Sabah Bridge Merawat Mimpi Anak TKI di Negeri Jiran


Salah satu hak mutlak yang dimiliki oleh anak ialah pemenuhan kebutuhannya akan pendidikan. Keinginan dari diri sendiri untuk melanjutkan pendidikan adalah pondasi paling dasar. Lalu bagaimana jika yang dimiliki hanyalah pondasi saja?

Di Malaysia, dari 53.687 anak Indonesia yang ikut merantau bersama orangtua mereka, hanya 24.856 yang terlayani pendidikannya. Mereka mengenyam pendidikan di Pusat Belajar Humana dan Community learning Center (CLC) yang difasilitasi oleh pemerintah Indonesia bersama perusahaan tempat mereka bekerja. Lebih dari separuhnya masih belum merasakan bangku sekolah. Setidaknya begitulah data yang diberikan oleh Kemendikbud pada tahun lalu.

Community Learning Center ini pun hanya melayani hingga tingkat SMP. Untuk SMA atau SMK, di Sabah hanya ada satu yakni di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu. Sedangkan Pusat Belajar Humana hanya setingkat SD. Ijazahnya pun hanya berupa sertifikat bukti belajar dan tidak resmi untuk melanjutkan ke SMP di CLC apalagi di SMP tanah air. Mereka harus mengikuti ujian Paket A terlebih dahulu.

Beruntungnya, pemerintah kita melalui Kemdikbud memberikan beasiswa repatriasi untuk mereka melanjutkan SMA di tanah air. Tahun ini, khusus untuk Sabah diberikan kuota 500 anak dengan biaya pendidikan yang ditanggung hingga 2 juta per bulan. Seleksinya baru-baru dilaksanakan pada pertengahan Februari lalu bersamaan dengan beasiswa yayasan yang berhasil didapatkan oleh relawan Sabah Bridge.

Seleksi yang dipusatkan di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu dan CLC Sungai Balung yang diselenggarakan oleh Sabah Bridge bekerja sama dengan KJRI Kota Kinabalu dan KRI Tawau tersebut menyaring 714 siswa kelas IX dari CLC-CLC yang tersebar di negara bagian Sabah, Serawak dan Johor Baru. Jumlah yang cukup banyak. Namun sebenarnya masih ada sekitar kurang lebih 400-an siswa lagi yang tertinggal. Sebab peserta ujian SMP untuk tahun ini khusus di daerah Sabah berkisar di angka 1.100 siswa. Salah satu faktor paling dominan yakni tidak diberikannya ijin dari orangtua untuk melanjutkan pendidikan lagi. Terlebih bila anak-anaknya sudah kuat bekerja di ladang sawit.

Kolaborasi Pendidik
Dua bulan sebelum pelaksanaan Seleksi Beasiswa Repatriasi, Sabah Bridge yang dibentuk oleh Guru Bina kiriman Kemdikbud untuk anak-anak Indonesia di Malaysia ini melakukan sosialisasi. Mereka terlebih dahulu memberikan pemberitahuan kepada guru-guru di CLC termasuk guru lokal. Dari guru-guru di CLC inilah kemudian dilanjutkan kepada siswa dan orangtuanya. Sebab, seperti yang sudah saya informasikan, bahwa faktor penghalang utama mereka adalah ijin dari orangtua. Tidak sedikit dari mereka yang harus mendatangi orangtua siswa berkali-kali demi untuk memohonkan ijin bagi anaknya sendiri.

Alumni-alumni CLC yang saat ini telah berhasil masuk ke universitas ternama pun didatangkan untuk berbagi inspirasi kepada adik-adiknya. Termasuk pula berbagi cerita tentang mimpi pemungut biji sawit yang dulu dirasanya hampir mustahil kepada para orangtua.

Kolaborasi tersebut tak sampai di situ saja. Pendaftaran beasiswa yang memerlukan dokumen membuat guru-guru di semua CLC harus rela mengurusi hingga ke kantor konsulat. Sebab, kebanyakan siswa mereka masih belum memiliki dokumen, Setelah itu, mereka kembali mengantarkan siswa-siswanya ke tempat seleksi yang jaraknya hingga ratusan kilometer.

Mengajukan Kerjasama dengan Sekolah Tujuan
Sekolah tujuan beasiswa ternyata tidak serta merta ditetapkan. Hal pertama tentu harus ada kesediaan dari pihak sekolah untuk menerima anak-anak dari Sabah. Koordinator Pendidik Sabah, Bapak Dadang Hermawan, memberikan kriterianya sendiri yakni sekolahnya musti kuat dalam pembinaan karakter.

Sebab Beasiswa Repatriasi Kemdikbud jumlahnya terbatas pada angka 500, relawan Sabah Bridge kembali mencari cara untuk mendapatkan kuota tambahan selain bagi mereka yang mampu menanggung biaya secara mandiri. Para relawan Sabah Bridge pun menghubungi yayasan-yayasan yang bersedia menggratiskan biaya sekolah untuk alumni dari Sabah. Dari hasil gerilya tersebut, didapatlah kuota tambahan hingga 140 dengan kriteria sekolah yang tetap sama yakni memiliki program pembinaan karakter.

Pendampingan Berkelanjutan
Memasuki periode kelima, Sabah Bridge ternyata tidak hanya bekerja untuk menemukan sekolah SMA untuk anak-anak TKI dari Sabah. Saat anak-anak didiknya telah berhasil melanjutkan sekolah di tanah air, mereka tetap memantau perkembangannya. Barangkali dikarenakan oleh rasa tanggung jawab sebagai orangtua kedua sekaligus orangtua dari mimpi siswanya. Saya menduga, dan mungkin anda pun sepakat, bahwa perihal itu tak mungkin berkembang jika jiwa pengabdian tidak mengakar kuat di dalam dada.

Saya turut bangga diikutkan sebagai panitia Seleksi Beasiswa Repatriasi tersebut. Saya kembali belajar tentang hal-hal yang sebelumnya hanya banyak saya temukan di lingkaran Masyarakat SM-3T.

Pada malam terakhir, di lingkaran briefing, saya pun baru tahu bahwa alumni SM-3T di situ bukan hanya saya, dua, tiga, empat, lima orang saja. Ternyata ada banyak. Dan, tentang pengabdian yang begitu kokoh, barangkali saya tak perlu heran lagi.

Penulis : S. Marindra

S. Marindra , Total 8 Tulisan .

(Dikunjungi : 327 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda