Kontemplasi Kontribusi


Juniar Sinaga

Juniar Sinaga

Guru at Lihat Profil
Juniar Sinaga

Latest posts by Juniar Sinaga (see all)

Masih terhanyut dalam terai tentang epilog dari kiprah diri. Kegelisahan menggerayungi setiap urat nadi. Bayangannya terus mengikuti. Rembukan diri dan naluri, berkelanjutan di sunyi yang terkadang mendampingi. Memaut motivasi pada seutas tali bernama kontribusi, memang terkadang sukar untuk dipungkiri. Bait demi bait kiprah ini bukanlah bertepatan pada opsi tanpa argumentasi. Sebab untuk membersamainya dari introduksi sudah melembarkan doa dan pangestu dari Sang Maha Satu.

Jika meng-ego-i bahwa berada di tiap-tiap latar yang terkini oleh sebab keampuhan, hingga karenanya tiada niscaya yang layak dilintasi, maka apakah diri bersiap untuk mencari solusi sendiri tanpa patut mengalutkan atmosfer sesama?

Subjektif tumbuh subur dalam jasmani yang pada akarnya merayu. Ada bibit-bibit ikrar yang ditabur di ‘lahan’, jauh sebelum ’embrio’ kedua ini menitis. Ada ke-terpimpin-an yang juga harus dilahirkan. Ada empati yang diupayakan untuk dibangun, agar ‘virus’ animo tak berkembang pesat di palung hati.

Sebuah kontemplasi, saat kesabaran diuji pada tingkat yang sukar untuk dianyam menjadi deskripsi. Kegelisahan yang telah gugur di musim lalu. Apakah diri telah pikun tentang itu? Apakah endapan kemarin tiada lagi berbekas?

Bukan tentang siapa, bukan tentang apa, melainkan tentang bagaimana dan mengapa. Engkau diri, adalah pelakon yang takkan usai dilestarikan sepanjang hayatmu dikandung badan. Ada lelah yang terus ditata untuk menjadi Lillah. Ada keikhlasan yang harus dipelihara. Ada kesenyapan terkadang harus disembunyikan. Ada euforia yang terkadang harus ditenggelamkan. Semuanya masih ada, saat kita ADA. Dan semoga semua tetap ada saat engkau diri TIADA, walau yang tertinggal hanya sebentuk jenama.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu (KH. Rahmat Abdullah)

Komentar Anda


What's Your Reaction?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Login

Don't have an account?
Register

reset password

Back to
Login

Register

Silahkan Register terlebih dahulu

Captcha!
Back to
Login