Memilih Menjadi Guru Pelosok


Berangkat dari kegelisahan
Agustus 2011 adalah moment yang pertama kali dalam perjalanan hidup saya dalam menyandang gelar akademik (Sarjana Pendidikan). Suatu kebanggan tersendiri bagi saya setelah disematkan gelar tersebut, namun tak lama kemudian kebanggaan tersebut terkalahkan oleh rasa ketakutan akan tanggung jawab gelar. Mengapa? Sebab jika saya tak mampu mengolah dengan baik gelar yang telah diletakkan di atas pundakku maka ia bisa membuatku jatuh dan lebih hina dari kupu-kupu malam yang menjual dirinya di trotoar malam. Karena gelar bukanlah sebuah kebanggan utama jika tak mampu mengaplikasikannya dan mewujud nyata dalam kehidupan sehari-hari. Berangkat dari kegelisahan-kegelisahan itulah melalui program SM-3T, tepatnya pada bulan Desember 2011 saya memutuskan untuk bergabung menjadi tenaga pengajar (pendidik) sebagai bentuk pertanggung jawaban gelar.

Awal mula jatuh cinta menjadi guru
Desember 2011, adalah awal mula saya terjun langsung untuk menjadi seorang guru. Tentunya bukan sebuah pekerjaan yang main-main. Sebab menjadi seorang guru merupakan suatu peranan yang sentral, begitu kompleks. Guru harus bertanggung jawab dalam merencanakan dan menuntun murid – murid melakukan kegiatan – kegiatan belajar untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Seorang guru juga harus mampu membina, mengembangkan watak dan kepribadiaan siswa sehingga mereka memiliki kebiasaan, sikap dan cita – cita, berpikir dan berbuat, berani dan bertanggung jawab, ramah dan mau bekerjasama, bertindak atas dasar nilai – nilai moral yang tinggi atau dengan kata lain menjadi manusia yang berwatak (berkarakter). Guru pun harus mampu berinteraksi dengan masyarakar sekitar, menjadi agen solutian bagi masyarkat setempat. Selain itu kesediaan seorang guru ditempatkan dipelosok manapun merupakan suatu keharusan dalam pengabdian yang menuntut pengorbanan. Pilihan menjadi guru sejak tahun 2011 merupakan langkah awal saya dalam membentuk diri saya menjadi pribadi guru masa depan bangsa dan semua itu saya dapatkan melalui program SM-3T yang kemudian dlanjutkan dengan program PPG berbasis asrama selama setahun. Di SM-3T lah saya menemukan beberapa ketimpangan-ketimpangan permasalahan pendidikan, mulai dari ketersediaan tenaga pangajar, keterbatasan sarana dan prasarana serta beberapa permasalahan lainnya. Permasalahan itulah yang membuat saya jatuh cinta untuk menjadi guru.

Terlanjur jatuh cinta menjadi guru
Berangkat dari pengalamam menjadi guru SM-3T selama kurung waktu setahun, sejak itulah saya memutuskan untuk menjadi guru. Sejak saya menyelesaikan program SM-3T yang dilanjutkan dengan PPG berbasis asarama maka saat itu pula saya tekun mencintai profesi yang saya geluti. Sebulan setelah menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru pada tahun 2014 saya diterima disalah satu sekolah swasta bertaraf International yang terletak di kota Makassar. Selama kurang lebih setahun mengajar di sekolah tersebut kerinduan untuk mengajar di daerah pelosok kembali memuncak. Ada kegelisahan tersendiri jika masa muda ini tak bisa terlibat dalam memenuhi pemerataan tenaga pengajar di daerah pedalaman. Pada akhir tahun 2014 pemerintah pusat membuka pendafataran CPNS untuk formasi guru melalui jalur khusus untuk memenuhi kebutuhan tenaga guru di pelosok. Penerimaan saat itu dikhususkan bagi para alumni SM-3T yang gelah mengantongi sertifikat pendidik. Tanpa berpikir lama-lama saya memutuskan untuk mengikuti seleksi penerimaan CPNS tersebut. Almhamdulillah, puji Tuhan karena atas keterlibatanNya saya dinyatakan lolos dalam seleksi tersebut dan di tempatakan di Kabupaten Sumba Timur. Dan tepat 1 April 2015 adalah TMT saya sebagai CPNS, kemudian per 1 Juni 2015 adalah SPMT saya dan mulai saat itu saya melaksanakan tugas jabatan sebagai guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di SMP Negeri Satap Umandundu, Kec. Pinu Pahar. Alhamdulillah akhirnya kerinduan dan kegelisahan untuk mengajar di pelosok dapat terjawab.

Dalam perjalanan menjadi guru di pelosok banyak hal yang kami dapatkan yang sangat jarang saya temui di kota-kota yang tergolong maju. Dipelosklah saya menemukan Indonesia dalam bingkai kekeluargaan, hidup bergotong royong, kerjasama, peduli serta saling akrab antar sesama warga.

Penulis : Aprisal Al Nahli

Aprisal Al Nahli , Total 3 Tulisan .

(Dikunjungi : 151 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
1
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda