Ketika Tidak Menulis Dianggap Baik


Ketika menulis judul tulisan di atas saya dalam keadaan sadar. Sadar sesadar-sadarnya bahwa menulis adalah perbuatan yang tidak baik untuk ukuran hidup saat ini (budaya visual). Sebaliknya, tidak menulis justru dianggap sesuatu yang baik. Mengapa bisa begitu? Apakah tidak terbalik? Tidak. Budaya menulis kini banyak diabaikan karena beragam ketidaksukaan terhadap aktivitas ini. Banyak stereotip negatif yang disematkan dari aktivitas menulis, satu di antaranya menulis merupakan pekerjaan yang membosankan sementara bermain game online menyenangkan.

Ketika diberikan tugas menulis, akan banyak ekspresi yang beragam muncul saat itu. Paling banyak ditemui adalah ekpresi kecewa. Sembilan dari sepuluh orang merespons “kenapa harus menulis?”. Angka yang besar merepresentasikan ketidaksukaan terhadap menulis. Oke, saya berlebihan untuk kasus riset tersebut (fiktif) jadi lewatkan saja. Namun, sejauh ini apakah kita sepakat bahwa menulis bukan sesuatu yang disenangi? Tak perlu dijawab keras. Cukup dengan senyuman berarti “ya”.

Jika kita memuat “inventarisasi alasan” mulai dari urutan atas hingga ke bawah tentang mengapa aktivitas menulis tidak disenangi, maka urutan nomor satu yang akan kita temui adalah “saya tidak bisa menulis”. Pelbagai alasan lainnya membuat alasan tersebut menjadi legenda. Oh iya kita hampir melewatkan urutan alasan terbawah. Yap ini dia alasannya “saya tidak minat”. Tidak bisa tak sebangun dengan tidak minat. Tidak bisa, namun memiliiki minat maka akan menulis. Tidak minat maka tidak akan ada menulis.

Saya tidak bisa menulis? Apakah benar? Tidak. Semua orang bisa menulis. Kesungguhan (minat) merupakan satu dari dua syarat untuk menulis, yang pertama sayangnya adalah bakat. Tapi hal ini (bakat) jangan dianggap sebagai penghalang. Memang seseorang diberi karunia oleh Tuhan berupa bakat dalam suatu bidang. Tapi akan berbeda cerita, apabila berbakat, tapi tak pernah tergali dan tercoba maka akan sia-sia hasilnya. Jika kita dirasa tidak memiliki bakat dalam menulis, setidaknya masih ada kesungguhan sebagai syarat kedua untuk kita tekuni dalam menulis. Merasa tidak berbakat, tapi terus diasah dan digali hasilnya tak akan sia-sia. Dalam banyak kasus usaha tak pernah mengkhianati hasil.

Menulis tidaklah berat. Kita bisa menulis dengan hal yang ringan. Menulis aktivitas keseharian misalnya. Mungkin ini sudah banyak kita tinggalkan, padahal dulu sangat sering kita lakukan. Semasa kecil, kita sangat gemar menulis di buku harian (diary) yang sifatnya privasi. Tentang apapun, dari yang kita rasa; kita lihat; kita dengar; dan kita makan pokoknya kita sangat rajin mengisi buku diary dari satu halaman ke halaman berikutnya. Tak lupa, kadang kita mengunci diary dengan sebuah gembok. Mungkin hal itu pula yang menginspirasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengunci kotak (kardus) suara dengan gembok. Yang ini intermezo, jadi jangan diambil serius.

Sejauh ini saya menulis tulisan di atas sebenarnya tidak untuk mengajarkan Anda bagaimana kiat mudahnya menulis. Barang tersebut banyak tersedia di pelbagai platform sosial media dan Anda tinggal mengaksesnya saja. Tapi setidaknya, setelah membaca ini buatlah tulisan sederhana dari hasil kerjasama (olahan) otak, hati, dan jari-jemari anda!

Jika banyak yang menghabiskan waktu memainkan gawai ketimbang menulis, sungguh kita hidup di negara yang sama.

Pekanbaru, 17 Juli 2019

Sumber ilustrasi gambar: unsplash.com

Penulis : Reby Oktarianda

Reby Oktarianda , Total 39 Tulisan .

(Dikunjungi : 34 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
1
Sangat Suka

Komentar Anda