Salah Duga. Ternyata…


Baru-baru ini seorang guru datang dari barat Indonesia untuk mengajar di sebuah sekolah dasar di Jayawijaya. Lebih tepatnya guru tersebut mengajar di sekolah yang saya pimpin. Sekolah Dasar Niniki. Terletak di Kabupaten Jayawijaya-Distrik Niniki. Jaraknya ke Ibu Kota Kabupaten memakan waktu ± dua jam. Ibu guru itu bernama Ratna. Parasnya cantik. Kulitnya putih. Hidungnya pesek, dan memakai kaca mata pula sebagai penambah elok kepada siapa saja memandangnya. Sekilas melihatnya terlintas di pikiran saya bahwa perawakan guru seperti Ratna tersebut kurang cocok untuk mengajar di daerah tertinggal seperti di Jayawijaya. Cocoknya guru seperti Ratna  pantas mengajar di kota besar lagi maju peradabannya. Anggapan saya kepada Ibu Guru Ratna salah duga. Ternyata…

Dua hari yang lalu saya dijemput oleh seorang pria menuju lokasi sekolah tempat saya bertugas mengajar nantinya. Simon Wetipo nama pria tersebut. Hitam kulit keriting rambut padanya seperti kebanyakan orang saya lihat di kota Wamena ini. Saya memanggil beliau dengan sebutan Bapak Kepala. Tapi sebagian guru di sini memanggil akrab “bos”. Sepanjang jalan di dalam mobil kami sangat jarang berbicara. Bapak Kepala akan berbicara apabila saya yang bertanya duluan. Jujur saja saya agak kaku karena sikap dingin Bapak Kepala tersebut. Anggapan saya kepada Bapak Kepala salah duga. Ternyata…

Pagi di Jayawijaya cuacanya selalu berkabut. Udara dingin menjadi sarapan pagi masyarakat penghuni lembah. Udara dingin sangat tajam menusuk tulang Ibu Ratna yang mencoba beradaptasi. Sengaja ia tidak mandi pagi itu. Cukup dengan basuh wajah dan sikat gigi saja Ibu Ratna tetap kelihatan cantik. Ini hari pertama Ibu Ratna diperkenalkan Bapak Kepala sekolah kepada seluruh guru dan siswa. Ada perasaan gugup di hati Ibu Ratna. Ia berharap semoga keberadaannya dapat diterima seluruh warga sekolah dan lingkungan sekitar. Hari pertama mengajar Ibu Ratna mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah pilih mengambil pilihan mengajar di daerah ini. Daerah yang sangat jauh dari kampung halamannya di Riau. Ia selalu yakin bahwa keputusannya saat ini berada di SD Niniki merupakan pilihan terbaik. Setiap pilihan ada misteri di depannya dan Ibu Ratna akan mencari tahu misteri tersebut.

“Selamat pagi. Syalom. Bapak Ibu guru dan seluruh siswa semua mohon perhatian,” ucap Bapak Kepala yang berdiri di lapangan sekolah.

“Hari ini sekolah kita kedatangan guru baru. Ibu Guru Ratna dia pu nama. Ibu Ratna akan bersama-sama kita selama satu tahun ke depan. Sa harap Ibu Ratna bisa kasih ajar kitorang pu siswa dengan baik. Berbagi kepandaian dengan kitorang juga pu guru di sini,” pinta Bapak Kepala meyakinkan.

Bapak kepala sudah memutuskan Ibu Ratna untuk menjadi wali kelas di kelas V (lima) menggantikan wali kelas terdahulu Ibu Amalia Elopere yang cuti hamil satu bulan lalu. Ibu Ratna menerima saran dan keputusan yang diberikan Bapak Kepala. Ibu Ratna juga dibekali tentang kehidupan di sekitar sekolah. Bagaimana karakter siswa di sekolah. Kelemahan siswa yang masih belum baik dalam membaca, menulis dan berhitung. Kelemahan sekolah dalam kekurangan tenaga pengajar. Pada saat-saat tertentu Ibu Ratna juga mesti menyediakan tenaga lebih untuk mengajar lebih dari satu kelas nantinya. Mendapat bekal dari Bapak Kepala membuat Ibu Ratna menjadi senang, setidaknya ia berpikir Bapak Kepala ternyata perhatian. Terang saja Ibu Ratna malu hati karena anggapan sebelumnya kepada Bapak Kepala salah duga. Dari pembicaraan tadi terlihat Bapak Kepala memiliki sisi kepedulian terhadap Ibu Ratna untuk bisa beradaptasi dilingkungan sekolah dan khususnya kepada pendidikan siswa.

Ibu Ratna mulai mengajar hari itu juga. Depan kelas Ibu Ratna kembali memperkenalkan dirinya kepada siswa.

“Selamat pagi,” teriak Ibu Ratna semangat.

“Selalu semangat pagi,” pekik seluruh siswa membalas.

Ibu Ratna tampak senyum mendapati semangat siswa.

“Perkenalkan nama Ibu adalah Ratna. Ibu di sini untuk memberi pelajaran. Saat ini Ibu tinggal di rumah guru sebelah rumah Bapak Guru Lengka. Semua sudah tahu ya. Kalo ada waktu silakan berkunjung ke rumah Ibu.”

“Tahu Bu Guru.”

“Sebelum memulai pelajaran. Gantian kita berkenalan ya. Ibu akan panggil nama di buku absen. Namanya yang disebut angkat tangan. Mengerti?”

“Mengerti Bu Guru.”

Kelas V berjumlah 20 siswa. Ibu Ratna menyebut satu demi satu nama yang tertera di buku absen. Kesulitan Ibu Ratna di awal ialah membedakan siswanya. Sebab hampir kesemua siswa tersebut memiliki kesamaan wajah satu sama lainnya. Perawakan siswa tersebut memiliki ciri sama seperti; rambut keriting dan kulit hitam. Ini adalah kesulitan awal mesti diselesaikan Ibu Ratna. Lama-kelamaan tentu Ibu Ratna akan mengenali siswanya secara baik dan utuh.

Pelajaran dibuka dengan mata pelajaran IPA. Berbekal buku paket kelas V yang dibawa dari Riau, Ibu Guru Ratna memulai materi sistem pernapasan dengan menuliskan judul pelajaran di papan tulis menggunakan kapur “SISTEM PERNAPASAN”.

“Anak semua, tolong dikeluarkan buku cetak dan tulisnya di meja”

“Baik Ibu Guru.”

Ibu Ratna melihat keadaan siswa hanya meletakan buku tulis saja di meja. Kemudian bertanya kembali kepada siswa.

“Buku cetak punya tidak? Seperti ini,” sambil Ibu Guru Ratna mengangkat buku yang dipegangi.

“Tidak Bu guru,” jawab seluruh siswa.

“Kami trada buku seperti itu Bu Guru.”

Ibu Ratna tidak berhenti sampai di situ. Ibu Ratna tetap melanjutkan pelajaran walau semua siswanya belum memilki buku cetak. Setidaknya dia sudah mencatat bahwa di sekolah ini kurang memiliki buku cetak untuk keseluruhan siswa. Hal itu jangan sampai menjadi penghambat dalam mengajarkan siswa. Sebab ilmu tidak terbatas sampai di buku cetak saja.

Ibu Ratna menjelaskan sedikit tentang sistem pernapasan yakni tentang organ pernapasan dengan memberikan pertanyaan pancingan kepada siswa.

“Semua makhuk hidup bernapas. Manusia bernapas melalui apa?”

“Mulut bu guru.”

“Mulut? Ada yang lain lagi gak?”

“Iyo mulut toh bu Guru.”

Seorang anak bernama Isak Wenda mencoba menerangkan kepada Ibu Ratna kenapa mulut sebagai organ pernapasan manusia lengkap dengan cara ia mendemonstrasikan. Isak Wenda menghirup udara melalui mulut dan menghembuskannya seketika. Ada terasa udara keluar dari mulutnya tersebut.

Ibu Guru Ratna tersenyum melihat demonstrasi yang dilakukan Isak Wenda di depan kelas. Ibu Ratna tidak langsung menyalahkan jawaban Isak. Ibu Ratna mengatakan jawaban Isak sudah bagus sembari membetulkan jawaban Isak dengan memberikan pancingan pertanyaan kembali.

‘Kenapa mulut? Kenapa tidak hidung saja Isak?”

“Hidung buat buang sa pu ingus toh Ibu Guru.”

Spontan Ibu Ratna tertawa oleh jawaban Isak. Ibu Ratna berpikir anak-anak memang benar dengan dunianya. Melihat semua siswanya memiliki ingus di hidung membuat siswa berpikir hidung itu fungsinya sebagai saluran pembuang ingus.

Segera Ibu Ratna meminta kepada seluruh siswa untuk menutup hidung dengan menjepitnya menggunakan jari tangan selama beberapa detik.

“Apa yang kalian rasakan?” tanya Ibu Ratna kepada seluruh siswa

“Sesak Bu Guru. Ko mo kasih kita mampuskah?”

“Tidak anak-anak. Jangan salah duga! Bu Guru suruh seperti itu supaya kalian semua bisa tahu. Jika hidung ditutup maka udara tidak bisa masuk dan mengakibatkan kita tidak bisa bernapas juga mengalami sesak.” Sekarang apa semua paham dan mengerti bahwa manusia bernapas melalui hidung.”

“Mengerti Bu Guru.”

Demi menghilangkan kecurigaan siswa yang mengatakan Ibu Ratna ingin kasih mampus mereka, Ibu Ratna mencoba mengajak anak-anak bernyanyi secara bersama-sama guna menghilangkan ketegangan di dalam kelas.

Di sini senang-di sana senang

Dimana-mana hatiku senang

Di rumah senang; di sekolah senang

Dimana-mana hatiku senang

Pinggul digoyang-goyang

Tangan dilambai-lambai

Kaki disentak-sentak

Putar badan (2X)

Anak-anak terlihat riang mengikuti gerakan yang dipandu Ibu Ratna. Semua terlihat bergerak dan bersuara. Sepertinya anak-anak mulai menyukai Ibu Ratna sebagai guru mereka. Ibu Ratna juga mulai menyukai siswanya yang tanpa sungkan ikut larut dalam suasana gembira. Bapak Kepala ternyata juga menyaksikan hal tersebut dari balik jendela ruangannya. Bapak Kepala senang melihat Ibu Ratna dapat leluasa berinteraksi bersama siswa tanpa kaku sedikitpun. Bapak Kepala salah duga selama ini kepada Ibu Ratna. Diam-diam Bapak Kepala menyukai Ibu Ratna.

Sumber photo: Fauzan

Penulis : Reby Oktarianda

Reby Oktarianda , Total 40 Tulisan .

(Dikunjungi : 63 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
1
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
3
Sangat Suka

Komentar Anda