Doa Mereka Sama

Hujan tumpah bumi basah.

Hujan jatuh bumi tumbuh.

Selamat datang engkau pelangi.

Selamat datang hati nan bersemi.

Semesta berkonspirasi untuk menyatukan dua hati. Hati nan bersemi siap untuk saling berbagi; saling peduli.

Pagi yang basah Rianda bergegas menuju ke Kampung Niniki. Maksud hati hendak menemui Ratna. Janji menemui Ratna sudah diucapkannya saat di RS dahulu. Kini satu bulan telah berlalu. Waktu yang lama untuk menepati janji. Adakah Ratna masih ingat janji itu?

Usai jam sekolah Ratna bergegas menuju rumah. Dari kejauhan, ia melihat ada seseorang menunggu di depan rumahnya. Seorang lelaki. Tampak lelaki tersebut sedang duduk menghisap rokok. Hampir dekat menuju rumah Ratna setengah kaget. Jantungnya berdebar. Pipinya putih nampak seketika merah padam kala lelaki itu memanggil namanya.

“Siang Ratna,” sapa Rianda.

“Siang,” balas Ratna gugup.

“Aku datang untuk menepati janji. Aku harap kedatanganku tidak mengganggu waktumu.”

“Oh tidak apa. Aku juga senang ada yang datang mengunjungi,” balas Ratna sembari meminta Rianda masuk ke dalam rumah.

Ratna senang dikunjungi terlebih senang perihal janji yang ditepati. Jika “cinta” letaknya di kondisi batin. “Mencintai” letaknya di perjuangan; tindakan. Bukankah janji ditepati merupakan suatu tindakan?

“Apa kabar kamu Nda? Apa typusmu sudah tidak kambuh lagi?” tanya Ratna mengawali pembicaraan sambil menyuguhkan kopi.

“Alhamdulillah kabarku sehat. Soal typus aku malah berharap kambuh lagi,” jawab Rianda.

“Gila. Di mana-mana orang harapannya sehat, eh ini malah minta sakitnya kambuh. Gila kamu,” ucap Ratna dengan ketus.

“Jika typusku kambuh ada kamu yang rawat. Hal itu yang buatku lebih bersyukur Na,” goda Rianda tersenyum.

Mendengar Rianda omong begitu membuat Ratna agak salah tingkah. Detak jantung kian hebat berdebar lagi.

Rianda senang melihat ekspresi Ratna yang salah tingkah itu.

“Kedatanganku juga di sini ialah meminta bantuanmu Na. Lusa kita kedatangan tamu dari Jakarta. Namanya Rahmean. Ia akan berkunjung ke Jayawijaya atas nama pegiat SM-3T.”

“Pegiat SM-3T itu apa?” tanya Ratna guna menghilangkan salah tingkahnya.

“Aku juga belum tahu pasti. Hanya saja tadi aku dihubungi oleh Rahmean bahwa kedatangannya untuk meliput kegiatan harian; aktivitas peserta SM-3T di Jayawijaya. Baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat,” jelas Rianda meyakinkan “oleh sebab kamu sudah membuat perubahan di sekolah ini dan dikenal baik masyarakat, aku coba nanti mengarahkan Rahmean untuk meliput kamu di kampung Niniki ini,” sambung Rahman.

“Baiklah, aku bersedia membantu,” jawab Ratna.

“Terimakasih Ratna atas kesediannya. Lusa esok aku akan menjemputnya di bandara. Lanjut setelah itu kami akan menuju ke Niniki.”

Sedang asik bercerita tetiba di luar terdengar suara memanggil-manggil.

“Bu guru..Bu guru…Oooooo Bu guru. Jadikah tidak kita cari buah Labu di kebun?”

“Jadi anak. Jadi. Aduh maaf ibu guru lupa. Tra ingat. Ada tamu jadi lupa oooooo cari buah Labu sama kalian,” balas Ibu Ratna menjawab keluar menemui anak-anak “Ibu guru boleh ajak Bapak guru inikah tidak?” sambung Ibu guru Ratna menunjuk Rianda di depan anak-anak.

“Ahhh boleh toh. Ajak sudah,” teriak Isak Wenda “iyo ajak sudah,” sahut anak-anak yang lain.

Jadilah sore itu Ratna, Rianda, dan anak-anak mencari buah Labu di kebun. Anak-anak bernoken riang menyanyi menyusuri jalan. Rianda berdoa agar malam tak segera melahap senja. Ratna berdoa agar sang waktu tidak segera menggugurkan senja.

Doa mereka sama.

 

Pekanbaru, 30 Mei 2018