Di mana Alamat Rindu?


Nikmatnya secangkir demi secangkir kopi yang kunikmati di sebuah kedai kopi (Coffee85) 4 hari belakangan serasa berbeda, ada aroma lain yang larut dan mengalir bersama setiap teguknya. Aroma khas yang mengantar pada tanda tanya “mengapa aku masih di sini? Mengapa aku tak bersua dengan mereka? Tertawa bercanda bersama, bukan hanya duduk terpaku menikmati tiap teguk kopi bersama kesendirian”.

***

Empat bulan sebelumnya di Kota Daeng (julukan Kota Makassar) aku selalu berucap “aku rindu berkeringat, aku merindukan bau badanku.” Aku berusaha mencari alasan beroleh minyak yang menembus pori-pori badanku hingga akhirnya kerinduan itu kutuntaskan dengan lompatan demi lompatan dan pukulan demi pukulan di lapangan volli berukuran secukupnya. Tidak cukup sampai di situ, melunasi sebuah rindu hanya menciptakan kerinduan baru yang selalu menagih raga untuk melunasi, dan begitu seterusnya.

Benar saja, rindu benar-benar datang lagi dengan rupa yang berbeda. Aku merindukan gemercik aliran air, merindukan irama nyanyian jangkrik, merindukan bau pepohonan, merindukan lembab udara pegunungan dan serangkaian kerinduan itu selalu menyesaki pikiranku lagi dan lagi, hingga kutafsirkan itu sebagai kerinduan pada kampung halaman.

Ketika kupijakkan kembali kaki di kampung halaman, kunikmati simfoni yang tercipta dari gemerincing aliran air, irama nyanyian jangkrik, riuh deru angin menerpa pepohonan dan dedaunan kering, serta sejuknya udara pegunungan yang merayu mata terpejam serta menghirup lembut aliran udara. “Aku memang menikmati segala yang kurindui di kampung kecil ini tapi serasa bukan tempat ini yang benar benar kurindu” gumam dalam pikirku.

***

Hasrat untuk menemukan kerinduanku itulah yang menuntunku kembali angkat kaki dari tanah kelahiranku sampai ke tempat ini di Bumi Mekongga (julukan Kabupaten Kolaka). Benar saja di tempat ini kembali kujumpai segala yang kurindukan seperti halnya ketika berada di tanah kelahiranku, namun tetap saja terlintas dalam pikiranku bahwa bukan ini yang benar-benar kurindukan. Ada hal lain yang tak kutemukan dalam pencarianku dan hal itu lagi-lagi tidak kutemukan tubuh Mekongga.

Sampai saat ini, saat kutuliskan ceritaku ditemani secangkir kopi hitam di samping kananku, pikirku masih melayang-layang bernostalgia pada seluruh ingatan akan tempat, suasana, tokoh, dan peristiwa yang terlewati, serta membuka kembali lembaran demi lembaran cerita yang pernah kutuliskan. Dengan penuh harap dapat menjumpai jawaban dimana alamat rindu yang kucari?

***

Sesekali timbul jenuhku menatap layar komputer yang mulai dipenuhi animasi jeda berbentuk gelembung-gelembung sabun. Kuangkat lagi gelas beningku kemudian menyandarkan lelahku pada anyaman jemari yang kubentuk di belakang leherku. Seketika kisah bersama 12 purnama di kampung orang terlintas dalam benakku.

Memang mendidik di daerah terdepan terluar dan tertinggal selalu menjadi kisah yang tak bosan kuceritakan pada siapapun yang kujumpai. Bermula dari saat kusampaikan niatku untuk tergabung dalam Sarjana Mendidik di daerah Terdepan Terluar Tertinggal (SM-3T) pada sang ibu yang sempat tidak beroleh restu. Tentang upayaku meyakinkan hingga beliau merelakanku untuk mengabdi jauh dari jangkauannya mengabdi di tempat yang lengkap dengan segala keterbatasan fasilitasnya.

Pengabdian di Borneo (julukan Pulau Kalimantan) juga tak lepas sebagai kebanggan dalam ceritaku. Bermula saat pertama kali menapakkan kaki di sana 21 agustus 2015 lalu, sekamar dengan orang yang belum kukenali yang ternyata akan menjadi rekan tugasku selama setahun di pelosok Bumi Batiwakkal (julukan Kabupaten Berau), dan mulai mengakrabkan diri dengan orang-orang asing di lokasi tugas. Ya, benar-benar asing mulai berbeda suku, budaya, bahkan agama, tapi satu hal yang sama yaitu kami semua adalah putra-putri pertiwi yang ingin menikmati pendidikan yang layak. Dipersaudarakan oleh SM-3T dengan  orang-orang hebat yang satu tujuan yaitu Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia, serta.

Salah satu perkampungan kecil bernama Long Lamci yang tersembunyi di balik lebatnya pepohonan yang menyelimuti hutan Borneo Sesekali membuat senyumku mereka kala mengenang segala kelucuan dan keseruan yang kualami bersama masyarakat dan 31 bocah istimewa di kampung tersebut. Bukan hanya tentang betapa ramahnya penduduk kampung, dan penghargaan yang kuterima dari warga yang sangat arif atas upayaku mencerdaskan anak-anak bangsa yang jauh dari belaian pendidikan yang layak, tetapi juga tentang segala mimpi, harapan, cita-cita, semangat, dan keceriaan yang kubagi maupun kuperoleh dari pengabdianku yang hanya setahun.

Kisah setahun di pulau Kalimantan memang takkan pernah habis untuk kuceritakan meskipun terkadang aku harus menikmati kebingungan karena tak tahu kisah istimewa yang mana yang harus kuceritakan terlebih dahulu. Namun satu hal yang mungkin hanya aku dan tuhan yang tahu, tentang baribu alasan tanah borneo untuk selalu kurindukan.

***

SM-3T dengan semangat Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI) yang mengantarkanku ke pelosok Borneo dengan segala kearifannya yang masih lekat dalam memori menjadi tempat singgah perjalanan nostalgia ingatanku yang tak habis untuk dijelajahi. Bahkan berapa banyakpun kopi yang tersuguh di hadapanku sebagai pendamping cerita takkan cukup menemani hingga kisah tuntas tergambar oleh kata.

Orang bijak berkata bahwah rumah adalah tempat segala rindu tumpah rua dan berpadu, namun sampai saat ini aku belum tahu kemana rinduku akan tumpah rua dan bermuara. Biarlah pemngabdian yang membawaku menemukan muara bagi kisahku dan satu-satunya rumah tempat untuk kembali.

 

Penulis : Ahmad Kurniawan

Ahmad Kurniawan , Total 6 Tulisan .

(Dikunjungi : 52 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
1
Sangat Suka

Komentar Anda