Harta Karun dari Buku

Kabut pagi senantiasa menyelimuti Lembah Baliem setiap hari. Matahari tampak malu untuk merangkak lalu naik tinggi. Atap honai selalu terlihat berasap. Kerumunan babi tampak berlarian kecil di sekitaran silimo. Alam tak pernah bosan memberikan kesegarannya. Sejuk. Dingin

Berbicara tentang pagi, tahukah engkau bahwa pagi berjodoh dengan kopi? Aroma semesta pagi kurang sempurna bila tidak bercampur aroma kopi. Sungguh. “Srruuuppp” terdengar nikmat bunyi menyeruput kopi. “Srruuuppp mengalir nikmat dari lidah membekas di kerongkongan. “Srruuuppp” mengawali semangat pagi kuat sekali. Sepertinya hal di atas dipercayai oleh Ibu Ratna. Kopi menjadi menu wajib Ibu Ratna sebelum memulai aktivitas mengajar. Semangat pagi dari kopi sering kali berbuah inspirasi. Kali ini inspirasi itu muncul. Sekelebat Ibu Ratna mendapati ide untuk mengaktifkan perpustakaan sekolah.

SD Niniki memiliki satu perpustakaan sekolah berukuran 7×9 meter. Penggunaan ruang pustaka tidak berfungsi maksimal. Meja dan kursi tidak tertata rapi. Buku tampak berserakan. Lagi kegiatan di dalam pustaka belum berjalan semestinya. Tak jarang jika perpustakaan sekolah selalu dikunci; sehingga saat istirahat, siswa lebih banyak nongkrong bercerita di bawah pohon kasuari ataupun bermain bola di lapangan sekolah.

“Selamat pagi Bapak Kepala,” sapa Ibu Ratna.

“Oh Ibu guru. Pagi. Pagi. Silakan masuk dan duduk” jawab Bapak Kepala agak kaget. “Ada apa Ibu guru? Apa ada yang bisa saya bantu kah? Apa beras su habis?” tanya Bapak Kepala menggoda.

“Ah tidak Bapak Kepala. Beras masih aman oooo,” jawab Ibu Ratna sambil ketawa ringan. “Sa ada kemari mau bicara serius,”.

“Serius?” Bapak kepala tampak membenarkan duduknya. Silakan Ibu guru lanjut mau bicara soal apa?”

“Satu bulan sudah sa ada mengajar di sekolah toh Bapak Kepala. Selama itu juga sa lihat perpustakaan sekolah belum berfungsi baik. Sa ada usul ke Bapak Kepala. Kita hidupkan kembali perpustakaan. Boleh toh?” terang Ibu Ratna semangat. “Kalo perpustakaan berfungsi baik, siswa banyak peroleh manfaat. Dorang bisa banyak baca buku dan dorang juga dapat harta karun,” bujuk Ibu Ratna coba yakinkan Bapak Kepala.

“Ibu guru pu usul baik sekali. Sa setuju perpustakaan berfungsi sebagaimana fungsinya. Tapi nanti siapa yang mau urus itu setiap hari? Menata, membersihkan, dan merapikan. Kitorang belum ada pustakawan di sekolah ini,” keluh Bapak Kepala.

“Kitorang semua nanti yang atur baik pustaka toh Bapak Kepala. Asal ada kemauan semua bisa bajalan baik,” jawab Ibu Ratna dengan senyum.

“Kalo ibu guru sudah bicara seperti itu sa bisa apa coba?” balas Bapak Kepala luluh. Sepertinya hati Bapak Kepala luluh oleh senyuman manis Ibu Ratna. “Mari setelah pulang sekolah nanti kita semua guru dan siswa ikut merapikan dan membersihkan perpustakaan. Untuk segala urusan administrasi perpustakaan mulai saat ini ibu guru yang bertanggung jawab. Silakan ibu guru atur baik,” perintah Bapak Kepala. “Tapi tunggu dulu. Tadi ibu guru ada sebut dengan membaca buku bisa dapat harta karun. Itu bagaimana bisa?” heran Bapak Kepala.

“Benar Bapak. Melalui membaca buku kita bisa dapat harta karun. Harta karun itu adalah ilmu pengetahuan,” jawab Ibu Ratna.

Pekanbaru, 15 Februari 2018

Sumber photo: Fauzan