Ekspektasi dan Realitas Berdamai saat Mendaftar Program SM-3T


Jika hati sudah yakin dan tekat sudah bulat maka kerjakanlah, karena segala sesuatu yang berawal dari hati dan niat yang tulus akan menuai hasil yang maksimal. Hal itu terjadi pada saya. Hati ini begitu yakin untuk mengabdi di pelosok negeri meski sempat bertentangan dengan orangtua yang awalnya tidak mengizinkan sama sekali untuk hal positif ini. Jauh sebelum saya selesai menyelesaikan pendidikan di salah satu Universitas di Makassar, saya mendengar ada salah satu program pemerintah mengabdi setahun di daerah terpencil yang jauh dari kebisingan, hiruk kendaraan dan gemerlap lampu-lampu yang sering saya jumpai.

Tahun 2011 program SM-3T bermula dan peminatnya masih kurang. Masih banyak orang yang mempertanyakan program ini, misalnya “untuk apa ikut seperti itu, di sana banyak ini banyak itu”, dan pertanyaan meragukan lainnya. Namun saya tidak pernah mempertanyakan sama sekali hal itu, sebab saya begitu yakin kelak jika saya sudah menyelesaikan pendidikan saya akan mendaftar pada program ini. Dan pada akhirnya tepat 2015 saya sudah menyandang gelar S.Pd. Alhamdulillah 25 November 2015 menjadi hari bersejarah dalam hidup saya, karena dapat memakai toga dan menyandang predikat tersebut

Saya selalu mencari informasi kapan pendaftaran SM-3T angkatan VI terbuka. Hampir setiap hari “google” menjadi tempat saya bertanya dan informasi yang disampaikan pun cukup beragam. Hingga pada suatu waktu saya mendapat kabar kalau program ini tidak akan ada lagi. Kabarnya program ini hanya sampai pada angkatan ke V

Masuk tahun 2016 beredar informasi bahwa pendaftaran terbuka di bulan Maret. Namun hingga Maret hasilnya nihil, tapi saya tidak pernah berhenti menggali informasi terkait program pemerintah ini. Akhirnya, pada 06 Juni 2016 tiba-tiba nada line berdering, pesan itu dari salah satu dosen saya yang menginformasikan bahwa pendaftaran SM-3T sudah terbuka. Perasaan saya amatlah senang karena yang dinanti-nanti selama kurang lebih 7 bulan ternyata sudah menuai jawaban

Masih kental dingatan saya pukul 09.00 Wita pada tanggal 06 Juni 2016 saya memulai mempersiapkan file yang dibutuhkan untuk seleksi administrasi. Waktu itu saya belum mendapat restu dari orang tua

Meski sedikit alot akhirnya semua file yang diminta sudah saya unggah, tapi belum difinalisasi karena persyaratannya masih ada yang belum lengkap. Tepat tanggal 09 Juni 2106 saya sudah yakin setelah memeriksa berulang kali apakah yang sudah saya unggah tersebut sudah benar-benar sesuai dengan permintaan.

Selama saya menunggu pengumuman, saya juga berusaha meyakini orang tua dan nenek yang sangat tidak merestui untuk mengikuti program ini. Beliau sangat khawatir, karena saya anak perempuan dan harus pergi selama setahun di pelosok. Bukan waktu yang singkat untuk membujuk beliau, hingga tiba pengumuman seleksi administrasi dan hasilnya Alhamdulillah saya lulus. Saya kembali memberi sedikit pemahaman bahwa program pemerintah ini akan berdampak positif terhadap saya ke depannya nanti

Mendengar penjelasnku, beliau masih tetap tidak mengizinkan. Mereka lebih memilih saya melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya yakni S2. Menurut mereka S2 itu adalah pilihan terbaik untuk saya daripada mengikuti SM-3T. Tetapi saya kembali membantah, saat itu saya merasa sudah mengumpulkan dosa yang begitu banyak karena selalu membantah perkataan orang tua. “Maafkan anakmu ini”, lirihku dalam hati.

“S2 sudah menjadi bagian dari rencana saya ke depan, tapi untuk saat ini hatiku sudah bulat untuk mengikuti program SM-3T. Saya akan melanjutkan pendidikan saat saya sudah mendapat penghasilan sendiri, banyak  yang saya lihat selesai S2 kembali mengabdi di kampung sebagai honor atau sukarela, menurut saya alangkah baiknya kalau saya melanjutkan pendidikan jika saya sudah mendapat pekerjaan dan mampu membiayai pendidikanku sendiri,” jelasku pada mereka.

Beliau masih terlihat belum bisa merestui sepenuh hati, namun mulai memahami sedikit maksud anak sulungnya ini.

“Baiklah kalau itu sudah menjadi pilihanmu” kata beliau.

Saya begitu senang karena saya bisa melanjutkan ke tahap seleksi berikutnya yakni tes online. Karena jika orang tua tidak merestui maka percuma untuk dilaksanakan, sebab pasti hasilnya nihil. Tapi Alhamdulillah setelah memberi pemahaman yang begitu panjang dan lebar yang membutuhkan waktu berminggu-minggu, izin yang belum terlalu ikhlas itu saya kantongi juga untuk saya bawa ke Makassar mengikuti seleksi online

Seleksi tahap kedua yakni tes online itupun sudah berlalu. Saya kembali menunggu hasil lagi, saya mulai sedikit pesimis dengan hasilnya, karena ribuan peserta yang mengikuti tes dan hanya beberapa yang dinyatakan lulus. Hingga tiba waktu pengumuman seleksi online, saya gelisah dari pagi sampai sore

Tepat pukul 17.00 Wita telepon genggam saya berdering. Itu telepon dari teman-teman yang sudah melihat pengumuman, mereka bertanya apakah saya lulus atau tidak. Saya sangat gembira karena pengumuman yang saya nanti-nanti sudah keluar, tapi di sisi lain saya takut melihat hasilnya.

Alternatif yang saya pilih, yaitu meminta Si bungsu untuk membuka dan melihat hasilnya.

“Bukan rejekimu ini,” Adik saya memutar balikkan fakta.

Saya langsung terdiam seribu bahasa. Perasaan kecewa menghampiri ternyata saya seperti teman-teman yang lain tidak lulus. Melihat saya yang terdiam sedari tadi tiba-tiba adik saya menyodorkan handphone dan menyuruh membaca sendiri, sontak setelah saya melihat satu kata dengan 5 huruf kapital saya langsung gembira sekali dan sedikit tidak menyangka juga ternyata saya bisa. Tertera dengan jelas dalam pengumuman itu panggilan untuk ke tahap berikutnya yakni seleksi wawancara.

Setelah membaca pengumuman itu saya langsung menghubungi orang tua di kampung kalau saya lulus tes online, dari suaranya beliau kedengaran cukup gembira juga dan itu sudah menjadi lampu hijau buat saya. Ternyata beliau sudah mulai tulus melepaskan saya untuk mengikuti program ini.

Tiba saatnya seleksi tahap akhir yakni seleksi wawancara, ternyata saya harus bersaing lagi untuk bisa lolos dalam seleksi ini. Proses penyeleksian cukup ketat, karena yang akan dinyatakan lolos hanya 328 peserta dari kurang lebih 2000 pendaftar mulai dari tahap pertama hingga tahap ketiga. Dan Alhamdulillah melihat pengumuman seleksi tahap akhir tersebut saya kembali tersenyum karena saya termasuk ke dalam 328 peserta itu. Yang secara keseluruhan seluruh Indonesia pendaftar peserta SM3T berjumlah ± 20.000 orang dan yang terpilih hanya 3000 peserta. Khusus LPTK UNM dinyatakan lolos 328.

Kembali saya menghubungi orang tua di kampung bahwa saya lolos dalam seleksi terakhir, beliau gembira mendengar kabar tersebut. Beberapa teman-teman dan rekan guru di sekolah tempatku mengabdi dulu kurang lebih 6 bulan memberi ucapan selamat. Saya benar-benar tidak menyangka serasa saya mimpi bisa lolos. Karena banyak teman-teman yang memiliki kemampuan lebih daripada saya tapi, nyatanya tidak berjodoh.

Ada satu hal, yang saya garis bawahi dari kisah di atas. Niat yang sungguh-sungguh, restu, dan takdir ketiganya harus sepaket, sebab jika salah satu dari ketiga itu tidak berada dalam genggaman, maka harapan yang menjulang sekali pun bahkan semangat yang tumpah ruah sama sekali tidak ada nilainya.

Oleh karena itu, sebelum melakukan sesuatu hendaknya kantongi ketiga kata itu, agar realita dan ekspektasi bersahabat.

Penulis : Nursam

Nursam , Total 1 Tulisan .

(Dikunjungi : 117 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
1
Sangat Suka

Komentar Anda