Borneoku dan Sejuta Pesona Budayanya


SM-3T membuka mata lebih lebar menatap Indonesia lebih luas. Kali pertama dalam hidup melangkahkah kaki menyeberang pulau meninggalkan kenangan dan membentuk kenangan baru di tempat baru.  Tanah Borneo Kabupaten Mahakam Ulu Kampung Matalibaq adalah daerah sasaran tempat pengabdianku bermula. Sebuah daerah yang dulu hanya kukenal lewat buku pelajaran namun menjadi selangkah lebih dekat denganku. Kekhawatiran tentu saja menggiringi setiap langkah. khawatir tidak akan bisa bersatu dengan mereka yang berbeda suku, namun kenyataannya berbeda suku bukan berarti tak mampu bersatu. Borneo dengan pesonanya berhasil menyihir mata hingga berdecak kagum tiada henti. Suku Dayak sebagai suku khas yang tidak pernah terpisah belah dari Tanah Borneo dengan segala keunikan budayanya.

Pengabdianku tidak hanya diwarnai dengan mendidik anak-anak negeri  di pelosok, pengabdianku sekaligus kujadikan ajang menambah wawasan tentang Indonesia dengan  berbagai keberagaman. Ikut andil dalam setiap acara adat masyarakat setempat adalah strategi handal untuk belajar. Salah satu tradisi yang menarik perhatian adalah pemasangan gelang serta pemberian nama dayak bagi para pendatang termasuk kami peserta SM-3T. Sederhana namun memiliki filosofi yang dalam. Gelang dibuat dari perpaduan manik-manik yang mulanya bercerai berai. Dengan memasangkan gelang berarti masyarakat setempat telah menganggap pendatang dan masyarakat asli dapat berbaur menjadi satu sebagai keluarga. Tradisi unik lain yang turut menarik perhatianku adalah upacara kesenian ‘Tari Hudoq’ menggunakan topeng dan kostum. Topeng yang menyerupai binatang berbahan dasar kayu dengan ukuran besar dan unik serta kostum yang berbahan dasar daun pisang yang telah dipotong-potong kecil dan dirajut menjadi sebuah baju. Upacara Hudoq di Kampung Matalibaq dilakukan sebelum panen padi tiba karena menurut kepercayaan masyarakat setempat Hudoq adalah upacara pengusiran hama padi sehingga terbebas dari segala hal yang dapat mengganggu tanaman. Upacara Hudoq dilakukan selama 7  hari berturut-turut. Hentakan kaki para penari yang menghasilkan suara keras dalam gerakan tari Hudoq seolah menjadi musik pengiring pertanda upacara telah dimulai. Seluruh masyarakat berkumpul di lamin, tak terkecuali kami peserta SM-3T.

Kini kaki memang tak lagi menapak di tanah itu, tetapi Borneo dengan segala kenangannya masih saja memenuhi setiap ruang kosong dalam fikiran. Borneo dengan segala budayannya masih saja mengundang rasa penasaran. Borneo terus saja memupuk kerinduan untuk kembali menapak di tanahnya. Borneo nantikanlah kaki kembali menapak tanah merahmu!

Penulis : Khusnul Khatimah

Khusnul Khatimah , Total 3 Tulisan .

(Dikunjungi : 18 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
1
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda