Kau Buat Aku Mengerti


Kau ingat, kali pertama kita bertemu? Aku kaku menyapamu, begitu pula kau, terbawa kaku menjawab sapaku. Kau tersenyum malu-malu, pun denganku, rasanya waktu itu agak kelu. Ketika hubungan kita masih terasa dingin, aku berusaha mendekatimu dengan cara yang kuusahakan sebaik mungkin, agar kau yakin, kau dan aku kita bisa dekat seperti gelap dan nyala lilin. Bukannya aku agresif, aku hanya tidak sabar menjadi bagian dari harimu, sebab hampir setiap hari kita akan bertemu. Maksudnya begini, jika di antara kita sudah tidak ada jarak, maka kita akan bercerita banyak, sambung menyambung dan tidak lagi canggung. Akhirnya kita berhasil, kau senang ‘kan? Apalagi aku.

Orang bilang, waktu terus bergulir, padahal dia tidak berjalan menggelincir. Waktu berputar, padahal hanya jarum jam yang bergerak melingkar. Waktu berganti, bukannya hari? Tapi sekarang kita tidak perlu menjawab pertanyaan itu, sebab ada hal penting yang akan kukatakan padamu.

Semesta terasa hening saat aku terima ketenangan dari matamu yang bening, tapi itu sementara. Ketika tiba masanya pulang, aku harus dengan tega meninggalkan kau dan semua yang pernah kita karang. Siang itu terik, tapi kita basah, bukan oleh keringat, tapi air mata, untuk terakhir kalinya. Apakah yang pernah kuberikan padamu adalah pengabdian atau tidak, aku tidak peduli, yang jelas, selama denganmu aku mengerti, betapa banyak retak dalam jiwaku yang selama ini tidak kusadari.

*Photo: Muhammad Arssad, Alumni SM3T Angkatan V : Timor Tengah Utara.

Penulis : Rahmi Syalfitri Riska

Rahmi Syalfitri Riska , Total 15 Tulisan .

(Dikunjungi : 39 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
6
Sangat Suka

Komentar Anda