‘Merantau Tiga Hari’


Berada di pelosok Kalimantan jauh dari segala aktivitas keramaian menjadikan sebuah perjalanan ke luar dari kampung adalah hal yang langka sekalipun hanya ke kota kecamatan

Perjalanan ke sana hanya berjarak delapan kilometer dengan waktu tempuh satu hingga satu setengah jam. Jalannya berbukit-bukit tinggi. Genangan lumpur atau kami sebut patakan yang selalu hadir mewarnai perjalan menjadi suatu hal yang tidak tertinggalkan untuk diceritakan. Kalau sudah ada patakan, semua penumpang harus turun membantu mendorong mobil keluar dari genangan lumpur untuk melanjutkan perjalanannya.

Mobil yang kami kendarai termasuk bermerek dan mahal. Harus memakai double gardan, dan yang paling buat saya terkejut adalah biaya sewa kendaraan ini hingga satu juta rupiah sekali jalan untuk mengangkut siswa dan logistik selama mengikuti Ujian Nasional.

Agenda tahunan Ujian Nasional yang diselenggarangan di sekolah inti pada gugus induk yang berada di pusat kecamatan merupakan hari yang paling dinantikan. Delapan Sekolah Dasar siswa kelas enam beserta guru sekecamatan hadir. Hal ini juga dijadikan ajang silaturahmi guru-guru bahkan agenda rapat jika akan ada kegiatan ataupun penyampaian yang sifatnya menyeluruh. Akan tetapi bisa membuat aktifitas sekolah diliburkan selama ujian nasional, karena semua kepala sekolah dan guru wajib hadir menjadi Panitia Pelaksanaan Ujian Nasional.

Siswa mengikuti Ujian Nasional bagaikan sedang merantau jauh dari kampung. Orang tua siswa ikut hadir melepas keberangkatan anak-anak mereka dengan wajah sayu sedih dan berharap anaknya bisa mengikuti ujian akhir dengan lancar. Setiap orang tua siswa menyiapkan bekal untuk anaknya berupa beras, sayur, dan masing-masing dua ekor ayam kampung untuk lauk mereka di lokasi ujian.

Sebagai masyarakat kampung yang masih sangat kental adat-istiadat dan budaya Dayak ini, hal yang patut dilaksanakan adalah ritual permohonan izin oleh dukun kampung kepada leluhur agar semua yang ikut dalam perjalanan mendapatkan keselamatan dan kelancaran sampai kembali lagi ke kampung.

Seharusnya mereka bisa saja tidak merantau ke kota kecamatan untuk melaksanakan Ujian Nasional, karena di sekolah sendiri pun bisa dilaksanakan jika dua sekolah paling ujung kecamatan ini digabungkan akan mencukupi satu ruang dengan jumlah dua puluh orang siswa sebagai standar pelaksanaan ujian nasional.

Perhitungan biaya transportasi dan akomodasi setiap siswa sangatlah berat dengan penghasilan orang tua di bawah satu juta rupiah perbulannya. Hal ini juga sudah disampaikan oleh Koordinator Wilayah Dinas Pendidikan (dulu Kepala UPTD) kepada instansi terkait agar pelaksanaan Ujian Nasional bisa dilaksanakan di beberapa sekolah inti untuk menekan biayanya, akan tetapi hanya jawaban nanti dan nanti.

Semoga ke depannya harapan ini bisa terealisasi dan tidak perlu lagi ‘merantau tiga hari’ ke kecamatan 

Penulis : Ismail Hasanuddin

Ismail Hasanuddin , Total 2 Tulisan .

(Dikunjungi : 90 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda