Berbuka Puasa Bersama: Selintas namun Membekas

Aku terus menyadarkan diri bahwa tugasku tidak semata-mata mengajar dan mendidik mereka saat di sekolah. Ada ruang-ruang yang harus dimanfaatkan untuk terus memberikan mereka ihwal lain di luar aktivitas sekolah. Berbagai hal yang mengarah dan membawa pada aplikasi positif yang baik untuk mereka, demikian juga untuk diri sendiri. Aku bukan guru agama, namun mengajarkan dan memperkenalkan mereka pada agama menjadi salah satu kewajibanku. Saat mereka bertanya berbagai hal yang mengarah pada akidah, mau tidak mau, suka atau tidak suka, aku harus terus belajar. Belajar dari setiap pertanyaan mereka. Belajar dari setiap pengoreksian mereka pada orang lain dan pada diriku sendiri. Benarlah adanya yang dikatakan oleh praktisi pendidikan, Munib Chatib bahwa guru adalah manusia pembelajar. Memang harus terus belajar, baik dari hal yang tersurat maupun tersirat.

Beberapa hari ramadhan telah berlalu. Aku menikmati hari demi hari hingga berlalu. Aku tidak menyadari bahwa anak-anak menyimpan kegelisahan untuk sekadar berbuka puasa bersama. Mereka itu terkadang penggagas ide, sementara aku sebagai perealisasi.

“Ibu, kapan kita berbuka puasa bersama? Sekali saja Bu,” rengek mereka pagi itu saat aku sedang duduk di ruangan.

“Tak payahlah. Kan sudah berbuka puasa bersama terus di tempat masing-masing,” ujarku bercanda.

“Ah! Ibu, tak sedap. Kami nak (mau) berbuka puasa dengan Ibu,” rengek mereka manja.

“Berbuka puasa di Taman Baca saja Bu,” gagas mereka.

“Nanti Ibu pikirkan dulu ya,” responsku.

“Usah (tak usah) dipikir-pikir Bu, dilaksanakan saja langsung,” ujar anak yang lainnya.

Aku nyaris tertawa mendengar pernyataan itu. Anak seumuran mereka, terkadang seperti tidak mungkin mengucapkan kata-kata yang mengandung makna yang amat dalam.

Siangnya mereka kembali bertanya, ingin memastikan tentang keinginan yang teringin diwujudkan itu. Jika bukan karena kemaslahatan yang ada di dalamnya, barangkali aku sudah mencari beribu cara untuk tidak memenuhi permintaannya. Sebab tugas lain juga banyak yang harus dirampungkan. Namun aku ingin memanfaatkan momen sederhana ini untuk berbagi ilmu dengan mereka.

Hari telah petang saat aku tiba di taman baca. Tetesan langit yang baru saja turun membuat gang sepi. Aku berkemas. Membuka lembar demi lembar papan pengganti pintu. Beberapa menit berlalu, satu per satu anak-anak berdatangan. Berpakaian sedemikian rapi, lain yang biasanya.

“Telekungnya (mukena) sudah bawa belum,” tanyaku sembari mengingatkan.

“Kage (nanti) Bu,” jawab mereka.

Kami memang telah membuat kesepakatan bahwa akan mengadakan acara berbuka puasa, namun harus membawa telekung (mukena). Ada alasan terbesarku di balik kesepakatan ini. Perlahan, aku ingin memberikan mereka pemahaman bahwa berpuasa ramadhan itu sama. Dan dimana pun kita melakukan aktivitas, solat tidak bisa ditinggalkan, harus ditunaikan. Saat mereka memikirkan kerumitan salat, kita berikan mereka solusi yang tujuannya tidak membuat mereka merasa ribet untuk melakukannya.

“Kita itu harus tetap salat, walaupun kita pergi jauh atau dekat,” jelasku sembari menunggu waktu berbuka. Aku mengarahkan mereka untuk melingkar. Saling berbagi, bercerita dan bertanya tentang niatan melakukan puasa. Aktivitas sederhana ini memang tidak begitu lama, namun esensi sampai pada mereka. Membangun kedekatan itu tidak selalu dengan jangka waktu yang panjang. Selintas, namun substansinya tersampaikan. Semoga setiap kepositifan menjelma kemaslahatan dan amalan yang berkekalan.

Anambas, 31 Mei 2018