Mandi Terakhir


“Oooh apakah arti sebuah perpisahan?” pikir Rianda yang enggan beranjak dari kasurnya. Sebentar-bentar berguling, rebahan ke kiri, dan bila pegal balik merebahkan tubuh ke bagian lainnya. Begitu seterusnya pekerjaan Rianda pagi itu. Hendak mengerjakan apapun menjadi malas. Ada sesuatu hal yang menjadi pikirannya, yakni perpisahan. Program SM-3T di Jayawijaya telah berjalan 11 bulan, itu artinya tinggal 1 bulan lagi masa penjemputan bagi para guru-guru SM-3T yang bertugas di tanah Baliem untuk kembali pulang ke kampung halaman. Waktu penjemputan kian dekat. Sementara itu hati kian melekat dan hubungan telah terjalin erat. Bertemu akan berpisah.

Hari telah siang. Babi-babi berseliweran di padang-padang rumput. Mama-mama terus bekerja. Matahari yang terik menggerahkan badan. Rianda mencoba bergerak dari kamarnya, mengambil peralatan mandi, dan bersegera menuju Kali Elagaima untuk menyegarkan badan kembali agar hati tidak rusuh lagi memikirkan perpisahan. Dalam perjalanan menuju kali ia berpapasan dengan siswanya Ruben Meaga, Samuel Wuka, Yuri Yoman, dan Fredi Hiluka. “Pa guru, ko mau kali kah?” tanya seorang siswanya. “Iyo sa ada mau mandi ke kali. Baru ko mau kemana?” balas Rianda kepada mereka semua. “Kitorang juga mau ke kali, tapi tra mandi. Malas,” jawab Yuri enteng. “Eeeh, ke kali tra mandi? Malas sekali. Baru dorang mau buat apa disana?” tanya Rianda keheranan. “Kitorang semua ada mau tangkap udang selingkuh,” terang Fredi menjelaskan kepada gurunya. “Ko mau ikut juga kah?” Ruben mencoba mengajak gurunya ikut bersama menangkap udang selingkuh di Kali Elagaima. “Iyo sa ikut, tapi su selesai tangkap udang, kitorang mandi bersama bapak guru yo?” Rianda mengiakan tawaran siswanya dengan tawaran kembali.

Kali Elagaima merupakan anak sungai yang aliran airnya bermuara ke Kali Baliem. Letaknya yang di hulu membuat warna air begitu jernih. Bebatuan besar dan kecil terhampar di badan kali. Ruben tampak menundukkan kepalanya ke bawah permukaan air. Matanya awas melihat pergerakan di bawah air. Kedua telapak tangan dikepalkan untuk menggenggam udang selingkuh yang bersembunyi di balik bebatuan. Begitu cekatannya Ruben berkali-kali berhasil menangkap udang selingkuh dibanding teman-temannya yang lain. Bagaimana dengan guru mereka, Rianda? Siang itu Rianda harus akui bahwa guru menangkap udang selingkuh adalah siswa-siswanya.

Hasil tangkapan udang selingkuh lumayan banyak dan sesuai janji usai menangkap udang selingkuh mereka mandi bersama di Kali Elagaima. Sebelum mandi, Rianda menawarkan kembali kepada empat siswanya mau dimandikan dengan tangan guru mereka sendiri. Rianda beralasan jika mandi sendiri nanti keempat siswanya tersebut tidak bersih karena mandi asal-asalan. Keempat siswanya, baik Ruben, Samuel, Yuri, dan Fredie antri dimandikan gurunya. Mendapat kesempatan pertama adalah Ruben. Rianda berdiri di hadapan Ruben yang mengambil posisi jongkok. Menggunakan gayung Rianda membasahi tubuh Ruben lantas membersihkan tubuh siswanya dengan sabun dan shampo. Rianda tidak merasa geli karena sepatutnya yang ia lakukan adalah membersihkan tubuh siswanya sekaligus mengajarkan hidup bersih dan sehat. Samuel yang melihat Ruben dimandikan oleh bapak gurunya saat itu, teringat pada awal-awal kehadiran Rianda di sekolah pernah melakukan hal yang sama, yaitu mengajak seluruh siswa kelas IV ke Kali Elagaima melakukan simulasi perilaku hidup bersih dan sehat, dimulai dari mencuci tangan, menggosok gigi, dan terakhir dimandikan (mandi bersama) Rianda.

Antrian terakhir, kini Fredie duduk jongkok di hadapan gurunya. Tengah menyiramkan air ke tubuh Fredie, Rianda berkata kepada empat siswanya bahwa mandi bersama ini merupakan kesempatan terakhir ia dapat memandikan mereka. “Hitungan hari, ke depan bapak guru tra bisa lagi seperti ini, mandi bersama dorang semua. Pak guru akan kembali pulang ke kampung halaman bapak di Pekanbaru,” ucap Rianda tersenyum menahan sedu sedan. Rianda sebisa mungkin menahan meski di dalam hati remuk redam. Ia harus terlihat tegar di depan siswanya.

Matahari condong ke barat dan senja kemerahan mulai pekat. Rianda dan keempat siswanya kembali berjalan balik ke rumah masing-masing. Sedang dalam perjalanan pulang, Ruben bertanya “Apakah Pak Guru setelah pulang nanti balik kembali ke sini?”

Pekanbaru, 06 Maret 2019

Penulis : Reby Oktarianda

Reby Oktarianda , Total 39 Tulisan .

(Dikunjungi : 25 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
1
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda