Surat Seorang Siswa yang Tak Sampai


Pada akhirnya segala keadaan masa lalu hanya mampu dikenang, diungkapkan. Tak kala ruang dan waktu membatasi untuk dilisankan. Adalah jalan terbaik mengikat dalam tulisan. Walau kupahami bahwa terkadang penggambarannya tak seindah bianglala. Tetapi bukankah setiap kata ditorehkan dengan rasa.

Setiap keadaan punya makna. Meski rasa sakit sekalipun juga. Sebab itu yang tak bisa terbendung hanya mengalir laksana air dari hulu ke hilir. Perihal keadaan siswa ini membayang begitu saja tatkala masa tugas harus berkahir. Cerita masyarakat dan siswa terus mengabarkan keadaan siswa dan sekolah sepekan setelah kembali di alamat masing-masing.

Kepada SM-3T
Seorang siswa berseragam putih merah
Baru saja duduk di bangku sepi
Keriting rambuntya disandarkan pada harapanya
Lalu dimulailah ia bersurat

“Apa yang bisa kukabarkan dari pelosok
Selain kami kekurangan guru
Dan murid-murid tak belajar

“Bila dahulu Guru SM-3T masih di sini
Aku puas bermain sambil belajar
Pintu gubuk guru terbuka 24 jam untuk kami
Malam belajar berpelita adalah potret kebersamaan
Yang difasilitasi keterbatasan
Tapi toh, kita bisa membaca menulis menghitung

“Kini kapur tiada lagi berdebu
Ujung papan tulis semakin terkelupas
Pensil pemberianmu lupa menyentuh buku
Pelita dalam gubuk tiada menyala lagi
Kapan Guru akan kembali datang?

“Ah, aku rinduh wajah Guru
Di depan kami selalu ada perigi ilmu
Sebab itu kehausan kami selalu terpuaskan
Di sini kami masih menanti”

Sayang setelah suratnya salam akhir
Ia bingung kemana mencari alamat
Pun tak tahu mengadu pada siapa!

Sumber Gambar: Facebook milik Subardi Al Sobri (SM-3T angkatan 6)

Penulis : Maskur

Maskur , Total 5 Tulisan .

(Dikunjungi : 20 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
2
Sangat Suka

Komentar Anda