di depan secara bergantian. Guru memiliki maksud ingin menanamkan rasa nasionalisme di dalam hati anak-anak; seolah-olah merasai peristiwa bersejarah tersebut dan menjadi kedua tokoh Bapak Bangsa.

Satu persatu anak-anak mendapat giliran sebagai proklamator. Ada mendapat peran sebagai Soekarno yang membacakan dan lainnya sebagai Hatta yang mendampingi. Membaca memang mudah. Namun tanpa merasai jiwa di dalammya apalah arti membaca? Maka dari itu tidak hanya membaca, namun guru tersebut juga melatih penekanan (kuat dan rendah) di dalam membaca teks proklamasi.

Semua anak-anak telah menjalani bagiannya dan mengakhiri pelajaran sang guru mengajak semuanya bernyanyi; menyanyikan lagu kebangsaan “17 Agustus”.

Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap sedia Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap sedia Membela negara kita

Saya dinding dan sebatas dikarunia peran oleh Tuhan merekam peristiwa tersebut menangkap “air mata” anak yang menetes usai pelajaran. Memang saya dinding yang memilki keterbatasan diberikan oleh Tuhan, namun diberikan juga kelebihan. Kelebihan saya adalah menangkap FREKUENSI BATIN KEBERMAKNAAN.

“Apakah itu sebenarnya guru?” pertanyaan Dinding VI A di atas tadi. Sebagai tetangga saya celaka jika menjawab dan seolah-olah nanti jawaban saya dicerna sebagai sifat menggurui kepada tetangga saya tersebut. Saya hanya memberikan respon seperti kalimat di bawah ini.

“Ada Guru yang Sadar Dia Itu Guru.”
“Ada Guru yang Tidak Sadar Dia Itu Guru (Guru yang Tak Kunjung Guru).”

Pekanbaru, 05 Mei 2019

Penulis : Reby Oktarianda

Reby Oktarianda , Total 40 Tulisan .

(Dikunjungi : 448 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda