Mengagumi Tanpa Emoji


Aku tak mengerti bahwa ada yang berjuang untuk belajar, saat dulu aku seusiamu. Yang kupahami, perjuangan hanyalah milik pahlawan di buku-buku. Bahkan yang menyedihkan, aku juga belum mengerti perjuangan seorang ibu. Yang kutahu, aku adalah seorang anak perempuan yang lahir, dibesarkan, ke sekolah setiap pagi kemudian sorenya pergi mengaji. Ayahku memberi uang, ibuku menyediakan pakaian. Aku ke sekolah dengan perut yang berisi, pakaian yang rapi, lengkap dengan sepatu, tas, buku juga uang jajan. Sekolahku dekat, lima puluh langkah dari rumah. Bila rindu bertemu, (tapi rasanya dulu aku tak pernah rindu sekolah, yang kurindukan hanya hari libur). Kedua orangtuaku memberiku tanggung jawab, seperti beribadah, merapikan tempat tidur, menyapu, mencuci piring juga menjaga adik, namun tidak untuk mencari uang. Mereka tidak pernah memintaku untuk libur sekolah, bahkan mereka marah saat aku pura-pura sakit agar aku bisa di rumah. Walaupun aku tidak TK, tapi guru-guruku selalu lengkap. Tidak ada guru yang datang jauh dari kota, yang libur begitu lama, mereka sangat rajin dan tidak pernah lupa cara masuk kelas dan menyapa siswa. Sekolahku selalu nyaman, ada meja, kursi dan lemari, lapangan juga tiang bendera. Setiap hari Senin kami selalu upacara. Walaupun kampungku dipagari barisan bukit, tapi jalanan sudah rata, kami tidak melewati bukit untuk kemana-mana. Bukit hanya didaki sekali-sekali, ketika hiking atau saat bapak-bapak memburu babi. Singkatnya, aku terkungkung pada kenyamanan selama bertahun-tahun.

Namun ternyata selama itu aku telah kalah dan teramat salah. Maka dengan menemukanmulah aku merasa berjalan menuju sebuah kemenangan yang kau ciptakan. Semua yang kumiliki adalah apa-apa yang tak kau temui. Namun kau tak sekalipun peduli. Kau gunakan kaki dan hatimu yang dalam untuk berlari menjemput masa depan. Kau tahu kenapa ibumu harus ke hutan, kau dihadapkan pada pilihan, sekolah atau tidak makan, namun kau bertahan. Guru-gurumu datang dan pergi. Ada pula yang pergi kemudian tidak pernah kembali. Tapi kau, dengan harapan yang sama seperti matahari, masih yakin bahwa langit dan bumi tidak akan meninggalkanmu dari pagi hingga pagi lagi. Ketahuilah, banyak orang yang tak mampu melakukan itu. Dengan segenap perasaan malu (karena tidak pernah bisa sekuat kamu), aku diam-diam tertunduk mengagumimu. Untuk hal seserius ini, aku tak butuh emoji dan warna-warni.

(Photo: Trino Petra, alumni SM-3T Angkatan V Penempatan Merauke)

Penulis : Rahmi Syalfitri Riska

Rahmi Syalfitri Riska , Total 11 Tulisan .

(Visited 1 times, 1 visits today)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
2
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
2
Sangat Suka

Komentar Anda