Kategori: SM-3T
-

Salahmu Bukan Masalah, Nak
Pagi kami masih ditemani mendung dan rintik hujan ketika jam pelajaran pertama saat itu adalah matematika. Meskipun demikian semangat murid-murid untuk belajar masih tinggi. Bahkan sepertinya lebih tinggi dariku yang tergopoh-gopoh memasuki pelataran sekolah yang dipenuhi genangan air dengan menggendong tas, membawa payung, dan menenteng plastik berisi sepatu. Hari itu aku memakai sandal jepit. Murid-murid…
-

Sekolah di Atas Bukit
Pagi itu tanggal 31 agustus 2014, cuaca cukup cerah menyinari seluruh sisi Hotel Sanggam yang berada di Kota Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Ini adalah hari ketiga saya menghela napas di tanah yang dijuluki Borneo, tanah yang baru pertama kali saya kunjungi sepanjang saya mengenal dunia ini. Ingatan akan tangis dan kesedihan keluarga…
-

Menjaga Hubungan Kemasyarakatan melalui Kegiatan Positif
Guru adalah salah satu profesi yang memiliki sumbangsih besar terhadap pembangunan bangsa ini. Dengan adanya guru SM-3T dapat memberikan angin segar terhadap pemerataan pembangunan SDM di seluruh pelosok Indonesia. Memang menjadi seorang guru dituntut memiliki keahlian khusus karena memiliki tantangan tersendiri. Apalagi bagi seorang guru SM-3T yang mengabdi di pelosok, di mana tempat mereka mengabdikan…
-

Menyemai Pendidikan di Hulu Sungai Kelay
Deru mesin ketinting yang memekakkan telinga. Percikan air yang menerjang pada sisi kanan kiri. Terik matahari yang menyengat, hingga debaran jantung yang tak karuan setiap saat. Kau tau rasanya berada dalam posisi itu selama satu jam? Kurang lebih satu jam kami harus menanggung hal itu sebelum sampai diperkampungan dayak yang akan menjadi tempat tugas kami…
-

Suga yang Katanya Surga
Pagi menjelang, jam dinding yang sejak subuh tadi selalu kupandangi agar menandakan di luar tak lagi gelap akhirnya telah menunjukkan pukul 5.30 WIT. Aku membangunkan Ibu Damaris dan Ibu Lin yang masih sibuk dengan mimpi panjangnya. Mereka adalah rekan guru yang mengajar di SMP Negeri Kaitaro. Pagi-pagi sekali kami mesti bergegas untuk berangkat ke Kampung…
-

SM-3T dan Kisah Awal Tentangnya
Hari masih subuh ketika aku akan berangkat menuju kampus Universitas Negeri Medan (Unimed). Aku melangkah dengan sedikit memburu lalu berlari kecil mengejar becak motor yang melintas. “Ke Unimed berapa, Bang?” tanyaku. Pemilik becak celingak-celinguk. Hari masih begitu pagi, barangkali ia masih mengantuk. “Sepuluh ribu saja,” jawabnya cepat. “Delapan ribu ya, Bang,” tawarku sambil sedikit senyum. Menjadi…
-

Siswaku Guruku
Setahun menjadi guru SM-3T, justru dalam sepanjang tahun itu pula aku menjadi siswa. Iya, aku banyak belajar dan ‘diajari’. Saat aku memotivasi mereka untuk bermimpi, mereka justru memotivasiku untuk berkarya dan mandiri. Sebut saja noken, tas khas Papua. Anak-anak seusia sekolah dasar (SD) sudah begitu mahir untuk membuat tasnya sendiri. Benang-benang yang dirajut pun tidak…
-

Pesan di Atas ‘Oto’
Di tengah terik siang itu ‘oto’ yang kutumpangi melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali sopir menghentikan ‘oto’ untuk singgah mengambil barang di kios besar. Kulihat di bangku belakang mulai kosong, hanya tersisa lima orang penumpang. Bukan tidak banyak penumpang hari ini, tapi ‘oto’ itu hampir sampai di tujuan akhir di Kampung Sirimese. Bak belakang ‘oto’ ini…
-

Kampanye Pertamaku dalam Sejarah
Osis, begitulah seisi sekolah memanggil ketua Osis mereka. Rahman Marianus, adalah siswa kelas XII IPA yang saat ini menjabat sebagai ketua dari seratus lebih siswa di sekolah itu, SMA Negeri 1 Pulau Banyak. Selain sebagai seorang ketua osis, dia juga merupakan kapten tim bola SMA juga di klub tempat dia bernaung. Sudah satu tahun lebih…
-

Perpisahan Berulang bagi Reflans
“Bu guru su mau pulang ke Makassar kah?”, tanya Reflans dengan nada serius. Reflans adalah anak yang paling komunikatif menurutku. Dia bisa berbicara sebanyak apapun yang dia mau. Mengungkapkan apapun yang ada di kepalanya. Mengomentari sesuatu yang menurutnya tidak masuk akal dalam logikanya. Juga menanyakan hal-hal yang baru saja dia dengar tanpa sengaja. “Iya Nak”, jawabku…