SM-3T dan Kisah Awal Tentangnya

Hari masih subuh ketika aku akan berangkat menuju kampus Universitas Negeri Medan (Unimed). Aku melangkah dengan sedikit memburu lalu berlari kecil mengejar becak motor yang melintas.

“Ke Unimed berapa, Bang?” tanyaku. Pemilik becak celingak-celinguk. Hari masih begitu pagi, barangkali ia masih mengantuk.

“Sepuluh ribu saja,” jawabnya cepat.

“Delapan ribu ya, Bang,” tawarku sambil sedikit senyum. Menjadi anak kos hampir lima tahun membuatku terbiasa berhemat. Tawar-menawar ongkos becak adalah salah satu bagian dari pengiritan,  itu menurutku. Si abang becak segera mengiyakan. Setelah membantuku mengangkat koper yang cukup berat, becak melaju.

Pukul 04.45 WIB aku tiba di Gelanggang Mahasiswa. Melihat kakakku di sana membuat dadaku sesak. Meskipun hanya setahun, perpisahan tetap menyedihkan. Mataku berkaca-kaca. Kucoba menyibukkan diri, mempersiapkan hal-hal yang harus dibawa, termasuk membuat penanda koper supaya tidak kebingungan saat sudah tiba di Bandara.

Hari itu, tanggal 02 September 2016, 65 orang sarjana muda akan diberangkatkan dari Universitas Negeri Medan (Unimed) untuk mengabdi di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) tepatnya di Provinsi Bengkulu, Kabupaten Seluma. Meski sudah ditetapkan sebelumnya pukul 05.00 WIB harus sudah berangkat, pada akhirnya kami berangkat sekitar pukul 05.45 WIB dari Gelanggang Mahasiswa H. Anif, Unimed.  Pengunduran waktu seperti itu sudah menjadi hal biasa dan menjadi pendeskripsian seberapa tidak disiplinnya penduduk negeri ini. Dan itu sudah menjadi hal yang bisa dimaklumi karena memang sudah membudaya.

Bus menuju bandara sudah melaju ketika aku melihat kakakku menghapus air matanya. Aku tersenyum menguatkan hati namun mataku tetap berkaca-kaca. Aku mengirimkan pesan ke bapak melalui ponsel mengabarkan bahwa aku sudah di bus dan berangkat hari ini.

Hati-hati, Nak. Semoga selamat sampai tujuan. Ketika nanti sudah sampai di sana jaga diri baik-baik dan ingat, setiap orang yang kamu temui adalah keluarga, bersikaplah baik. Tangisku pecah membaca balasan Bapak.

Tidak bersama mereka selama setahun sudah menjadi hal biasa bagiku sejak aku kuliah sejak tahun 2011. Namun, tidak merayakan Natal dan Tahun Baru bersama keluarga itu belum pernah aku rasaka. Pasti akan sangat sedih melaluinya di sana kelak. Aku pergi ke daerah yang sama sekali tidak pernah kutahu. Ke sebuah tempat yang bahkan belum pernah aku dengar di pelajaran IPS sekalipun. Seluma, bagiku seperti negeri asing yang sulit didefinisikan.

Hampir pukul 09.00 WIB rombongan tiba di Bandara Kuala Namu. Beberapa peserta SM-3T diberangkatkan oleh orang tua dari bandara. Aku melihat beberapa orang tua dan keluarga yang menangis. Membiarkan anaknya pergi ke sebuah daerah yang disebut 3T selalu membuat orang tua cemas, ditambah lagi banyak cerita dari angkatan sebelumnya tentang daerah penempatan yang begitu berbahaya.

Ombak yang harus diterjang, derasnya arus sungai yang harus dilewati, daerah rawan gempa, hutan belantara yang harus ditempuh. Semua itu bukan hanya cerita fiksi, melinkan kenyataan yang memang harus kami hadapi kelak demi mendidik daerah di pedalaman. Meski raga dan mental kami sudah dipersiapkan untuk itu, namun tetap saja ada rasa khawatir saat membayangkannya.

Aku merasakan kesedihan yang begitu nyata, memikirkan banyak hal yang akan kulalui tanpa orang tua lalu membayangkan mereka saat itu ada di sana. Aku tahu, mereka juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh orang tua peserta SM3T lainnya. Bagiku, inilah perjuangan dan inilah pengabdian.

Pukul 10.00 WIB kami berangkat dari Kuala Namu Airport dan transit di bandara Soekarno-Hatta, Banten. Di sana kami beristirahat beberapa jam sebelum menuju Bengkulu dan tiba sekitar pukul 16.00 WIB.

Kami disambut hangat oleh pemerintah daerah Kabupaten Seluma dan juga dari Dinas Pendidikan Seluma. Karena hari sudah terlalu sore, kami bermalam di hotel Nala Sea Side, Bengkulu. Acara hiburan berlangsung meriah seusai acara makan malam. Beberapa rekan SM-3T menyanyikan lagu Sitogol yang merupakan lagu daerah dari Sumatera Utara.

Pagi harinya, di Bengkulu, daerah yang begitu asing bagiku, aku diajak Cyauni, rekan SM-3T ke pantai. Kami menelusuri pinggiran Pantai Panjang yang begitu indah. Udaranya yang sejuk dan suara gelombang air laut yang begitu menggema membuatku terpesona. Pesona negeri yang begitu indah. Kekayaan alam yang membuat negara lain iri. Aku menikmati hal baru ini, namun sayangnya aku semakin merasa berada dalam keterasingan. Sunyi yang begitu nyata yang membuat tangisku pecah.

Sebelum berangkat, aku mengabari kakakku bahwa sebentar lagi kami akan menuju kabupaten Seluma. Setelah sarapan pagi, kami bersiap-siap berangkat. Perjalanan dari provinsi ke kabupaten sekitar 2 jam. Di kabupaten kami disambut lagi dengan acara Penyambutan Guru Pengabdian SM3T. Selain oleh bagian dinas, kepala sekolah tempat kami mengabdi juga ada di sana. Merekalah yang nantinya membawa kami ke daerah pengabdian yang sesungguhnya.

03 September 2016, enam puluh lima orang sarjana muda duduk di salah satu gedung dinas pendidikan Seluma. Mereka adalah para sarjana yang memiliki kerinduan untuk berbagi ilmu. Datang dari jauh untuk menentaskan kemiskinan pendidikan yang ada di negeri ini. Jauh dari orang tua, jauh dari sahabat, jauh dari zona nyaman.

Enam puluh lima sarjana muda yang mengikuti acara Penyambutan Guru Pengabdian SM3T itu duduk dalam suasana khusyuk. Acara penyambutan dinas membuat suasana kian haru mengatakan rasa bangga akan keberanian kami karena telah datang ke tempat ini untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan di daerah Seluma yang masih tergolong rendah.

Acara penyambutan diakhiri dengan pembacaan nama sekolah tempat kami mengabdi. Beberapa menit kemudian, aku tahu bahwa aku ditempatkan di SMP N 13 Seluma. Aku segera menjumpai kepala sekolah bersama seorang teman dari jurusan Pendidikan Geografi. Kami berkenalan singkat.

“Ria Vani Paulita Sembiring,” ujarnya sambil mengulurkan tangan.

Kami berdua tahu, ini adalah awal cerita perjalanan pengabdian di daerah ini setahun ke depan.