Sinergi Budaya dan Pendidikan melalui Mbaru Gendang


Reruntuhan rumah adat Mbaru Gendang tampak teronggok begitu saja di dekat lapangan Kampung Kakor. Bangunan itu sudah rusak dan tak terawat. Namun, pesona kegagahannya masih tampak. Mbaru Gendang adalah rumah adat masyarakat Manggarai, NTT yang berbentuk kerucut.

Mbaru Gendang berasal dari bahasa Manggarai, Mbaru adalah rumah sedangkan gendang adalah alat musik tradisional terbuat dari kayu dan kulit kambing. Nama Mbaru Gendang diambil dari salah satu fungsi rumah adat ini sebagai tempat untuk menyimpan perlengkapan caci, tari tradisional masyarakat Manggarai meliputi gendang, nggiling (perisai), dan larik (cambuk).

Fungsi utama Mbaru Gendang adalah pusat pelestarian budaya. Mbaru gendang merupakan tempat berkumpul masyarakat untuk melaksanakan acara adat seperti proses caca mbolot (penyelesaian masalah) dan upacara penti (syukur panen). Tak hanya terbatas pada acara adat, perbincangan tentang isu politik, pendidikan dan perkembangan kehidupan menjadi topik pembahasan sebagai pelengkap secangkir kopi panas.

Mbaru Gendang menjelma sebagai tempat transaksi ilmu dan budaya masyarakat di desa Kakor, khususnya. Berawal dari perbincangan serius tentang kebutuhan sekolah lanjutan pertama di desa ini, Mbaru Gendang memegang peran sebagai tempat awal tercetusnya ide pembukaan sekolah lanjutan pertama di kampung Kakor sekaligus sekolah lanjutan pertama di Kecamatan Kuwus Bagian Timur.

Sebelum memiliki nama SMPN 2 Ndoso, sekolah ini tercatat sebagai SMP Negeri 3 Kuwus. Hal ini terjadi ketika Kecamatan Ndoso masih menjadi satu dengan Kecamatan Kuwus. Berawal dari perbincangan di Mbaru Gendang, realisasi sekolah ini berperan sebagai wadah lulusan SDI Kakor. SMP Negeri 2 Ndoso awalnya adalah sekolah satu atap dengan SDI Kakor. Seiring berjalannya waktu, sekolah ini mampu berdiri sendiri di kawasan tanah Kampung Kakor. Bangunan awal sekolah terdiri dari tiga kelas dan satu bangunan kantor. Waktu membawa SMP Negeri 2 Ndoso berbenah untuk lebih maju. Beberapa fasilitas sudah dibangun. Ruang kelas dan gedung perpustakaan sudah tersedia untuk kegiatan belajar di sekolah. Fasilitas toilet siswa juga tak luput dari perhatian pihak sekolah. Dari segi akademik, sekolah mulai menyiapkan diri untuk penerapan Kurikulum 2013. Persiapan terlihat pada penugasan beberapa guru untuk mengikuti pelatihan Kurikulum 2013.

Harapan ke depan, sekolah akan menyediakan asrama untuk siswa yang berasal dari luar Kampung Kakor. Mengingat siswa yang bersekolah di sini berasal dari lebih enam kampung terdekat. Kebanyakan dari mereka tinggal bersama saudara atau kos. Asrama berperan untuk mengontrol kegiatan belajar selama siswa di luar jam pelajaran di sekolah.
Keberadaaan asarama dapat menjadi solusi dari permasalahan performa siswa yang kurang maksimal akibat ketidakdisiplinan siswa dalam belajar dan mengikuti kegiatan sekolah lainnya. Asrama dapat mengontrol jadwal pulang kampung siswa sebagai langkah untuk memastikan siswa dapat mengikuti kegiatan sekolah dengan baik, misalnya ujian dan kegiatan ekstrakurikuler. Jadwal pulang kampung merupakan bentuk perhatian pihak sekolah akan keselamatan siswa. Maklum saja, perjalanan pulang kampung mereka berbeda dengan siswa yang berada di kota. Siswa pulang kampung dengan berjalan menyusuri bukit dan hutan dengan lama perjalanan 2-3 jam bagi yang sudah terbiasa. Akses jalan baik menuju maupun dari sekolah tidak baik, hal ini menyulitkan siswa untuk mendapatkan transportasi. Adapun ojek yang bisa digunakan, namun ongkosnya terlalu mahal.

SMP N 2 Ndoso mampu memberikan sumbangan terbesar untuk kemajuan individu dan sekitarnya. Menjadi wadah bagi anak-anak untuk menimba ilmu sehingga bisa melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. SMP N 2 Ndoso memiliki jasa yang besar bagi perkembangan kehidupan masyarakat. Sekolah ini mampu membuka wawasan bagi masyarakat akan pentingnya pendidikan wajib sembilan tahun.

Fungsi sekolah sebagai pusat perkembangan pendidikan terbukti dengan prestasi lulusan yang berhasil meraih gelar sarjana dan menjadi tokoh masyarakat. Banyak pula dari mereka yang kembali ke kampung halaman untuk mengabdi sebagai guru dan tenaga medis. Sebuah prestasi membanggakan untuk sekolah yang keberadaanya di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal).

Sinergi antara budaya dan pendidikan terwujud melalui peran Mbaru Gendang dan SMP Negeri 2 Ndoso. Bukan hanya masalah bangunan, namun interaksi untuk memajukan pendidikan juga terjadi di dalamnya. Setiap pesan perubahan yang didiskusikan sarat makna. Mbaru Gendang sebagai simbol persatuan dan tempat pelestarian budaya. Keberadaannya menjadi semangat bagi warga untuk mengeratkan tali persaudaraan melalui tradisi Lonto Leok (duduk bersama). SMP Negeri 2 Ndoso sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan untuk mempersiapkan generasi yang mempunyai masa depan lebih baik.

Jika sinergi ini dapat berjalan dengan harmonis, tidak heran jika suatu saat SMP Negeri 2 Ndoso tidak lagi masuk dalam kategori sekolah 3T. Kerja sama antara warga dan pihak sekolah untuk memperbaiki akses jalan menuju kampung, pengelolaan sumber air dan listrik diperlukan untuk mengakhiri kategori 3T yang disandang kampung Kakor. Semoga sinergi ini terus terjaga demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Penulis : Reni Apriani

Reni Apriani , Total 9 Tulisan .

(Dikunjungi : 20 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda