Ada Tanah di Papan Tulis


Tahun 1972, ibuku dilahirkan, Yon Koeswoyo malah jalan-jalan. Tapi tidak apa-apa, kalau tidak begitu, mungkin ‘Kolam Susu’ tidak akan pernah ada. Pada perjalanan itu, di Desa Dualus, Kakuluk Mesak, Belu, NTT, Yon Koeswoyo melihat Kolam Susuk, sebuah kawasan tambak ikan bandeng yang ramai oleh pohon bakau dan dipagari oleh bukit batu. Dari sana, Yon menyaksikan betapa indahnya Indonesia, sehingga rilislah lagu ‘Kolam Susu’ pada tahun 1973. Dan aku, yang dari dulu hanya ikut-ikutan menyanyikan lagu kolam susu tanpa mengerti maknanya, tidak membayangkan bahwa pada suatu hari, lagu itu akan kugunakan sebagai media untuk menggambarkan betapa beruntungnya ‘menjadi Indonesia’. Dengan peta sederhana (tidak jelas,lebih tepatnya) aku mengajar terbata-bata.

***

Anak-anak memiliki latar belakang yang beragam. Ada yang lahir di Indonesia, kemudian dibawa ke Sabah. Ada yang lahir di Sabah, kemudian dibawa ke Indonesia. Ada yang lahir di Sabah, dibawa pulang ke Indonesia, ditinggalkan dengan keluarga di sana, kemudian dibawa lagi ke Sabah. Ada pula yang lahir di Sabah, besar di Sabah dan tidak pernah pulang sama sekali. Ada juga yang tidak tahu wajah kakek dan neneknya, karena ayah ibunya sudah di Sabah sejak muda. Dari apa yang mereka tulis, betapa mereka ingin pulang, naik kapal Siguntang, merasakan angin laut yang segar, melihat padi, mandi di sungai, menimba air di sumur, makan kapurung yang dimasak di dapur nenek. Namun kondisi ekonomi membuat mereka harus menunda keinginannya. Sehingga bagi mereka, kampung dan tanah air adalah sebuah cerita.

“Bu,” murid kelas delapan mengangkat tangan.

“Ya?” tanyaku menghentikan penjelasan.

“Tapi aku pernah tidak suka Indonesia,” aku seperti tersengat mendengar pernyataannya.

“Kenapa?”

“Banyak yang buat kecewa,” katanya dengan raut muka yang sama dengan apa yang diungkapkannya.

Aku kemudian menceritakan banyak hal, tentang kenapa dia tidak boleh membenci Indonesia atas alasan apapun. Meski dalam hal ini, teman-teman yang lain juga memiliki tanggung jawab yang sama, namun sebagai guru PPKn, misi kebangsaan yang kubawa sedikit berbeda.

“Kalian tahu kenapa guru-guru dikirim ke sini?” tanyaku agak keras.

“Untuk memberi ilmu,” jawabnya lugu.

“ Agar Indonesia tidak hilang!” air mata hangat menetes di kerudungku.

“Kalian lihat ini,” kataku sambil menunjuk-nunjuk Sumatra, Jawa, hingga Papua, air mataku jatuh juga.

“Ini semua punyamu. Kau yang harus jaga. Kau mungkin belum pernah pulang, namun tanah ini, tanah di mana tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman, menunggumu dengan harapan yang tidak pernah tenang. Lihat di seragammu, merah putih sengaja dijahitkan di dadamu, agar kau tahu, dimanapun kau berada, tempatnya akan selalu di sana,” makin deras ia turun.

“Merah darah dan putih tulang yang ada di tubuhmu itu Indonesia, Nak. Hingga kau tua, dia tidak akan berubah warna. Akan selalu begitu, tidak akan bertambah biru,” aku semakin terbata, mereka terbawa.

“Perebutkan beasiswa reaptriasi. Kau akan pulang, ke sini!” kulingkari Indonesia sekali lagi.

Aku lalu menutup spidol. Hingga jam pelajaran habis, masih ada ‘Tanah Syurga’ di papan tulis.

***

Penulis : Rahmi Syalfitri Riska

Rahmi Syalfitri Riska , Total 15 Tulisan .

(Dikunjungi : 109 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
2
Sangat Suka

Komentar Anda