Membangkitkan Gairah Belajar

Seringkali sebagai guru, beberapa di antara kita mengeluhkan proses belajar hingga hasil belajar yang tak sesuai dengan harapan kita sebagaimana kita telah berusaha dengan baik untuk mempersiapkan kegiatan pembelajaran di sekolah. Bahkan, jangankan untuk melihat hasil, kita masih mendapati beberapa anak tidak bergairah datang ke sekolah dan belajar bersama dengan teman-temannya. Apa yang salah?

Tunjukkan Tujuan Belajar yang Sesungguhnya

Sekolah sebagai salah satu wadah belajar, memiliki peranan penting. Peranan ini dipegang penuh oleh guru. Sudah selayaknya guru, orang tua dan lingkungan keluarga saling berangkulan mengikuti perkembangan belajar anak. Namun, kenyataannya masih banyak anak yang ketika datang ke sekolah datang sendiri dan belajar sendiri. Kalaupun diantar oleh orang tuanya, hanya sekedar diantar, tidak diperhatikan keadaannya baik di sekolah maupun di rumah karena kesibukan masing-masing dan anggapan bahwa belajar itu adalah hanya tanggungjawab guru juga masih melekat. Sehingga anak pun seakan merasa kehilangan arah padahal tidak mengetahui arah dan tujuan mengapa ia harus belajar dengan giat. Mengapa ia harus sekolah dengan baik. Mengapa ia harus berjuang di atas kakinya sendiri agar masa depannya cerah.

Dalam hal ini, guru harus ambil peduli. Anak harus mendapatkan haknya untuk mengetahui tujuan belajar dan proses pembelajaran dengan baik karena mereka adalah masa depan bangsa Indonesia ini.

Ajarkan anak-anak untuk menemukan tujuan belajar yang sesungguhnya. Ajarkan anak untuk menemukan cita-citanya. Mengutip kalimat Andrea Hirata, “Cita-cita itu adalah engine.” Engine itu mesin. Mesin itu menggerakkan. Dengan cita-cita, anak dapat tergerak. Tergerak hatinya untuk belajar, tergerak hatinya untuk meraih masa depan cerah, tergerak hatinya untuk menemukan tujuan belajar yang benar dan membawanya pada sikap positif terus berjuang di atas kakinya sendiri Jadi, anak-anak harus punya cita-cita. Anak-anak harus punya tujuan belajar yang benar. Guru harus terus menggiring konsep cita-cita pada pembelajaran.  Guru harus terus mengingatkan tentang tujuan belajar.

Tidak Mengenal Konsep Kegagalan

Sejak kecil, kita sudah terbiasa belajar banyak hal. Juga terbiasa untuk jatuh. Saat kita jatuh, kita bangkit lagi untuk berdiri. Lalu berlari dan jatuh lagi. Kita baru belajar berlari. Orang tua kita slalu memberikan semangat agar kita bisa berdiri. Kita mulai merangkak lagi dan lalu berdiri. Kita tak pernah merasa gagal bahkan ketika kita jatuh berulang kali. Saat itu kita tidak mengenal konsep kegagalan. Tapi bagaimana ketika kita memasuki sekolah dan saat itu guru bertanya tentang satu hal yang kita dengan semangat mengangkat tangan untuk menjawab. Namun, jawaban yang kita dapatkan justru membuat kita malu dan terguncang. “Salah. Kamu gak belajar ya? Kamu kok salah terus, sih?”

Seketika pertahanan runtuh dan bagi banyak orang, ini merupakan awal mula hilangnya kepercayaan pada diri sendiri. Awalnya takut lalu takut lagi dan kemudian takut gagal menjadi sugesti. Citra negatif terhadap diri pun mulai tumbuh dan belajar menjadi sangat berat. Dalam buku Quantum Learning karangan Bobbi De Porter & Mike Hernacki, seorang pakar masalah kepercayaan diri bernama Jack Canfield pada 1982 pernah melaporkan hasil penelitian seorang periset terhadap seratus anak selama satu hari.  Dimana periset memiliki tugas mencatat berapa banyak komentar positif dan negatif yang diterima oleh seorang anak dalam sehari. Penelitian Canfield mengatakan bahwa setiap anak dalam sehari menerima hanya 75 komentar positif atau yang bersifat mendukung dan 460 komentar negatif atau kritik. Sesuatu yang sangat senjang.

Keadaan ini dikhawatirkan menjadi penyebab berbahaya yang berkontribusi pada kurang gairah belajarnya dan berujung pada kemandekan belajar. Kemandekan belajar ini akan memperparah keadaan yang kemudian juga menyebabkan banyak anak enggan untuk sekolah atau putus sekolah. Lantas, bagaimana generasi masa depan Indonesia ini akan memimpin bangsa kelak?

Karenanya, mari kita kembali pada hakikat belajar itu sendiri. Sebelum kita benar-benar kehilangan gairah belajar. Kita tanamkan ke dalam diri bahwa kita harus menjadi pribadi yang tak kenal lelah untuk belajar. Belajar itu pasti berguna.Sekolah itu adalah hal penting. Tidak hanya kepada anak didik kita. Tapi juga kepada diri kita sebagai guru. Saat jatuh, bangkit lagi, belajar lagi dan belajar terus. Jika tidak saat ini, kita akan memetik hasilnya nanti. Teringat kata Imam Syafi’i, “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus menanggung perihnya kebodohan.”

(Tanjungbatu, Karimun, 03 Mei 2018)