‘Bala-bala’ dan ‘Gula-gula’ adalah Sahabat Kita


Mereka yang telah pernah menginjakkan kaki di tanah Papua, pasti tidak asing dengan istilah yang satu ini, ‘bala-bala’. Aku termasuk salah satu orang yang baru perdana mendengar istilah ini semenjak di tanah Papua dan tepatnya saat menjadi SM-3T. Biasanya aku mendengar orang-orang menyebutnya biskuit. Namun, semenjak dalam SM-3T, aku mengenali teman baru; ‘bala-bala’. Dan hingga detik ini, jika berkomunikasi dengan rekan-rekan yang sama-sama pernah berada di sana, sebutan itu lebih akrab bagi kami.

Ada rekan akrabnya ‘bala-bala’ yakni gula-gula. Dua sejoli ini adalah sahabat para SM-3T. Keduanya dapat berperan sebagai motivator dan juga sebagai teman. ‘Bala-bala’ itu biasanya bertugas saat pagi dan siang hari. Ada batasan. Sementara gula-gula, ia bertugas kapan pun. Mengapa? Sebab menghadirkan gula-gula masih lebih mudah dibanding mendapatkan ‘bala-bala’.

‘Bala-bala’ di sini sebenarnya adalah biskuit sekolah. Iya, biskuit ini didapatkan sekolah dari dinas kesehatan. Jadi segenap biskuit sekolah yang masuk dibagikan ke anak-anak. Karena kondisi, kala itu biasanya kami membagikannya secara bertahap. Bukan tanpa alasan.

Pembagian pagi hari dilakukan sebab kekhawatiran adanya anak yang tidak sarapan dari rumah saat menuju sekolah. Melewati jalanan berumput serta menuruni bukit seakan menjadi ‘santapan’ anak-anak sehari-hari. Dengan menyesuaikan kondisi musim yang dapat bertukar saban waktu. Belum lagi menghadapi musim, mereka juga harus menghadapi rerumputan ‘jahil’ yang kerap kali menusuk kaki-kaki mereka yang telanjang. Atau ‘menikung’ mereka di jalanan hingga terjerembab. Terbayang kan bagaimana jika saat anak-anak terjatuh dengan menggunakan pakaian sekolah. Saat mereka terjatuh, bisa saja rerumputan lain juga ‘menertawakan’ sembari melambai-lambai. Selepasnya, masih harus menyeberangi jembatan yang di bawahnya Kali. Ah! Mereka tangguh.

Aku akan kembali pada cerita tentang ‘bala-bala’ tadi. Jadi kekhawatiran itulah yang membuat kami kala itu seringkali membagikannya pada pagi hari. Lantas, apa perannya di siang hari? Jadi begini, anak-anak itu biasanya sepulang sekolah, tidak keseluruhan langsung balik ke rumah. Ada beberapa yang masih harus menebas rumput untuk makanan kelinci. Ada yang masih harus menebang kayu bakar untuk dipakai memasak. Syukur kalau masih ada ubi bakar yang dibawa pagi hari. Tetapi itu sangat jarang. Sebab ubi bakar yang dibawa dari rumah biasanya sudah ludes saat istirahat sekolah. Nah, di siang itulah peran ‘bala-bala’ itu. Jadi sebelum kembali ke rumah atau yang ingin mengambil rumput dan kayu bakar, setidaknya sudah ada tambahan energinya.

Berlanjut pada peran gula-gula. Gula-gula sebenarnya sebutan akrab untuk permen. Jika mengacu pada bahasa Indonesia, kata gula-gula sudah tentu masuk menjadi kata ulang, yang berarti lebih dari satu gula. Tapi di sini, gula-gula tidak dimaknai sebagai kata ulang.

Gula-gula ini adalah sahabat kedua SM-3T di tempat pengabdian. Saat akan bepergian mencari kayu bakar, gula-gula telah siap sedia untuk dibagi sebagai bentuk terima kasih. Saat akan mencuci pakaian ke Kali, gula-gula hadir kembali. Itulah mengapa perannya tak mengenal waktu, pagi, siang dan petang. Bahkan terkadang dia juga dijadikan media ‘khayalan’. Semisal saat belajar penjumlahan. “Dua belas ditambah tiga puluh berapakah?”

Nah, jika anak lambat dan sulit untuk menghitungnya, di situlah muncul peran gula-gula sebagai media ‘khayalan’. Maka bergantilah redaksi menjadi “jika kalian mempunyai gula-gula dua belas, kemudian Ibu Guru kasih lagi gula-gula dua puluh, berapa gula-gula kalian jadinya?” Yang pernah mengalami hal ini pasti akan senyum-senyum sendiri. Lantas teringat dengan masa-masa di tempat pengabdian dengan sedemikian fragmen yang mengedukasi. Mengedukasi diri untuk lebih bersyukur dan berusaha. Mengedukasi hati untuk lebih merendah pada sesama, merendahkan diri dan hati pada Tuhan.

Kini semuanya telah menjadi cerita yang mengabadi. Ada yang ceritanya abadi, pelakunya pun dapat menghadirkannya kembali. Namun ada juga yang cerita dan pemiliknya juga abadi, sebab keduanya telah pergi, kembali.

Penulis : Juniar Sinaga

Juniar Sinaga , Total 18 Tulisan .

(Dikunjungi : 28 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
2
Sangat Suka

Komentar Anda