Melestarikan Budaya Indonesia di Malaysia


Selain karena potensi pariwisata yang begitu menarik, Indonesia juga terkenal dengan budaya yang multikultural. Mulai dari rumah adat, pakaian adat, lagu daerah, bahasa daerah, alat musik tradisional, dan lain-lain. Sebut saja Rumah Gadang yang terkenal di Sumatera Barat, Lagu Ampar-Ampar Pisang dari Kalimantan, Reog Ponorogo dari Jawa Timur, Tarian Kecak dari Bali, alat musik Sasando dari NTT, mahkota dan kain rumput sebagai pelengkap busana adat beberapa suku di Tanah Papua.

Upaya pemerintah melestarikan kebudayaan bangsa Indonesia yang begitu beragam, bisa ditemui dalam pendidikan formal maupun pendidikan non formal di daerah masing-masing. Dalam pendidikan formal, muatan lokal adalah mata pelajaran tambahan yang diajarkan oleh guru yang memiliki keahlian khusus dalam bidang seni dan budaya daerah setempat. Landasan kurikulum muatan lokal diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 79 Tahun 2014 Tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013. Selain itu terdapat juga sanggar seni dan budaya sebagai bentuk bagian pendidikan non formal untuk melestarikan budaya dari masing-masing daerah yang ada di Indonesia.

Bagaimana dengan anak-anak Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negara kita? Apakah mereka mampu menampilkan budaya dari daerah asalnya, sekalipun sama sekali belum pernah ke Indonesia karena terlahir dan dibesarkan di negara lain berhubung pekerjaan orang tua mereka sebagai Buruh Migran Indonesia (BMI)?

Jawabannya “Ya”. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka Sekolah Indonesia Luar Negeri di beberapa negara dengan tujuan agar anak Indonesia dapat bersekolah dan belajar menggunakan kurikulum yang sama dengan apa yang diajarkan di Indonesia, serta mengenal negara Indonesia dari setiap pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah. Community Learning Center (CLC) adalah bagian yang tak terpisahkan dari Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) yang berada di Sabah, Malaysia. Ribuan anak Indonesia memperoleh pendidikan formal di CLC-CLC tersebut yang tersebar di beberapa wilayah di Sabah.

Anak Indonesia yang berada di Sabah pun berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya berasal dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Anak-anak yang hidup di daerah ini bersama orang tua mereka, terus menjaga dan melestarikan budaya mereka. Termasuk penggunaan bahasa “Tator” yang menjadi bahasa sehari-hari mereka untuk saling berkomunikasi, budaya “Royong” untuk saling membantu pekerjaan yang ada di ladang/perkebunan maupun tarian adat yang terus diajarkan kepada anak-anak mereka.

Beberapa waktu lalu, CLC Kundasang dikunjungi oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sebagai bentuk syukur atas kunjungan tersebut, beberapa siswa kelas IX menunjukkan aksinya menampilkan tarian adat Toraja untuk menyambut para tamu yang berkunjung dari Jakarta. Hal ini membuktikan bahwa sekalipun hidup di negara orang, budaya bangsa Indonesia tetap dijunjung tinggi oleh mereka yang berasal dari Indonesia. Bukan berarti hidup di negara orang, lantas harus melupakan budaya bangsa sendiri. Kelak suatu saat nanti mereka pun akan kembali ke tanah air Indonesia untuk meneruskan cita-cita dan impian yang dituju

Penulis : Anfike Mentu

Anfike Mentu , Total 7 Tulisan .

(Dikunjungi : 86 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
1
Sangat Suka

Komentar Anda