Surat Cinta untuk Bu Guru

Tepat satu bulan resmi memegang kelas di semester ini, saya coba untuk mengajak anak-anak memberikan kritikan dan saran terhadap saya sebagai gurunya. Saya ingin mengetahui pandangan mereka pada saya dan sebagai evaluasi untuk ke depannya. Bentuknya berupa surat cinta agar bahasanya bisa mereka buat semampu dan semenarik menurut mereka. Pun, hitung-hitung memperbanyak latihan menulis dengan rapi, bersih, dan dengan ejaan yang benar. Meski mereka masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar, saya pikir mereka sudah bisa diajak untuk mengungkapkan perasaan dan tanggapannya secara tertulis. Tersebab dalam materi pelajaran Bahasa Indonesia untuk mereka juga selalu bertemu dengan kegiatan menulis dan menyampaikan tanggapan.

Nyatanya, menulis tak semudah mengutarakan secara langsung. Padahal, mengutarakan secara langsung juga tak semudah menulis bagi sebagian orang. Tak hanya orang dewasa, terlebih pada anak-anak yang sedang belajar membaca dan menulis.

Saya dibuat senyum-senyum sendiri membaca surat cinta dari mereka itu. Ada yang berupa puisi dan ada juga yang berupa kritik dan saran saja. Sama halnya ketika saya menanyakan langsung kepada mereka tentang apa yang mereka tidak suka dari saya. Secara serempak mereka mengatakan, “Merepeeet!” Menggelegar sudah seisi ruang kelas dengan protes mereka. Hal pertama yang mereka katakan tentang saya adalah saya suka merepet alias mengomel. Hah! Benar saja yang mereka katakan. Hampir tiap saat saya merepet. Merepet melihat mereka berjalan santai memasuki kelas, merepet melihat mereka santai-santai dalam mengerjakan tugas hingga akhirnya jam pelajaran selesai, merepet karena kelas kotor, dan paling suka merepet karena mereka selalu mengatakan, “susah, Buk. Gak bisa, Buk.” Itu adalah hal yang paling membuat stres seorang guru. Belum apa-apa sudah bilang tidak bisa dan susah. Begitu giliran saya menjelaskan dan menanyakan apakah ada yang tidak dimengerti, mereka mengatakan sudah mengerti. Problema siswa yang hampir ditemui di setiap tingkat pendidikan.

Kembali ke surat cinta dari anak-anak tadi. Seusai kelas, saya coba baca dan pahami tulisan mereka. Beruntung jika menemui beberapa anak yang sudah bisa menulis dengan rapi, jika tidak, perlu memasang mata besar untuk mengetahui dengan pasti jenis huruf yang ditulisnya. Saya baca dengan cinta pula sebab sejak menginjakkan kaki di tanah rantau ini, saya sudah bertekad akan senantiasa belajar memahami setiap siswa saya sebagaimana dia belajar.

What a surprise!

Ada banyak hal yang saya temui dari tulisan-tulisan mereka. Dari surat mereka saya menyimpulkan bahwa anak-anak itu benar-benar memperhatikan saya. Ada anak yang menuliskan bahwa ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita saya yang memang senang bercerita meskipun saya juga sering marah-marah, lalu dia bilang dia tetap sayang sama saya. Betapa bahagianya saya. Ada anak yang mengatakan bahwa ia tidak suka melihat saya bermuka masam dan lalu menangis di dalam kelas. Yah, ini pernah terjadi beberapa kali. Saya kerap hampir menangis sebenarnya melihat hasil latihan, ulangan dan perkembangan anak yang tak sesuai dengan ekspektasi saya.

Rasa-rasanya, saya sudah berusaha menyederhanakan pikiran saya untuk memahami mereka, menggunakan kalimat sederhana yang mudah dipahami, begitupun dalam membuat soal. Saya rasa sudah sangat hati-hati. Tapi kenyataan tak sesuai harapan. Ketika memeriksa nilai di dalam kelas, beberapa siswa mendapati saya terdiam tak seceria biasa dan menundukkan kepala saking bingung. Sembari terus berkata-kata pada diri sendiri, “Ayo dong, semangat, Vita! Ini tuh belum apa-apa. Coba berpikir lebih jernih, lebih kreatif dan menarik. Kamu harus terus belajar. Saya adalah seorang guru, apakah mengajar SMA dan SD itu sama. Tetaplah seorang guru yang harus membimbing siswanya menuju masa depan cerah.” Hati saya terus berkata-kata dan memanasi seluruh tubuh. Emosi saya membara dan lalu saya coba lagi berpikir, besok masuk ke kelas dengan cara apa, biar itu pelajaran lengket di kepala mereka dalam jangka waktu yang lama. Saya menyadari, mungkin masih ada yang salah dengan cara saya. Tapi saya berjanji akan belajar lebih baik lagi dan senantiasa melakukan perbaikan.

Lanjut pada surat-surat siswa berikutnya yang juga kebanyakan diawali dengan protes kepada saya yang suka marah-marah. Satu ini berbeda. Ia menulis bahwa ia senang karena saya selalu datang tepat waktu. Rupanya ada juga anak seusia mereka yang menyadari tentang aplikasi sikap disiplin ini. Saya jadi terharu dengan tulisannya yang rapi dan enak dibaca. Terimakasih sudah menghargai usaha saya untuk menjadi guru yang disiplin dan mencintai kalian setulus hati.

Ada lagi yang menarik. Seorang siswa menuliskan bahwa ia senang saya membicarakan hal-hal baik. Ya Allah, runtuh semua penat-penat di tubuh saya ketika ada siswa yang bisa menangkap maksud saya. Ia menjelma menjadi dewasa dalam satu kalimat di tulisannya itu. Saya sudah berjanji kepada diri sendiri, ketika saya dalam keadaan marah sekalipun, saya berusaha jangan sampai mengeluarkan kata-kata kasar dan menjatuhkan mental siswa. Karena saya juga tidak suka diperlakukan seperti itu. Dalam setiap kalimat yang akan saya keluarkan, sebisa mungkin saya mengaitkannya dengan contoh sikap-sikap religius dan sosial dalam kehidupan. Termasuk merutinkan cerita amal jariyah yang bisa dilakukan oleh seorang anak kepada orang tuanya. Bagi saya, sesukses apapun kita, ridho orang tua adalah yang utama. Kebaikan-kebaikan serta keberhasilan kita adalah buah dari didikan dan doa orang tua kita.

Ketika kita hendak membentuk karakter positif seorang anak, kita harus memulainya dari diri kita terlebih dahulu. Ketika kita menginginkan anak menjadi baik, biasakan bersikap baik dan menceritakan contoh-contoh baik yang ada di sekitar kita maupun dari orang-orang sukses di luar sana. Dan lucunya, ada juga siswa yang begitu memperhatikan berapa kali saya puasa ketika mengajar dan memberikan dukungan kepada saya agar tetap ceria mengajar meski sedang puasa.

Ada lagi yang protes gak suka disuruh membersihkan papan tulis dan kemudian sering mendapat tugas menulis. Speechless. Gak semua anak suka piket kelas tapi ini bagian dari gotong royong. Dan yang paling tidak bisa dihindari adalah berfoto. Anak-anak mengatakan sangat senang karena saya suka mengajak mereka berfoto, bercanda dan kadang-kadang berpura-pura. Bagi saya, meskipun sudah menjadi orang dewasa, tetap saja bertemu dengan anak-anak itu tidak bisa tidak untuk ekspresif. Foto, canda, pura-pura dan menggoda adalah cara saya untuk senantiasa dekat dengan mereka. Tak bisa bohong jika hati sedang penat, ada banyak rasa-rasa aneh yang datang. Oleh karenanya, jangan kasih kendor pada semangat. Sebab semangat adalah kekuatan utama dalam bergerak.

Jika mereka bertanya kepadamu tentang semangat, jawablah bahwa bara itu masih tersemat dalam dadamu. Bahwa api itu masih bersemayam dalam dirimu. Bahwa matahari itu masih terbit di hatimu. Bahwa letupan itu siap meledak dalam duniamu. Katakan itu pada orang-orang yang ragu akan kemampuan dirimu. Karena mimpimu saat ini adalah kenyataan untuk hari esok. (Hasan Al-Banna)

Begitulah adanya. Anak-anak sangat memperhatikan gurunya. Anak-anak merekam dengan kuat apa-apa yang kita lakukan. Anak-anak senang kalau kita senang pada mereka. Jangan pernah anggap anak-anak itu tida bisa menilai kita selayaknya penilaian orang dewasa. Kita akan temukan banyak kejutan dari penilaian mereka. Tetap semangat Bapak dan Ibu Guru! Teruslah belajar menjadi guru yang mencintai dan dicintai siswanya!

Tanjung Batu, Karimun, 02 Februari 2018