Undangan dari Walesi


Usai sudah kebersamaan menikmati Air Terjun rekan-rekan SM-3T Jayawijaya. Merekapun berpamitan kepada Rianda untuk kembali ke tempat tugas masing-masing. Sebelum berpamitan Ranti menyampaikan perihal kepada Rianda untuk dapat berkunjung ke Walesi. Ranti katakan bahwa belum ke Jayawijaya kalau belum ke Walesi. “Ada apa di Walesi?” tanya Rianda. “Cari tahu sendiri,” balas Fitri yang juga satu penempatan dengan Ranti di Walesi. Mereka berdua cepat berlalu di hadapan Rianda.

Bara api kian merah di tungku perapian. Lidah api menjilati pantat panci yang hitam dan berisikan air di dalamnya. Suhu panas membuat air menggelegak dan siap dijarangkan ke teko. Ibadah kopi menjadi awal dimulainya hari selain panjang kokok sang ayam “kuukkuuk…ruuyyyukk,”.

Menghisap rokok dan menikmati kopi, Rianda mengingat-ingat kembali pesan Ranti bahwa ia diminta untuk berkunjung ke Walesi. Rianda mengetahui sedikit tentang Walesi dari cerita-cerita rekan-rekannya bahwa di Walesi terdapat perkampungan dengan penduduk Suku Dani pemeluk agama islam terbesar di Lembah Baliem bahkan di Pegunungan Tengah Papua. Memang dari dulu Rianda ingin sekali kesana melihat langsung penduduk Suku Dani yang muslim. Namun soal waktu saja yang belum mengantarkan Rianda ke Walesi karena kesibukan dan lain halnya. Cepat atau lambat perjalanan ke Walesi akan didapati.

Bertolak dari Air Garam, Rianda menuju Walesi menggunakan sepeda motor yang dipinjamkan Mam Joice Nirupu. Rekan guru yang satu sekolah dengan Rianda. Perjalanan tak seberapa jauh hanya menempuh waktu lebih kurang 40 menit. Sepanjang jalan akan disuguhkan pemandangan yang indah. Padang rumput yang luas mengikuti kemana angin mengarah. Sesampainya di Kampung Walesi Rianda langsung disambut oleh rekannya Ranti dan Fitri sembari mempesilahkan Rianda masuk ke rumah yang berwarna biru. Mereka berdua mendapati tugas sebagai guru di Walesi; dimana Ranti bertugas sebagai guru di Madrasah Ibtidaiyah Merasugun Asso dan Fitri di SD YPPK Sinatma.

Rianda diajak berkeliling di sekitaran kampung Walesi dan merasakan kehangatan berinteraksi bersama masyarakat disana. Pemandangan pertama Rianda melihat masyarakat Suku Dani memakai peci bagi pria dan hijab bagi wanita serta penampilan bersih dari mereka membuat hati sejuk. Ranti menjelaskan kepada Rianda bahwa kampung Walesi juga merupakan pusat pendidikan Islam di tanah Baliem. Memiliki satu masjid (Al-Aqso), dua madrasah (MI dan MTs), dan satu pondok pesantren (Pondok Pesantren Al-Istiqomah). Konon pesantren ini adalah tertua di Papua. Untuk meningkatkan pelayanan pendidikan di Walesi para pendidik saat ini didatangkan dari luar Papua seperti dari pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan Madura Jawa Timur. Selain itu Organisasi Non Pemerintah seperti Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Cabang Jayawijaya turut membantu pendidikan anak-anak muslim suku Dani di Kampung Walesi.

Fitri juga menambahkan kepada Rianda bahwa selesai mengajar di sekolah mereka juga turut membantu memberikan pelayanan pendidikan bagi anak-anak di Kampung Walesi tersebut, seperti mengajar mengaji membaca Iqra’ dan Al-Quran. Mengaji dilaksanakan pada ba’da Ashar, Maghrib, dan Subuh. Selain mengaji, di pesantren juga ada kegiatan belajar malam, kami, para ustad, dan guru-guru lainnya turut belajar bersama-sama.

Rianda sungguh takjub dengan gambaran penjelasan yang ia dapat dari rekannya tersebut. Bagaimana kehadiran mereka di Walesi sangat bermanfaat sekali baik bagi anak-anak maupun untuk mereka sendiri. Bahwa seseorang tersebut dinilai dari apa yang ia berikan, baik Ranti maupun Fitri telah menunjukkan kepeduliannya sebagai manusia yang bermanfaat. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat baik.

“Assalammualaikum,” sapa kehadiran seorang lelaki. “Waalaikumsalam,” Ranti lekas memperkenalkan Rianda kepada lelaki yang menyampaikan salam tadi. Lelaki tersebut adalah pak Anwar Mas’ud seorang Kepala Madrasah Ibtidaiyah Merasugun Asso yang juga bertempat tinggal di Walesi. Pak Anwar panggilannya. Ia adalah pendatang yang berasal dari tanah Bugis (Sulawesi Selatan). Rianda menjelaskan kedatangannya ke Walesi untuk melihat suasana kampung islam yang ada di Lembah Baliem.

Pak Anwar menawarkan Rianda untuk bermalam di kediamannya “tak cukup jika kedatangan pak guru Rianda hanya untuk melihat Walesi saja,” ucap pak Anwar. “Baiknya pak guru Rianda ikut bermalam disini dan tinggal di rumah saya agak semalam,” lanjut pak Anwar menawarkan “biar malam nanti kita dapat mengaji bersama-sama di masjid baik dengan ustad dan anak-anak disini.”

Mendapat tawaran tersebut langsung diiyakan oleh Rianda. Ini adalah pengalaman pertama Rianda langsung untuk mendengar anak-anak Suku Dani mengaji melantunkan ayat-ayat Quran dan sekaligus belajar mengaji bersama-sama. Bagi Rianda ini adalah undangan dari Walesi. “Subhanalllah,” syukur Rianda dalam hati. Jadilah malam itu Rianda dapat melaksanakan apa yang juga telah dilakukan oleh Ranti dan Fitri selama ini di Walesi.

Distrik Walesi adalah perkampungan asri dengan masyarakatnya yang memilih Islam sebagai agama mereka di tengah masyarakat mayoritas memilih kepercayaan berbeda (Kristen). Meski berbeda kerukunan tetap terjaga di sini. Jika belajar kerukunan dan toleransi beragama belajarlah di Jayawijaya, terang Wempi Wetipo, S.H., M.H selaku Bupati Jayawijaya saat datang ke Walesi dalam perayaan Idul Fitri 1436 H. Saat ini ada 13 masjid yang tersebar di Jayawijaya. Enam masjid berada di kota Wamena dan masjid lainnya tersebar di beberapa Distrik. Seperti Distrik Asolokobal di Kampung Megapura. Distrik Asotipo di Kampung Wesapot. Distrik Kimbim di Kampung Kimbim dan banyak lagi yang lainnya. Begitulah gambaran kecil Islam di tanah Baliem. Islam memberikan warna tersendiri dalam kehidupan muslim Suku Dani.

Pekanbaru, 28 Januari 2019

Penulis : Reby Oktarianda

Reby Oktarianda , Total 36 Tulisan .

(Dikunjungi : 55 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda