Tanah Mama


Pagi mendapat gilirannya untuk memulai hari ini bersama matahari. Mentari pagi selalu memunculkan semangat dan seperti biasa ibu guru Ratna kita selalu akan teriak kepada siswa-siswanya “pagi anak-anak,” dan akan terbalas begini “selalu semangat pagi,” teriak seluruh siswa.

Ratna sudah sangat kerasan di tanah Baliem ini. Lembah yang selalu menyuguhkan rasa takjub, selain rasa dingin tentunya. Ratna menemukan banyak nilai-nilai yang dia ambil selama berada di sana baik sebagai guru maupun sebagai masyarakat. Ratna sebagai masyarakat mengambil contoh takjubnya pada sosok wanita di tanah Baliem yang disebut “mama”.

“Siapa sosok mama ini sebenarnya?” tanya Ratna kepada Rianda yang saat itu ada di sampingnya kala senja.

“Mama itu ya wanita,” jawab santai Rianda “pertanyaanmu itu kok aneh sih?” goda Rianda melirik pada Ratna.

“Itu sih aku tahu mama adalah wanita,” balas Ratna agak ketus dan sekali lagi melontarkan pertanyaan kepada Rianda “Rianda, selama kamu di tanah Baliem ini apakah kamu merasa takjub kepada mama-mama tersebut?”

Rianda dan Ratna selalu berdiskusi dan kadang mereka berdua sering mengutarakan pendapat untuk suatu hal yang dirasa baru dan menjadi pembelajaran untuk mereka.

“Ya aku takjub kepada mama tersebut,” sahut Rianda “mereka adalah lambang kekuatan dan simbol pekerja.”

“Benar. Bekerja apa saja,” Ratna memotong. Rianda melihat ada semangat dalam diri Ratna kala membicarakan sosok mama. Ratna kemudian melanjutkan ketakjubannya kepada Rianda bahwa mama sebagai simbol pekerja bisa melakukan kerja apa saja, contohnya berkebun. Mulai dari pembersihan lahan, menanam, merawat tanaman, dan memanen hasil tanaman hingga menjualnya ke pasar. Sebelum menjual ke pasar, proses panjang dilakukan si mama tadi. Mulai dari mencuci hasil panen di sungai. Mengangkat hasil panen dengan noken di kepala menuju ke pasar. Luar biasa si mama mama tersebut. Kerja, kerja, dan kerja pokoknya.

“Sepertinya pak Jokowi terinspirasi ‘kerja’ dari sang mama, heu..heu..heu,” goda Rianda.

“Meskipun kuat, ada ironi yang menyelimuti kehidupan mama tersebut,” lanjut Ratna tanpa mengindahkan godaan Rianda barusan. “Kaum mama tak cukup kuat untuk menentang sang Bapa (suami/lelaki) mereka untuk turut bekerja seperti yang dilakukan setiap harinya. Bapa lebih memilih pekerjaan ringan. Hal ini karena kaum Bapa menganggap pekerjaan yang dilakukan oleh mama adalah hal biasa dilakukan. Karena, persepsi Bapa menilai mama tersebut sudah dinikahi dengan biaya mahal berupa puluhan babi sebagai mas kawin. Kasarnya mama-mama sudah dibeli dengan label pernikahan, pihak Bapa pun bebas jika menyuruh kaum mama bekerja pagi hingga petang.”

Rianda terus mendengar apa yang dikatakan Ratna dan sesekali ia mengangguk setuju karena apa yang keluar dari mulut Ratna menjadi penglihatan sehari-hari Rianda di tanah Baliem tersebut. Rianda sudah biasa melihat pemandangan sang Bapa yang tidak bekerja hanya duduk di dalam honai atau kios dengan rekan-rekannya sambil ‘baasss…buusss….baasss….buussss’ asap rokok, dan sementara sang mama sangat sering terlihat memegang sekop mengurusi kebun dengan bermandi peluh. Tak ada kekuatan mama untuk menentang sang Bapa.

Mama-mama berjuang menjadikan simbol kekuatan. Pekerjaan berat dan ringan dilakukan mama. Peran mama sebagai pekerja menjadikan tanah di pegunungan tengah Papua adalah tanah mama.

“Kamu Rianda,” tiba-tiba Rianda kaget karena Ratna menuding-nunding wajahnya “kalo sikapmu nanti seperti sang Bapa itu aku gak segan untuk memprotes dan menantang kamu duel,” tegas Ratna memberi peringatan kepada Rianda.

Rianda tersenyum insaf bahwa yang berkata barusan adalah benar wanitanya.

Pekanbaru, 13 Januari 2019

Penulis : Reby Oktarianda

Reby Oktarianda , Total 31 Tulisan .

(Dikunjungi : 78 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda