Sepotong Jembatan di Lanny Jaya


Senin (27/7) siang, Nasmi Elda Syafrina (26), guru garis depan asal Padang, Sumatera Barat, sudah berada di lokasi penempatannya di SMP di Tiomneri, Kabupaten Lanny Jaya, Papua. Esoknya, ia harus mulai mengajar. Namun, itu tertunda. Jembatan kayu kecil penghubung Tiom-Tiomneri putus.Pemandangan kawasan Tiom, ibu kota Kabupaten Lanny Jaya, Papua, Selasa (28/7).

Saat itu, kayu tembus jembatan kayu. Beberapa balok kayu patah dan sebuah truk terperosok ke dalam sungai Jembatan tersebut jarak 10 menit menyusuri jalan berbukit dari Tiom, ibu kota Kabupaten Lanny Jaya. Jarak Tiom ke Tiomneri sekitar 30 menit menggunakan kendaraan. Elda, guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan itu, sebenarnya sudah menunggu hari pertama mengajar. Dua pekan sebelumnya, dia tiba dari Wamena, Jayawijaya. Apa daya, karena jembatan putus, ia harus bersabar. Demikian pula para calon anak didiknya.

Jembatan putus itu tehadap arahan dan letaknya. Batal menuju lokasi penempatan. Mereka diantar Sekretaris Pemkab Lanny Jaya Christian Sohilait. Iringan dua kendaraan pengangkut guru-guru itu akhirnya harus “balik kanan”. Hingga Selasa lalu, Elda dan beberapa teman masih menunggu-nunggu kepastian kursi masing-masing.

Jembatan di daerah itu, sangat kecil dan sangat tangguh. “Begini sudah kami. Jembatan putus begini saja, rencana-rencana jadi kacau semua, “kata Christian yang kemudian menginstruksikan sopir untuk bertransaksi setelah melihat kondisi guru-guru di SMP 2 Tiom.

Kabupaten Lanny Jaya yang dimekarkan dari Kabupaten Jayawijaya melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Lanny Jaya di Provinsi Papua beberapa pekan ini menjadi perhatian publik nasional.

Cuaca dingin ekstrem yang melanda daerah itu pada 3-5 Juli 2015 membuat pertanian masyarakat rusak. Belasan warga. Hujan salju turun di ringkas daerah, menjadikan masyarakat di Distrik Kuyawage, Wano Barat, dan Goa Baliem di Lanny Jaya terancam kelaparan.

Akses transportasi darat dan udara tidak hanya mobilitas warga. Minimnya akses dan kondisi alam yang berbukit-bukit juga menjadi pilihan dalam perbaikan.

Upaya pengiriman bantuan mau mau mau jalan terbang, menggunakan pesawat kecil yang hanya bisa mendarat di Kuyawage. Berton-ton bantuan itu selanjutnya susun ke 11 kampung di Kuyawage dan 8 kampung di Wano Barat. Di Goa Baliem, bantuan dikirim melalui Distrik Malagaineri untuk diambil masyarakat di tujuh kampung yang jarak tempuhnya bisa ikut berjalan kaki.

Itulah yang dilakukan belasan warga Kampung Wamiru, termasuk Etinus Wanena (37). Wamiru kampung terjauh di Goa Baliem. Etinus berangkat subuh dan baru tiba di lokasi penyerahan bantuan pada petang hari. Bekal makanan pun hanya air putih dan sedikit ubi tak segar.

Persoalan baru datang setelah bantuan diterima karena mereka harus memanggul karung beras seberat 50 kilogram dan melalui jalan tanah turun naik. Tak mengherankan jika baru berjalan 25 menit, Etinus istirahat. Napasnya tersengal.

Faktor keamanan

Sebagian masyarakat agar agar bisa dan tidak bisa langsung menuju kampung-kampung. Dengan begitu, warga yang kekurangan makan tak harus berletih-letih mengangkut karung beras 50 kilogram berjam-jam.

Namun, penggunaan helikopter membutuhkan biaya mahal. Itu pun dengan kemampuan angkut yang lebih rendah dibandingkan pesawat-pesawat kecil. Informasinya, biaya sewa pesawat dari Tiom ke Kuyawage berkisar Rp 21 juta-Rp 27 juta. Perjalanan udara sekitar 30 menit sekali jalan. Biaya sewa (carter) helikopter swasta mencapai Rp 4 miliar.

KOMPAS / Ichwan SusantoPendidikan merupakan investasi bagi masa depan bangsa, termasuk di Papua yang selama ini kualitas sumberdaya manusianya masih tertinggal dibanding daerah lain di Nusantara. Guru dan guru di Kabupaten Iwan, Papua, yang pada tahun 2008 dimekarkan dari Kabupaten Jayawijaya. KOMPAS / Ichwan Susanto

Bagaimana jika menggunakan helikopter TNI dan polisi? Warga biasa tidak menghendakinya. Saat Kompas melantik Ketua DPRD Lanny Jaya Terius Yigibalom yang ditinggali Kuyawage, dengan bahasa suku Lanny, warga di sana mewanti-wanti pemerintah agar tak terkait tentara dan polisi.

“Daerah itu terkenal sebagai daerah ‘merah’,” kata orang Kristen. Maksud daerah merah dengan ketidakamanan. Daerah itu bersama dengan majelis majelis pimpinan Purom Wenda yang sedang menikmati Pegunungan Tengah.

Keberadaan kelompok itu pula yang disebut-bangun pembangunan jalan di Lanny Jaya terkendala. Kegiatan kelompok itu menyandera pekerja pembuatan jalan (Kompas, 12 Mei 2015). Setidaknya 10 anggota TNI / Polri mati diserang di Lanny Jaya sepanjang 2011-2015.

Kondisi politik dan keamanan Lanny Jaya juga pernah berhasil guru-guru Sarjana Mendidik di Daerah Tertinggal, Terluar, dan Terdepan (SM3T) dipulangkan sebelum selesai. “Cerita Lanny Jaya daerah merah ini dari kakak-kakak SM3T,” kata Jenopa Pardosi (25), guru SM3T dari Universitas Negeri Medan, yang terakhir terakhir di SMP 2 Tiom.

Ia juga pernah diungsikan saat terjadi penembakan di Distrik Pirime tahun lalu. Distrik itu dilintasi jalur utama Tiom-Wamena sejauh hampir 100 kilometer yang sebagian besar ruas jalannya masih perkerasan. Tahun lalu, waktu tempuh melalui jalur ini mencapai 4-5 jam karena kecepatan lumpur. Kini, jalur ini ditempuh sekitar 2,5 jam setelah dilakukan perkerasan.

Tahun ini, Lanny Jaya banyak jalan antarkota distrik terhubung, bahkan terhubung dengan Ilu (Kabupaten Puncak Jaya), Ilaga (Kabupaten Puncak), dan Kabupaten Nduga. Pada tahun keempat ini, pemerintahan pasangan kepala daerah pertama Lanny Jaya, Bupati Befa Yigibalom dan Wakil Bupati Berthus Kogoya, masih penuh menerobos 10 kilometer jalan Tiom-Malagaineri-Kuyawage yang sampai sekarang belum terbuka.

Lanny Jaya belum seindah namanya. Doa tentang kejayaan warga masih harus diwujudkan dengan segala daya-upaya. Sebelum akses jalan, pendidikan, dan kemandirian makanan terwujud, pemerintah harus mampu memenangi hati warganya. Jangan lagi bangun tidur dan harapan guru serta anak didik, masa depan bangsa.

Penulis : Admin MSI

Admin MSI , Total 49 Tulisan .

Penggiat Literasi

(Dikunjungi : 101 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda