Hidup sebagai Abdi Pendidikan di Daerah 3T


Hidup di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) merupakan tantangan hidup yang sangat luar biasa. Hanya sedikit orang yang berani memilih tantangan ini. Mendatangi sebuah tempat baru yang terasing tentu menuntut kemampuan kita untuk bisa beradaptasi. Daerah 3T yang belum banyak orang datangi sehingga untuk referensi saja susah. Kemampuan untuk menyesuaikan diri semakin diuji dengan segala keterbatasan yang ada.

Hidup di daerah 3T mengharuskan kita hidup dalam kesederhanaan. Menurut Confucius : “Hidup itu sederhana, tetapi kita cenderung membuatnya rumit”. Kesederhanaan hidup lebih mendekatkan kita pada kebahagiaan, tetapi kita terkadang lebih memilih dan menonjolkan hidup yang kompleks.

Sebagai Alumni Sarjana Pendidikan, saya ikut terpanggil dalam program Pemerintah pada tahun 2011 yang diberi label SM-3T. Selama satu tahun ditempa dengan kondisi yang penuh dengan tantangan di pelosok Papua tepatnya Distrik Warsa Kabupaten Biak Numfor. Untuk menjadi guru profesional mengharuskan kami alumni SM-3T melanjutkan PPG (Pendidikan Profesi Guru) pada tahun 2013 dalam penyiapan guru masa depan.

Pada tahun 2014 pasca program PPG, saya tertantang untuk mengembangkan keilmuan di bidang pendidikan. Sehingga saya kembali melanjutkan pendidikan di PPs (Program Pasca sarjana) Universitas Negeri Makassar. Pada tahun 2015, melalui Program Pemerintah (CPNS GGD) kembali tertantang ikut andil untuk bersama mencerdaskan anak negeri di Pelosok Indonesia. Setelah melalui rentetan seleksi, akhirnya saya lulus di Provinsi Nusa Tenggara Timur tepatnya di SMP Negeri Satap Laitaku Kabupaten Sumba Timur.

Pendidikan anak di daerah 3T sangat membutuhkan guru-guru profesional. Guru yang benar-benar telah digembleng melalui proses yang panjang seperti GGD. Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual dan tubuh anak); dalam Taman Siswa tidak boleh dipisahkan bagian-bagian itu agar supaya kita memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya (Ki Hajar Dewantara, 1977:14).

Secara singkat pendidikan dapat dirumuskan sebagai tuntunan pertumbuhan manusia sejak lahir hingga tercapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi dengan alam dan lingkungan masyarakatnya. Pendidikan merupakan proses yang terus menerus, tidak berhenti. Hidup boleh di daerah 3T, tapi semangat dalam dunia pendidikan jangan stagnan apalagi berhenti.

Sebagai guru yang pantas untuk diguguh dan ditiru, saya berusaha menyelesaikan pendidikan saya pada saat ada waktu libur. Pada liburan semester genap tahun 2016, akhirnya saya mampu menyelesaikan Pendidikan Magister saya pada jurusan Pendidikan Jasmani dan Olahraga PPs UNM.

Penulis : Erwin Yamin

Erwin Yamin , Total 3 Tulisan .

(Dikunjungi : 28 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda