Aku, Papua, dan Kenangan

Akhirnya harus kutulis lagi cerita ini. Cerita tentang perjalanan menemukan makna hidup dan belajar mengajar tentang kehidupan. Masa lima tahun silam dimana energi positif terkumpul begitu nyata. Bertahan, berjuang dan berkarya di pedalaman melalui SM-3T.

Tentu saja, hari ini menjadi sebuah kesyukuran yang begitu besar. Pernah bersama-sama kawan menjelajahi pegunungan tengah dengan segala hiruk pikuk ketegangan di dalamnya. Sampai detik ini, satu kalimat itu senantiasa terus terngiang. Satu kalimat yang menjelma ketakutan dan kemudian diracik menjadi sebuah kekuatan. “Kasihan hidup guru-guru ini. Mereka harus hidup.” Pak Sekda memang pandai sekali menarik ulur perasaan bahagia dalam sekejap menjadi ketakutan dan begitu pula sebaliknya. Dalam sekejap bisa membuat ketegangan menjadi keceriaan. Hingga kita tak pernah menyadari bahwa hidup yang akan kita jalani selama satu tahun bahkan hingga kita rela kembali dengan penambahan waktu selama enam bulan berikutnya menjadi kekhawatiran bagi orang-orang istimewa kita di sudut lain Indonesia ini. Kita begitu menikmati perjuangan ini.

Adaptasi dan Dinamika Secepat Kilat

Seorang teman pernah bilang, kehidupan kami saat itu langsung berubah tiga ratus enam puluh derajat. Kami harus memulai dari nol. Kami terisolir seperti pada peradaban dahulu. Zaman dimana kami tak mengenal perkembangan internet, sinyal dan listrik seperti belum ditemukan peralatannya hingga sistem barter untuk memenuhi kebutuhan hidup. Semoga ini tidak berlebihan karena memang begitu adanya. Bahkan, kestabilan jiwa untuk beberapa waktu ke depannya sulit ditebak manakala seorang teman seringkali menangis menghadapi keadaan yang tak pernah dibayangkan ini. Anak muda yang baru saja tamat kuliah, meninggalkan keluarga serta semua kemewahan dan kebiasaan serba ada, kemudian memulai hidup dari awal.

Tapi kami tahu, Allah memanggil kami lewat program ini bukan tanpa sebab. Saat tak terdengar panggilan azan, kami tetap bisa merasakan bahwa Allah sedang memanggil kami meski malam masih betah di pangkuan alam dan suara bisikan pohon masih menghadirkan kedinginan. Pada suhu yang membuat kulit dan tubuh turut merasakan kehilangan cara untuk sehat, kami harus tetap berjalan semangat dengan target tiga bulan. Setiap orang yang terpaksa harus singgah ke tempat kami dalam misi tugasnya selalu berkata, “ternyata ada guru-guru muda yang mau tinggal di dalam sini.” Itu tak lantas membuat kami goyah.

Well, menjadi guru bagi siswa dan juga para guru, menjadi dokter, menjadi petani, menjadi tukang bangunan hingga menjadi penasehat mengenai pemerintahan desa bahkan pemilihan kepala daerah. Berkawan dengan siapa saja yang ia temui dan bahkan intens berkawan dengan mereka-mereka yang memberikan sinyal positif dalam setiap keadaan. Dituntut bijak dan aktif oleh keadaan.

Semua itu harus dilakoni. Guru SM-3T adalah guru serba bisa yang berada di garis terdepan. Ia peka dan pandai menempatkan dirinya. Kapan ia harus memikirkan keadaan pribadinya dan kapan ia harus bergerak cepat untuk sebuah perubahan di sekitarnya. Karena ia memahami kalimat bijak dari sang guru, Buya Hamka, “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja”

Tiga bulan yang berat. Belum selesai adaptasi lingkungan pada hari pertama menginjakkan kaki di daerah perbatasan yang sarat konflik ini, target ketat dari pemda harus segera dipenuhi. Begitu rupanya jika semangat kerja bertemu dengan target dan disambut baik oleh pengambil kebijakan. Kalau boleh aku menyebutnya. dinamika secepat kilat.

Kerja. Evaluasi. Kerja lagi, evaluasi lagi. Kerja terus dan evaluasi terus. Yes, tiga bulan pertama berhasil. Meski tak sempurna tapi mendekati target maksimal. Semua bersatu pada frekuensi yang sama. Fokus pada penuntasan masalah baca, tulis dan hitung untuk siswa di sekolah. Seperti sekolahku yang sudah lama mati, sebuah energi besar kembali menyala. Manakala melihat dari balik pegunungan di distrik ini yang terdiri dari sepuluh kampung, siswa berbondong-bondong hadir ke sekolah dalam jumlah fantastis setelah diumumkan di gereja-gereja bahwa guru su datang. Esoknya hingga sebulan kemudian, jumlah siswa meningkat drastis. Ini membuat kewalahan para guru SM-3T yang tak boleh berkata saya tidak bisa dan saya tak punya apa-apa untuk diberikan. Kata Bunda kami, pengelola SM-3T Universitas Riau, guru SM-3T itu adalah guru di atas rata-rata dan bekerjalah di atas rata-rata. Sebuah tekanan tapi juga suntikan motivasi.

Keadaan apapun itu harus senantiasa disyukuri karena dengan kita bersyukurlah, maka hidup kita menjadi lebih tenang. Tiga bulan berlalu, senyuman mulai menghiasi wajah-wajah guru SM-3T ini dan semakin semangat untuk berkarya. Membuat kerja inovasi untuk pendidikan dan masyarakat. Meski di luar Papua, kerja-kerja itu dianggap sebagai hal-hal sepele dan sebelah mata. Tapi di Papua, itu semua sangat berharga. Di sinilah peranan kolaborasi dan inovasi.

Tentang pentingnya memiliki cita-cita, harga diri, konsep hidup hemat dan menabung, konsep hidup bersih dan bersahabat yang menunjukkan tingkat keimanan, hingga pentingnya eksistensi diri dan kebanggaan sebagai anak Indonesia. Semua kegiatan diramu begitu sederhana dan kontesktual, menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Tapi yang harus dicatat adalah pikiran untuk terus maju itu harus terus dipupuk agar tak kehilangan penutur turun temurun di generasi selanjutnya.

Agar Kau Tak Terus Menghitung

Ranah pengabdian seharusnya tak berbeda dengan ranah profesional. Keduanya adalah bentuk ibadah kita kepada Sang Pencipta agar kelak kita bisa pilih salah satu kunci menuju surga. Tapi kenyataannya, kita pun tak memungkiri bahwa semangat itu naik turun seperti iman. Adakalanya kita rindu kampung halaman dan bersantai menikmati keadaan semulus jalan tol. Adakalanya kita sangat peduli dengan sekitar dan sewaktu-waktu kita sangat tidak peduli dengan sekitar. Sebagai guru, selemah-lemahnya iman untuk tidak peduli adalah tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, tetap hadir ke sekolah meski fisiknya sakit. Tetap berbuat meski ia tahu itu belum tentu berhasil. Agar apa? Agar kita tak perlu menghitung-hitung kapan waktunya kita pulang ke kampung halaman. Waktu pulang itu akan tiba dengan sendirinya karena kita tahu satu tahun adalah waktu yang pasti dan sudah kita sepakati untuk melakukan perjuangan. Agar kita tak perlu menghitung-hitung apa yang sudah kita kerjakan. Utamanya, agar kelak kita punya jawaban di hadapan Allah, kita gunakan untuk apa ilmu kita.

Kuncinya adalah target, rencana dan impian. Apa yang hendak kita inginkan dari proses ini harus didudukkan dari awal. Seperti menentukan start. Setelahnya, kita akan mengerucut pada target dan langkah strategis untuk mewujudkannya. Agar kita tak lari dari orbit yang membawa kita hingga ke pelosok Indonesia. Agar tercapai cita-cita pendidikan nasional mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sebuah kalimat bijak berikut barangkali perlu kita simpan dalam ingatan, “kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dengan keburukan yang terorganisir.” Perbuatan baik jika tak direncanakan dengan baik akan kalah dengan perbuatan buruk yang direncakan dengan baik. Itu sebabnya kenapa jika ranah pendidikan tak dikelola dengan baik, akan kalah dengan dampak globalisasi yang dikelola dengan baik. Tak heran jika keberanian siswa mengancam hidup para gurunya hingga narkoba dan gaya hidup bebas menyebar bak wabah penyakit menular. Kita tak bisa menutup mata bahwa pendidikan pun harus beranjak mengimbangi pengaruh digitalisasi. Tanggung jawab kita sebagai guru sangat banyak.

Oleh karenanya, mari bersama mengambil peran kebaikan ini. Kita ingat kembali perjuangan kita mulai dari SM-3T hingga saat ini. Tak lupa senantiasa kita tingkatkan doa agar senantiasa diluruskanNya niat-niat kita dalam perjuangan mencerdaskan anak bangsa. Wawlahualam.

01 Maret 2018

Tanjungbatu, Karimun, Kepulauan Riau