Sekolah di Atas Bukit


Pagi itu tanggal 31 agustus 2014, cuaca cukup cerah menyinari seluruh sisi Hotel Sanggam yang berada di Kota Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Ini adalah hari ketiga saya menghela napas di tanah yang dijuluki Borneo, tanah yang baru pertama kali saya kunjungi sepanjang saya mengenal dunia ini. Ingatan akan tangis dan kesedihan keluarga beberapa hari sebelumnya masih membayangi. Ketika mereka satu persatu memeluk erat tanpa sepatah kata. Rasa sedih mereka telah sirna, usai saya mengabarkan bahwa saya tiba dengan selamat tanpa berkurang apapun.

Terdengar beberapa langkah lalu-lalang di depan kamar hotel sambil menarik koper masing-masing. Saya yakin koper-koper itu berisi segala macam harta karun yang mereka bawa dari kampung halaman. Mereka telah siap rupanya. Tanpa berpikir panjang, saya pun berdiri menggandeng barang bawaan saya, kemudian bergegas meninggalkan kamar menuju lobi hotel yang berada di lantai dasar.

Berbagai ekspresi yang saya temui pagi itu cukup beragam, ada yang berseri-seri, gugup, bahkan ada yang masih ngantuk. Namun semuanya melebur menjadi satu bahwa di pagi yang cukup cerah dan mulai menghangat ini kami sebagai orang-orang terpilih akan memulai petualangan hebat atas pilihan kami beberapa waktu yang lalu. Petualangan yang akan menjadi sejarah bahwa kami pernah menjalani sesuatu yang hebat di tanah yang terkenal sebagai paru-paru dunia.

Nama saya adalah Samsuriadi, salah satu peserta Program Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM-3T) angkatan keempat dari LPTK penyelenggara Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Universitas Negeri Medan (Unimed) di bawah naungan Kemristekdikti yang direkrut dan dikirim ke Kabupaten Berau untuk memenuhi kebutuhan guru di beberapa sekolah yang terletak di wilayah terpencil. Kami akan bertugas selama kurang lebih setahun sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam usaha mewujudkan pemerataan pendidikan dan penyiapan guru profesional.

Terik matahari yang mulai terasa disertai peluh yang perlahan membasahi tubuh seakan menjadi ucapan selamat datang  bagi saya dan ketiga rekan baru saya yakni Supardin, Nirwan Saputra Lubis, dam Ahmad Suandira. Mereka terlihat sibuk menerka-nerka tempat seperti apa yang akan kami datangi. Kini kami duduk di dalam mobil avanza silver berplat KT 1669 GA yang menjemput kami di hotel tadi. Kami akan memulai perjalanan menuju lokasi sekolah yang akan menjadi tempat kami bertugas.

Deru mesin yang terus melaju di bawah terik matahari Kota Tanjung Redeb bercampur dengan aroma khas polusi udara cukup menggambarkan bahwa kota ini adalah kota yang cukup maju. Saya terus menatap penasaran dari balik jendela mobil yang terlihat berdebu seperti apa rupa kota yang namanya saja baru saya dengar ketika pengumuman lokasi penempatan saat masih prakondisi. Perlahan dari suasana kota yang ramai berubah menjadi daerah pinggiran yang tampak sepi. Kini mobil yang kami tumpangi sepertinya melenggang bebas di arenanya, melaju hingga kecepatan yang seolah mendendangkan lagu nina bobo yang sangat menggoda. Sesekali saya melirik ke arah pengemudi melalui kaca spion.

Pengemudi itu bernama pak Hikmat, sebelumnya beliau telah memperkenalkan diri saat menjemput kami di hotel. Gaya bahasanya yang lucu cukup membuat saya tertipu karena awalnya mengira pria berusia 30 tahunan ini hanyalah sopir yang ditugaskan semata mengantar kami ke lokasi. Namun setelah berbincang lama, saya baru tahu bahwa beliau juga adalah salah seorang guru yang mengajar di sekolah tempat kami akan mengabdi. Satu persatu pertanyaan pun mulai kami lontarkan ke pak Hikmat mengenai kondisi dan suasana di kampung tujuan kami. Dari mulutnyalah kami mengenal nama kampung Muara Lesan dan SMP Negeri 10 Berau, nama yang mulai menggerayangi seluruh pikiran kami di sepanjang perjalanan.

Pesona jajaran pohon yang menari-nari dari balik kaca mobil seolah menjadi tanda dari mereka bahwa kami mesti siap dengan dunia baru yang akan kami temui. Perlahan saya menyadari, seiring dengan udara sejuk yang mulai membasuh kulit ada hal yang juga perlahan menghilang yaitu tanda sinyal di pojok atas layar ponsel. Mungkin Pardin, Nirwan dan Ahmad juga sudah mulai menyadari hal itu, terlihat jelas dari kegusaran mereka yang sesekali melirik dan mengotak-atik ponselnya meski paham itu tak berguna.

Di sepanjang perjalanan, kami menjejali pak Hikmat dengan berbagai macam pertanyaan. Selama perbincangan hangat itu, beliau lebih asyik menceritakan kisah-kisah pengalaman hidupnya. Sesekali menyebut nama guru-guru lain di SMP Negeri 10 Berau, seakan menambah penasaran kami.

”Kalian akan tahu sendiri keadaan di kampung dan sekolah kita nanti,” ucapnya yang membuat kami makin penasaran.

Tak terasa jalanan yang tadinya masih beraspal berubah drastis menjadi jalan bergelombang yang hanya bermaterialkan pasir dan tanah. Pak Hikmat dengan cekatan mengarahkan setir mobil berbelok ke arah kiri menuju jalan sempit yang di bagian kiri kanannya hanyalah tebing dan pohon pohon besar. Adrenalin saya sedikit digoda ketika perjalanan kami hanya diisi tebing, hutan, dan jurang yang berkelok-kelok. Saya pernah melihat hal seperti ini namun di film-film action seperti Indiana Jones dan  Tarzan. Setibanya di ujung jalan, kami makin terkejut karena di depan kami terhampar pemandangan yang cukup luar biasa. Terlihat sebuah sungai yang sangat besar, kemudian kami kenal dengan nama Sungai Kelay. Satu dari dua sungai besar yang membelah Kota Tanjung Redeb.

“Sudah siap berenang Bro?” saya sedikit menggoda Pardin. Kami bercanda dan tertawa sekedar menghibur diri.

Cara kami melewati sungai ini cukup unik, karena menggunakan jasa perahu bermesin tempel “ponton” begitu masyarakat setempat menyebutnya. Kami pun dibawa menyeberangi sungai sembari menikmati warna air yang keruh kecoklatan menandakan bahwa di hulu sungai sedang hujan deras.

Tibalah kami di Muara Lesan, perjalanan yang cukup seru tadi telah terlewati. Usai kami beranjak dari perahu ponton tersebut, kini di hadapan kami terlihat jelas sebuah area seluas lapangan sepakbola namun dipenuhi oleh tumpukan batang kayu super besar.

“Inilah hasil operasi hauling salah satu perusahaan kayu yang beroperasi di wilayah Kampung Muara Lesan,” jelas pak Hikmat seolah paham kebingungan kami.

Kampung Muara Lesan ternyata terbagi dua, yaitu kampung lama yang penduduknya mulai berkurang dan dikenal dengan ilir atau laut, sedangkan kampung satunya lagi adalah kampung ulu yang merupakan wilayah camp perusahaan dan di sinilah kami akan tinggal. Kedua wilayah kampung tadi dipisahkan oleh area luas yang disebut logpon. Kampung ini adalah kampung yang tertinggal dikarenakan segala macam infrastruktur belum tersedia semisal akses jalanan yang belum memadai, aliran listrik yang hanya mengandalkan generator listrik itupun mengandalkan suplai bahan bakar dari hibah perusahaan, dan akses jaringan telekomunikasi yang hampir tidak ada.

Penduduk Kampung Muara Lesan yang awalnya  saya kira dihuni oleh masyarakat dayak ternyata sebagian besar adalah suku Berau Melayu yang merupakan suku asli Kabupaten Berau, sedangkan sisanya adalah suku-suku lain seperti suku dayak, banjar bahkan bugis. Wilayahnya berada di pinggir hulu sungai Kelay di tengah hutan Tropis Kalimantan Timur. Jalanan menuju rumah yang akan kami tinggali berupa jalanan berbatu yang diapit deretan rumah warga disisi kanan dan kiri.

Akhirnya kami tiba di wilayah perumahan. Kami disambut oleh dua perempuan yang telah menunggu kami, mereka adalah ibu Hermin dan ibu Anti, guru SMP negeri 10 Berau yang ternyata berasal dari Toraja.

***

Senin pagi, matahari kembali menyapa kami dari ufuk timur. Setelah tertidur pulas bersama heningnya malam, kini kami disuguhi suasana khas kampung yang cukup menyejukkan. Kehidupan penuh tantangan kami pun dimulai dengan mandi di sungai yang cukup keruh. Kedepannya kami pasti akan terbiasa dengan hal ini. Setelah sarapan, kami pun bersiap dan berpakaian rapi lengkap dengan jas dan topi yang berlogo SM3T. Kami telah siap memulai tugas perdana kami sebagai guru di SMP Negeri 10 Berau. Ibu Hermin dan ibu Anti telah menunggu sejak tadi, perjalanan ke sekolah pun dimulai.

Rasa penasaran coba saya hilangkan dengan menanyai lokasi sekolah ke siswi yang saya temui diperjalanan. “Sekolahnya dimana, Dek ? tanyaku sambil menyeringai.

“Di sana pak,” telunjuknya mengarah ke atas bukit.

Ibu Hermin yang melihat saya pun menjelaskan kalau sekolahnya memang letaknya di atas bukit dan terpisah dari wilayah kampung. Untuk mencapai sekolah kami melalui sebuah jalanan setapak yang membelah hutan dan mendaki. Di sepanjang jalan, kami mendengarkan ibu Hermin yang menyampaikan kegembiraannya atas kedatangan kami. Tidak terasa akhirnya kami tiba di puncak bukit. Kami memasuki wilayah dataran yang cukup luas, di hadapan kami terlihat berjejer beberapa bangunan yang cukup tua. Dari papan nama yang tertera, kami dengan jelas membaca identitas SMP Negeri 10 Berau. Saya, Pardin, Nirwan, dan Ahmad saling berpandangan sembari saling melempar senyuman dengan perasaan takjub.

“Sekolah di atas bukit,” seru kami bersemangat.

SMP Negeri 10 Berau adalah sekolah menengah pertama yang berdiri di Kecamatan Kelay. Sekolah ini mulai berdiri pada tahun 1986 yang pada saat itu Kampung Muara Lesan masih menjadi Pusat Kota Kecamatan Kelay sehingga seluruh masyarakat Kecamatan Kelay dulunya melanjutkan pendidikannya sekolah ini. Di masa awal berdirinya sekolah ini, disebutkan sebagai sekolah yang sangat mewah pada jamannya dikarenakan kondisi bangunannya yang megah dan suasana kampung yang masih ramai. Namun semua perlahan berubah ketika ibu kota Kecamatan Kelay dipindahkan ke kampung Sido Bangen yang lokasinya jauh lebih strategis. Saat ini yang tersisa dari kemegahan bangunan sekolah hanyalah kekokohan kayu ulin yang menjadi simbol dari tanah borneo.

Sebagai peserta SM3T, kami melalui banyak hal di sekolah ini. Berbagai tantangan kami lewati dan nikmati dengan tulus selama setahun mengabdi. Jumlah peserta didik yang hanya berjumlah 24 orang dari tiga rombel ini tidak menyurutkan tekad anak-anak di daerah terpencil untuk tetap bersemangat dalam belajar. Ketersediaan sarana pembelajaran juga sangat minim semisal buku pelajaran. Mereka bercerita sebelum kedatangan kami, suasana sekolah kadang tak menentu dikarenakan seringnya guru-guru yang tidak hadir karena tengah berada di kota. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya jalur komunikasi maupun akses transportasi umum ke daerah ini sehingga guru-guru yang berada di kota dan ingin kembali ke wilayah ini hanya bergantung terhadap mobil perusahaan yang juga kadang tak menentu kedatangannya.

Sekolah ini telah melahirkan banyak orang-orang sukses dan kami berharap agar sekolah ini tetap ada. Setelah purna tugas kami sebagai pendidik SM3T pada tahun 2015 lalu, tentu masih membekas kesedihan dan kerinduan terhadap sekolah ini. Sekolah ini adalah saksi kerasnya perubahan jaman, namun semangat sekolah ini tetap ada bahkan bisa bertahan melewati masa tersulit demi melakukan tugas mulianya mencetak dan mendidik generasi penerus bangsa. Kerinduan akan pesona sisa-sisa dari kemegahan sekolah beserta orang-orangnya akan selalu terpatri dalam hati dan pikiran kami. Salam rindu dari kami SM3T angkatan empat untuk keluarga SMP Negeri 10 Berau, Kampung Muara Lesan, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau.

Penulis : SAMSURIADI

SAMSURIADI , Total 2 Tulisan .

(Dikunjungi : 98 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda