*Amelia Elopere


Langit tampak berwarna kelam dan menunjukkan akan datangnya hujan. Daun-daun kasuari tergerak oleh hembusan angin lembah. Burung elang kian tenang mengudara di atas dan sesekali turun rendah menyambar tikus tanah.

Meskipun pahit, tapi ini adalah kenyataan. Siang itu Amelia Elopere meninggalkan dunia dengan tenang dan damai. Hal ini menjadi kehilangan bagi orang yang ditinggalkannya tak terkecuali oleh Ratna. Ratna tak kuasa menahan kesedihannya bila mengingat kebersamaan bersama siswanya tersebut. Di mata Ratna, Amelia Elopere adalah siswa yang sangat rajin dan tak menyerah. Bahkan di ingatan Ratna, Amelia adalah siswa pertama yang mengikuti jam tambahan di luar sekolah atau biasa disebut “LES”. Pernah waktu itu siswa lain tidak mengikuti les yang ada hanya Amelia saja. Hal ini dilihat Ratna sebagai bentuk semangat yang tidak dimiliki siswa lainnya. Ratna pernah bertanya kenapa Amelia selalu hadir dalam les tambahan? Tidak seperti teman yang lain. Padahal kebanyak anak seusia Amelia itu jika sore hari kewajiban utamanya adalah membantu mama (orang tua perempuan) berkebun. Hati Ratna bergetar begitu mendengar jawaban Amelia “karena ko mau kasih sa ilmu dengan kasih,” lanjutnya “ko tra marah kalo sa kurang bisa membaca. Sa ingin sekali lancar membaca, menulis, dan berhitung bu guru seperti Isak Wenda, Yohannes Walilo, Dani Asso, dan lainnya.”

Sebagai guru adalah hal yang mutlak untuk mengetahui kemampuan kognitif dan perkembangan pribadi masing-masing siswanya. Tak terkecuali Amelia. Ratna tahu siswanya tersebut memiliki kelemahan dalam hal membaca, menulis, dan berhitung. Amelia selalu senyum kepada Ratna jika ia diberikan kesempatan untuk membaca di kelas dan sesekali terdengar ia terhenti membaca karena membutuhkan waktu untuk mengeja. Tidak hanya di sana, kesempatan lain pun sering diberikan Ratna untuk Amelia ketika diminta menuliskan di papan tulis. Setelah selesai menulis, Ratna melihat seringnya huruf yang ditulis Amelia letaknya terbalik sebagaimana mestinya. Meskipun tertinggal dari teman-teman yang lain, Ratna melihat semangat Amelia untuk terus belajar sangatlah tinggi.

Kembali dalam benak Ratna masih teringat momen tak terlupakan bersama siswanya. Kabut masih menyelimuti tanah Baliem. Cericit burung-burung dari atas pohon kasuari terdengar berisik sekali. Pagi hari sekali pintu rumah Ratna diketuk dan terdengar suara panggilan “bu guru, permisi.” Ternyata di luar ada Amelia dan mamanya setelah Ratna membukakan pintu.  “Ayo masuk,” ajak Ratna kepada keduanya. “Tra usah bu guru,” jawab mama Amelia “kitorang sebentar saja jadi. Ini sa ada bawa sayur dan noken untuk ibu guru,” seraya menyerahkannya kepada Ibu Ratna. “Sa berterima kasih kepada ibu guru karena sa lihat Amelia su bisa membaca lancar,” ungkap mama Amelia bahagia “kemarin malam Amelia pu bapa ada kasih dia latihan membaca dan Amelia sungguh dia bisa baca dengan baik dan lancar,” lanjut mama Amelia beri penjelasan. Amelia yang berada di samping mamanya terlihat senyum manis sambil sesekali menggigit jari ketika mamanya menyampaikan hasil usaha belajarnya bersama ibu Ratna. Ratna yang mendengar penyampaian mama Amelia sama-sama menyampaikan terima kasih karena hal tersebut berkat semangat juang Amelia sendiri yang ingin belajar lebih dibanding teman lainnya yang mengakibatkan ia bisa membaca saat ini.

Kematian adalah bentuk penyempurnaan panggilan cintaNYA

Suara tangis terdengar di rumah duka. Ramai masyarakat datang melayat dan membawa serahan seperti bahan makanan, beras, ayam, babi, dan lainnya. Seorang pria berpidato pelepasan jenazah yang letaknya bersebelahan bersama pastor. Pria tersebut adalah Bapa (orang tua laki-laki) Amelia dan di akhir pidato ia katakan “Amelia pergi dalam kedaaan belum menamatkan pendidikannya. Maka kepada orang tua yang masih memiliki anak harus menamatkan pendidikannya karena pendidikan itu penting.” Hati Ratna tergetar dengan apa yang ia dengar barusan. Emosinya tergerus. Matanya basah. Air matanya jatuh dan sesekali ia usap.

Kini Ratna melihat siswanya tersebut sudah terbaring di atas kayu kering. Amelia dikremasi. Api menjilati tubuh Amelia yang berpakaian seragam sekolah lengkap bersama topi, dasi, dan sepatunya. Amelia telah pergi tapi dalam hati Ratna siswanya tersebut tetaplah hidup dan senyumnya yang manis akan selalu lekat dalam benak. Selamat tinggal Amelia. Beristirahatlah dengan damai.

**bukan kematian benar menusuk kalbu,

keridlaanmu menerima segala tiba,

tak ku tahu setinggi itu atas debu, dan

duka maha tuan bertakhta.

 Pekanbaru, 20 Januari 2019

*Amelia Elopere siswa Kelas VIII SMP Negeri 4 Wamena yang meninggal karena sakit

**Nisan-Chairil Anwar

Penulis : Reby Oktarianda

Reby Oktarianda , Total 36 Tulisan .

(Dikunjungi : 50 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda