Guru adalah Orangtua, Orangtua adalah Guru


“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” QS. Luqman ayat 13. Ayat tersebut banyak memberi kita pelajaran mengenai peran orangtua terhadap anaknya. Orangtua di rumah sejatinya memang adalah seorang pendidik bagi anaknya. Guru pertama dan utama bagi seorang anak.

Akhir-akhir ini beredar sebuah postingan video di media sosial mengenai seorang ibu yang memukul anaknya karena kesal. Sang ibu disinyalir marah karena anak tersebut susah untuk diajar dan terkesan tidak mau belajar bahkan terlihat sedikit melawan. Komentar pun bermunculan mengenai video tersebut. Ada yang memberi komentar bahwa dulu para orangtua melaporkan guru jika memukul murid, sekarang mereka sendiri tahu bagaimana rasanya mengajar. Berbagai komentar negatif yang berposisi menyudutkan orangtua ikut mengiringi viralnya video tersebut. Hal ini dipandang wajar karena adanya “dendam” dari para guru saat mereka sering dilaporkan oleh orangtua murid saat anak mereka diberi “intervensi” oleh guru di sekolah.

Sepertinya ada yang salah dalam membangun persepsi Belajar dari Rumah. Orangtua di rumah diminta untuk menjadi guru bagi anak-anak mereka. Padahal para guru saat di sekolah mengatakan pada dunia bahwa mereka adalah orangtua murid di sekolah. Lho? Kenapa posisinya jadi tertukar? Mari kita perjelas. Orangtua di rumah tidak boleh menjadi guru 100%. Sehingga meninggalkan identitas aslinya sebagai orangtua. Tetaplah menjadi “Orangtua” di rumah. Kasih sayang sebagaimana kita mengajar anak untuk bicara dan berjalan dahulu harus tetap manjadi ciri khas orangtua saat mengajar. Ketika para orangtua memposisikan diri mereka sebagai guru di rumah maka proses yang ada akan terlihat “amatir” di hadapan para murid. Sebab, bagaimana pun juga para orangtua (yang tidak berlatar belakang pendidikan guru) kurang paham tentang pedagogik. Mereka tidak seharusnya memposisikan diri sebagai guru di rumah. Mereka seharusnya tetap menjadi orangtua yang mengajar anaknya di rumah.

Lisenbach (Mulyadi, S., Basuki, A. M. H., & Rahardjo, W., 2017) mengatakan bahwa dengan menjadi bagian dari kegiatan mendidik anak, Orangtua secara alami akan terhubung dengan anak-anaknya. Dengan belajar bersama, membaca bersama-sama, bermain game bersama-sama yang terjadi secara alami dan santai, Orangtua dengan anak-anaknya lebih dekat. Pengalaman belajar bersama anak-anaknya tersebut merupakan pengalaman belajar yang ditenun setiap hari akan menjadi benang-benang yang menghubungkan orangtua dengan anak-anaknya dan akan membentuk ikatan yang kuat yang menyatukan seluruh keluarga. Ada beberapa alternatif kegiatan belajar yang dapat dikembangkan oleh orangtua untuk dapat belajar bersama anak di rumah. Menurut Lisenbach ada tujuh aktivitas yang dapat dilakukan dalam meningkatkan kemampuan belajar anak yaitu (1) terlibat dalam diskusi atau percakapan sehari-hari (2) menggunakan permainan sebagai strategi belajar setiap hari (3) menyediakan permainan, pekerjaan rumah (PR) yang merangsang perkembangan kreativitas (4) mendorong anak melakukan eksperimen, menggali dan menemukan inti-inti materi pelajaran agar dapat memecahkan masalah (5) menunjukkan cara (misalnya menunjukkan buku apa) untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan (6)  menyumbangkan ide-ide baru atas dasar pengalamannya secara teratur (7) menjelajahi lingkungan, bisnis, dan pusat budaya secara bersama-sama.

Masa Belajar dari Rumah atau BDR ini memberikan banyak hikmah kepada kita semua. Pelbagai fenomena muncul dan viral di hadapan publik mengenai keluhan para orangtua dalam mendidik anak mereka di rumah. Oleh karena itu, mari kita kembali merenungi Surah Luqman di atas tentang bagaimana peran orangtua yang memang seharusnya menjadi guru yang pertama dan utama bagi anaknya. Karena orangtua adalah guru, dan guru adalah orangtua.

Penulis : EDIL WIJAYA NUR

EDIL WIJAYA NUR , Total 7 Tulisan .

(Dikunjungi : 107 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda