Kategori: Artikel
-

Aktivitas Membaca Sebagai Budaya Tanding
JURNALISME MSI – Kehidupan saat ini tidak bisa dilepas dari internet. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat pada tahun 2018 pengguna internet di Indonesia mencapai 171,17 juta orang (64,8%) dari total populasi 264,16 juta orang. Jumlah yang besar. Hal yang berbeda justru ditunjukkan pada angka membaca di Indonesia. Budaya membaca masyarakat Indonesia sangat rendah…
-

Gagal Paham (Saya) tentang Literasi
Beberapa waktu lalu saya coba menuliskan tentang literasi di platform jurnalismemsi.id (baca: ketika menulis dianggap tidak baik; aktivitas membaca sebagai budaya tanding, dan; pseudo-literasi). Di dalam tulisan tersebut sengaja saya tekankan literasi condong kepada aktivitas membaca dan menulis. Kekeliruan saya sekarang terjawab ketika membaca sebuah artikel dari Fatma Puri Sayekti yang diterbitkan Guru Belajar Edisi…
-

Pseudo-Literasi
Seberapa sering kita membicarakan literasi? Acap kali kita membicarakan tentang literasi tanpa tahu makna dan memahami apa itu literasi; bagaimana bentuk literasi; dan manfaat literasi. Kita semua latah untuk sepakat bahwa literasi penting untuk diimplementasikan. Apakah karena kekalahan Indonesia di dalam literasi membuat kita reaktif membicarakannya? Sebagaimana hasil survei yang dilaporkan lembaga asing memojokkkan Indonesia…
-

Aktivitas Membaca sebagai Budaya Tanding
Kehidupan saat ini tidak bisa dilepas dari internet. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat pada tahun 2018 pengguna internet di Indonesia mencapai 171,17 juta orang (64,8%) dari total populasi 264,16 juta orang. Jumlah yang besar. Hal yang berbeda justru ditunjukkan pada angka membaca di Indonesia. Budaya membaca masyarakat Indonesia sangat rendah berdasarkan laporan yang…
-

Ketika Tidak Menulis Dianggap Baik
Ketika menulis judul tulisan di atas saya dalam keadaan sadar. Sadar sesadar-sadarnya bahwa menulis adalah perbuatan yang tidak baik untuk ukuran hidup saat ini (budaya visual). Sebaliknya, tidak menulis justru dianggap sesuatu yang baik. Mengapa bisa begitu? Apakah tidak terbalik? Tidak. Budaya menulis kini banyak diabaikan karena beragam ketidaksukaan terhadap aktivitas ini. Banyak stereotip negatif…
-

Daerah Pemilihan ‘Nurani Kemanusiaan’
Beberapa pekan terakhir nusantara disesaki dengan berbagai macam narasi-narasi politik. Perbincangan mengenai agenda pesta domokrasi yang dilaksanakan 5 tahun sekali menjadi Trending Topic di mana-mana tanpa batasan profesi dan usia, mulai dari kalangan elit politik yang memang sehari-hari berkutat dengan persoalan tersebut, sampai ibu penjual kue keliling langganan yang setiap pagi datang menjajakkan jajanannya di…
-

Pesan Perdamaian dari Kasus Audrey
Setelah melakukan penyerahan salah satu Kotak Suara Keliling (KSK) dari hasil berkeliling mencari warga Indonesia di ladang-ladang sawit Tawau ke PPLN Tawau-Malaysia, saya bertemu dengan Bang Juned, guru CLC yang juga petugas KSK. Perbincangan kami akhirnya menyebut satu nama; Audrey. Kasus yang dialami Audrey ternyata telah viral di berbagai media sosial. Saya sendiri baru mendapatkan…
-

5 Hal yang Patut Disyukuri Alumni SM-3T saat Menjadi Guru CLC Sabah
Salah seorang dosen kami saat menjalani PPG di jurusan PGSD UNM, Ibu Widya Karmila Sari, pernah berkata bahwa kami adalah orang-orang yang memiliki pengalaman mewah. Mengapa beliau menyebutnya mewah? Alasannya ialah karena pengalaman hidup setahun di daerah 3T tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang. Kalimat dari Ibu Widya tersebut semakin menambah rasa kebanggaan kami…
-

Sabah Bridge Merawat Mimpi Anak TKI di Negeri Jiran
Salah satu hak mutlak yang dimiliki oleh anak ialah pemenuhan kebutuhannya akan pendidikan. Keinginan dari diri sendiri untuk melanjutkan pendidikan adalah pondasi paling dasar. Lalu bagaimana jika yang dimiliki hanyalah pondasi saja? Di Malaysia, dari 53.687 anak Indonesia yang ikut merantau bersama orangtua mereka, hanya 24.856 yang terlayani pendidikannya. Mereka mengenyam pendidikan di Pusat Belajar…
-

Destinasi Rindu
Kali kedua kupijakkan kaki di tanah Borneo, namun bukan lagi bumi Batiwakkal (Kabupaten Berau) di Bumi Mulawarman Kalimantan Timur yang menjadi destinasinya, melainkan Bumi Tambun Bungai (bahasa Sangen yang berarti pantang mundur) Kalimantan tengah, tepatnya di Kota Cantik Palangkaraya. Kalau kedatanganku sebelumnya untuk menjalankan amanah mencerdaskan anak bangsa di daerah tertinggal, maka kedatangan kali ini hanya dengan…