Delapan Jam Bertumpu di Atas Kaki


Pagi yang cerah secerah hati kami semua. Hari ini kami akan melakukan perjalanan menuju kota kecamatan di Lengko Elar untuk berpartisipasi dalam kegiatan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2012. Saya berangkat dengan empat rekan SM-3T dan seorang guru mengantarkan tiga puluh lima orang siswa yang siap mengharumkan nama sekolah. Awalnya saya sempat ragu untuk ikut serta dalam perjalanan ini karena menurut beberapa warga jarak dari dusun kami Lengko Elar memakan waktu sekitar sepuluh jam berjalan kaki. “Wah…penduduk asli yang sudah terbiasa jalan kaki saja sampai sepuluh jam, bagaimana dengan Kami?” Iya, perjalanan menuju Lengko Elar akan kami tempuh dengan jalan kaki. Hal ini disebabkan karena tidak ada kendaraan yang langsung menuju ke sana dan jika menyewa mobil pasti akan memakan biaya yang tidak sedikit, sedangkan biaya yang disediakan sekolah untuk kegiatan ini tidak seberapa. Untuk makan kami selama di sana saja, siswa harus mengumpulkan satu kg beras per-orang. Inilah kami jauh di atas awan berjalan mendaki gunung, merayap menuruni lembah, berlari membelah hutan belantara demi satu tujuan, untuk memberitahu semua bahwa kami ada.

Dengan kebulatan tekat, akhirnya saya memutuskan untuk turut serta mendampingi siswa-siswa. Pukul 08.00 tepat semua sudah berkumpul di depan posko, kami awali dengan apel dan berdoa bersama sebelum berangkat. Banyak orang tua yang turut hadir waktu itu, ada yang datang mengantarkan anaknya, ada juga yang datang memberi sedikit petuah dan semangat. Maklum saja, ini kali pertama SMP Negeri 6 Elar turut serta dalam kegiatan perlombaan seperti ini.

Kami pun berangkat dengan penuh suka cita, senyum semangat tampak terpancar dari wajah siswa-siswa, entah karena ingin bertanding membawa harum nama sekolah, atau karena ini pertama kalinya mereka akan menginjakkan kaki di Lengko Elar. Sepanjang perjalanan terdengar canda tawa dari mereka, ada yang main tebak-tebakan, ada yang saling olok, ada yang menyanyi dan masih banyak lagi tingkah mereka.

Dari posko kami mengambil jalan potong menuju Mulu, kemudian dari Mulu kami berjalan mengikuti jalan raya menuju Cabang Lima. Sepanjang perjalanan dari Mulu ke Cabang Lima, saya merasa kami seolah-olah seperti atlet-atlet Olimpiade ketika pawai memasuki lapangan. Sambil tersenyum orang-orang melambaikan tangan kepada kami. Mereka juga melontarkan kata-kata semangat, yang semakin membuat kami melangkah dengan pasti dan yakin kalau kami bisa.

“Kak, saya yakin saya pasti juara”. Ucap tiba-tiba salah satu siswa yang berjalan di sampingku. Saya senang dia begitu semangat, rasa percaya diri tampak terpancar dari sorot matanya. Saya hanya meng-amin-kan perkataannya sambil tersenyum.

Kami telah berjalan kurang lebih 40 menit, tapi belum sampai juga di Cabang Lima, beberapa siswa laki-laki membantu membawa beberapa tas siswa perempuan tanpa diminta. Ini salah satu sikap yang membuat saya salut pada mereka, rasa persaudaraan yang tinggi dan kesadaran untuk membantu yang lemah. Beberapa siswa juga menawarkan untuk membawa tas saya. Tapi malu dong sama badan.

Kami jalan berkelompok-kelompok sesuai dengan kecepatan jalan masing-masing. Tapi setiap kelompok didampingi oleh seorang guru. Jumlah guru yang ikut dalam perjalanan ini ada enam orang, kami lima orang guru SM-3T dari Makassar dan Manado, sedangkan yang satunya lagi Pak Toby, PNS di sekolah kami.

***

Matahari mulai meninggi, cucuran keringat mulai mengalir dari pori-pori di setiap inci kulit kami. Sekitar pukul 09.30 akhirnya kami tiba juga di Cabang Lima. Dari kejauhan tampak Pak Erlin dan Pak Feliks bersama beberapa anak laki-laki, mereka tiba duluan di Cabang Lima. Tidak lama setelah semua berkumpul dan melepas dahaga, kamipun melanjutkan perjalanan.

“Cukup istirahatnya, kita lanjut sekarang, Saya harap semua tetap semangat karena kata pak Toby kita akan jalan mengikuti jalan potong yang mendaki”. Kata Pak Erlin.

“Iya, yang mau jalan duluan ikut saya, nanti yang lainnya ikut. Istirahat selanjutnya di tower, di kampung Lengor”. Sambung Pak Toby.

“Oh, sekalian kita makan siang di sana, yang sampai duluan jangan langsung makan yah! Nanti semuanya berkumpul, baru kita makan bersama. OK?”. Lanjut Pak Erlin

“ Oke Pak”. Balas anak-anak. Kamipun melanjutkan perjalanan, rute kali ini dari Cabang Lima ke Lengor melalui jalan potong yang sempit, mendaki dan terjal. Untung saja waktu itu tidak hujan. Jalanan yang kering saja susah untuk dilalui apalagi kalau basah.  “Kak, ini jambu biji” Salah seorang siswa menawarkan jambu biji yang besar di tangannya. Tanpa basa basi langsung saya ambil.  “Ayo jalan lagi, nanti kita semakin ketinggalan dari yang lainnya!” Perintahku.

Sedikit agak lega jalan yang kami tempuh sekarang agak rata dibandingkan yang tadi. Anak-anak mulai jalan lagi sambil berkejar-kejaran. Canda tawa kembali mengiringi langkah kami. Dan kini giliran Agnes Monica yang kembali menghibur kami dengan lagu Shake it off-nya.

Tanah lapang telah kami lalui. Di hadapan kami sekarang kembali tersaji sebuah jalan yang siap kami daki. Jalan setapak mulai kami telusuri, yang setiap saat terasa semakin terjal. Langkah kami kembali melambat saat lutut harus bekerja keras menopang beban. Jalan yang kami lalui berada tepat di pinggir ladang warga. Kami terus mendaki dengan pori-pori yang terus meluapkan laharnya.  “Iya, ayo semangat! Kita istirahat di atas.” Teriakku dengan kerongkongan yang kering untuk membakar semangat mereka.

Kami terus berjalan selangkah demi selangkah, sampai akhirnya kami putuskan untuk mengganti air yang dimuntahkan pori-pori kulit kami. Tapi celakanya dari kami bersembilan, yang masih mempunyai air minum sisa tiga orang, itupun dengan botol kecil yang terisi tinggal separuh. “Mana Cukup” Pikirku.  Akhirnya air itu kami bagi sembilan. “Pak, itu mama tua yang punya kebun.” Kata Yunita, salah satu siswaku. “Saya ke sana dulu Pak yah.” Lanjutnya.

Saya mengangguk dan kemudian dia pun berjalan ke tengah ladang, menuju pondok di mana sang mama tua berada. Tampak mereka bercakap sedikit, kemudian berjalan beriringan menuju suatu tempat yang dipenuhi tumbuhan merambat. Mentimun.

“Oh rupanya Yunita minta mentimun.” Pikirku.

Yunita pun ke arah kami. Dengan mata berbinar dia menyerahkan tiga buah mentimun yang besar. Lumayan untuk mengobati rasa haus yang membakar tenggorokan.

“Ini, Pak saja yang bagi biar adil.” Kata Yunita.

“Bagi kah Pak.” Sahut anak-anak yang lain bergantian.

“Iya, sabar. Ada yang bawa pisau tidak?” Tanyaku.

“Eh jangan lupa semuanya ucap terima kasih sama Mama tua.”

Kamipun melambaikan tangan dan berteriak mengucapkan terima kasih pada mama tua. Mama tua dari pondoknya nampak membalas lambaian tangan kami.  Semua sudah kebagian mentimun. Mentimun segar itu mengobati dengan sekejap rasa haus kami. Kami pun melanjutkan perjalanan. Jalan yang kami lalui masih mendaki. Hanya saja kali ini daerah yang kami lalui perkebunan kopi. Dengan berpegangan pada ranting-ranting kopi, kami terus melangkah. Menanjak dengan seribu harapan.

***

Sekitar pukul 10.22, kami tiba di perkampungan. Entah apa nama kampung itu. Di sana Pak Akmal nampak masih melepas lelah bersama beberapa anak. Kami pun bergabung dengan mereka. Saling berbagi air minum dan sedikit mengabadikan perjalanan. Setelah istirahat sejenak, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini lebih ramai, sekitar 20-an orang bersama saya dan Pak Akmal. Jalan kami yang lalui berbatu dan agak lebar, tetapi masih menanjak. Di sisi kanan dan kiri nampak rumah-rumah penduduk berdiri menghadap jalan.

“Pak kita sudah hampir sampai di SD yang dari kampung cuma nampak atapnya.” Kata Angli.

“Iya pak, disitu ada rumah mereka Bu Elen juga.” Sambung yang lainnya.

Obrolan-obrolan ringan menghiasi langkah kami. Langkah yang terus kami kayuh menapak setiap jengkal jalan di hadapan kami.Hingga tanpa terasa kami sudah tiba di depan SD yang diceritakan Angli tadi, di kampung Lengor. Di sana nampak Pak Erlin, Pak Tamsil, Pak Feliks dan Pak Toby beserta anak-anak yang lainnya.

Pukul 10.46 tepat kami semua berkumpul di halaman sekolah itu. Sedikit bercakap dengan guru yang ada. Anak-anak SD kelihatan mengintip dari balik jendela kelas. Mereka kelihatan berbisik-bisik satu sama lain. Mungkin heran melihat orang banyak dengan tas yang besar di punggung. Saya duduk telentang di bawah pohon mangga di halaman sekolah itu. Melihat ke depan bersama beberapa anak. Memandang jauh membelah barisan pegunungan. Bertanya dalam hati, “dimanakah dusun kami?” Semua tertutup kabut.

Tak pernah kusangka akan melakukan perjalanan seperti ini bersama mereka. Perjalanan yang menguras tenaga. Kadang merasa tak mampu, namun harus tetap terlihat kuat dan semangat di depan mereka. Agar semangat mereka juga tetap berkobar. Don’t give up and never give up. Lagu kemenangan hati Dirly mengalun di head set-ku.

“Ayo istirahatnya cukup. Sekarang sudah hampir pukul 11.00, kita lanjut sekarang dan makan siang di tower” Kata Pak Erlin membuyarkan lamunanku.

Sekarang kami bersiap kembali untuk melanjutkan perjalanan. Anak-anak kembali memikul tas mereka masing-masing. Ada juga yang berbagi air minum untuk bekal di jalan. Seorang anak menawarkan untuk membawa tas bawaan saya.

“Baik sudah, kita tukaran tas saja. Kelihatannya tas kamu lebih ringan.” Kataku.

Kami pun melanjutkan perjalanan melewati kebun belakang sekolah tadi. Menembus jalan yang berbatu. Kami menelusuri jalan berbatu itu yang nampaknya biasa dilalui mobil truk. Jalan yang kami lalui sekarang sedikit menurun. Tepat di sisi kiri berdiri kokoh kaki pegunungan. Sedangkan di sisi kanan, tepat di pinggir jalan menganga lebar jurang yang dalam.

Langkah kami terus berlanjut hingga kami tiba di sebuah perkampungan. Perkampungan ini cukup ramai. Hingga membuatku berpikir,”kok ada yah, yang mau tinggal jauh-jauh di atas sini?” Di sini ada kios kecil, saya dan beberapa anak belanja sedikit cemilan kecil. Untuk menemani perjalanan ke depan. Oh yah, ada

juga siswa yang sempat beli sandal. Katanya untuk dipakai nanti di Lengko Elar, kota Kecamatan.

Setelah berjalan kembali beberapa menit. Kami menemukan pancuran air. Anak-anak pun berlomba-lomba meneguk air di pancuran itu. Beberapa orang juga mengisi botol mereka.

Kami terus berjalan. Matahari terus beranjak naik. Semakin terik membakar setip jejak langkah kami. Sekarang saya berjalan dengan tiga orang siswa saja. Yang lainnya sudah jauh di depan dan yang lainnya lagi masih berada di belakang kami. Kami berempat terus berjalan, sambil menikmati cemilan yang dibeli tadi. Memang jalannya sudah agak rata, sehingga bisa sedikit lebih santai.

Tiba-tiba ponsel saya berdering. Ternyata dari Pak Erlin. Katanya jika dapat cabang didepan, kami harus belok kiri. Kami memang semakin dekat dengan tower, sehingga sinyal ponsel full.

“Wah, itu belokannya pak.” Kata Elan sambil menunjuk.

Kami berbelok, ternyata jalan yang kami hadapi menanjak. Dan tower sudah terlihat semakin dekat. Kami terus melangkah. Hingga salah satu siswa yang saya temani mengeluh.

“Aduh Pak, saya tidak kuat lagi, Pak duluan saja dengan mereka Rinda dan Elan. Biar saya tunggu mereka yang di belakang saja.” Keluh Grein

“Ayolah, semangat! Sudah hampir sampai kok, nanti di atas kita istrahat.”

Olee… mo gereng mereka le’. Nggita tikolo Grein.” Kata Elan.

“Saya su tidak kuat kah Pak.” Balas Grein

“Baik Sudah, kita istirahat di sini dulu sambil menunggu teman yang di belakang.” Kataku.

“Kasihan Grein kalau sendiri di sini, nanti diculik sama cowok rebaz.”

“Grein sih bersyukur kalau diculik cowok rebaz pak.” Kata Elan sambil tersenyum.

Kami pun istirahat di situ, sambil menikmati mie sedaap goreng mentah. Tetapi agak lama menunggu, teman yang di belakang belum muncul juga. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan setelah Grein sudah menyatakan sanggup untuk lanjut.

Tower semakin di depan mata seiring dengan semakin menanjaknya jalan yang kami lalui. Tampak dari kejauhan beberapa anak sudah ada di sekitar tower. Mereka melambaikan tangan dari jauh. Membuat kami semakin semangat untuk melangkah. Melangkah, melangkah dan terus melangkah. Hingga akhirnya kami sampai juga di tower.

Tepat pukul 12.01 kami semua berkumpul di tower. Setelah melepas lelah menikmati pemandangan yang luar biasa indah dan mengabadikan setiap moment kala itu. Tidak habis pikir, kami berada di puncak tertinggi di Kecamatan Elar. Lelah perjalanan yang tadi terbayar sudah dengan maha karya ciptaan Tuhan di hadapan kami.

Sekitar pukul 12.13 kami pun menikmati bekal yang kami bawa. Suasana hangat kebersamaan yang tak terlupakan. Makan bersama di puncak tertinggi, menikmati makanan yang sangat-sangat sederhana. Namun semuanya terasa sangat lezat. Tak pernah rasanya menikmati makanan sedamai ini. Beberapa anak menawarkan bekal yang mereka bawa. Jujur, melihat bekal mereka membuat dadaku sedikit agak sesak. Begitu sederhana, namun senyum mereka tetap merekah menikmati bekalnya dengan suka cita.

“Ya Allah, mereka betul-betul luar biasa, mereka mengajariku banyak hal.” Gumamku dalam hati.

***

Pukul 12.30 kami melanjutkan perjalanan. Kami berjalan beriringan, tidak membentuk kelompok-kelompok kecil lagi. Karena di depan nanti kami akan melalui hutan. Menurut Pak Toby, jalan di depan tidak mendaki lagi. Kebanyakan jalan rata dan menurun. Dan benar saja kata Pak Toby, jalan yang kami lalui sekarang menurun. Ditambah lagi dengan kondisi jalan yang sempit dan licin. Beberapa siswa harus terpeleset dan terjatuh, termasuk saya. Dengan hati-hati kami berpegangan pada semak belukar yang ada di samping kami untuk menuruni jalan yang licin. Agar pantat kami tidak mendarat lagi di tanah untuk kesekian kalinya.

Melewati jalan menurun yang licin. Kami memasuki hutan. Hutan yang lembab, sinar matahari nampak bersusah payah untuk menembus lebatnya hutan ini. Kondisi hutan yang lembab, jalan licin dan menurun sedikit memperlambat langkah kami. Pak Toby mengingatkan untuk waspada terhadap binatang buas. Katanya binatang yang sering mengganggu ular dan kera yang besar. Semakin membuat suasana menjadi horor. Saya pun sedikit agak takut.

Keheningan menghiasi langkah kami di tengah hutan. Kami membelah hutan dengan mulut yang puasa bersuara. Mungkin semua lagi konsentrasi penuh menapaki setiap jengkal hutan ini.

Setelah lama berjalan, akhirnya sinar matahari kembali menyinari tubuh kami. Jalan yang kami lalui sekarang berada di tanah lapang yang luas. Mulut kembali bersuara setelah puasa tadi. Canda tawa kembali menemani langkah kami. Sesekali saya berbalik melihat hutan yang kami lalui tadi. Ternyata luas juga. Sekarang kami harus kembali menurui jalan, melewati sebuah sungai kemudian kembali berjalan di pematang sawah. Anak-anak berjalan sambil bermain, dengan mengambil biji-bijian dan saling lempar. Kami berjalan terus hingga kini kami melintasi perkebunan kopi milik warga. Keluar dari kebun kopi kami disambut oleh tanah lapang.

Jauh di tengah tanah lapang ada tempat penampungan air. Air mengalir sangat deras dari penampungan itu. Tanpa aba-aba, anak-anak berlarian ke sana melepas dahaga mereka. Mereka minum dengan puas. Saya pun tidak ketinggalan, segera tenggorokan saya aliri dengan air itu. Dan ternyata sangat segar, asli dingin. Menurutku lebih segar dari air mineral bermerk yang beredar dipasaran. Nikmatnya.

Ternyata tidak jauh dari tempat kami berada sekarang, ada perkampungan. Kampung Ledug, di sana juga ada rekan SM-3T. Rencananya kami ingin melepas lelah di sana.

Akhirnya perjalanan pun kami lanjutkan setelah puas menikmati air segar tadi. Kami memasuki kampung Ledug. Banyak warga yang nampak keheranaan melihat kami melintasi kampung itu. Dan setelah bertanya pada salah seorang warga, kami pun menemukan tempat tinggal rekan kami itu.

Mereka rencananya akan ke Lengko Elar juga. Jadi kami jalan bersama. Menurutnya Lengko Elar sudah tidak jauh dari situ. Kami pun semakin semangat melangkah, membayangkan diri sudah sampai di rumah Pak Toby. Ingin segera rasanya merebahkan badan yang sudah lelah tingkat tinggi.

Dari Ledug kami berjalan melewati jalan yang menurun. Melintasi sungai dan kembali mendaki. Tapi kondisi jalan yang kami lalui berbeda dari yang sebelumnya. Jalanan cenderung lebar dan bagus. Sehingga tidak terlalu bersusah payah untuk melintasinya.

Setelah berjalan kurang lebih dua jam, akhirnya kami sampai di rumah Pak Toby. Tanpa pikir panjang saya langsung merebahkan badan saya di atas tikar diikuti beberapa siswa.

“Pak, jangan di situ kah, di ranjang saja. Biar anak-anak saja yang di situ.” Tawar Mama Rolyn istri pak Toby.

“Biar saja. Yang penting bisa baring dulu bu.” Jawabku.

Tidak lama, satu per satu siswa sudah sampai di rumah ini juga, beserta mereka pak bertiga, Pak Akmal, Pak Tamsil, dan Pak Feliks. Saya dan beberapa anak tiba duluan karena kami melalui jalan potong.

Kami semua tiba di rumah Pak Toby sekitar pukul 16.27. Anak-anak banyak yang baring telentang. Mereka kelelahan, nampak jelas terpancar dari wajahnya. Kasihan, mereka harus menempuh perjalanan yang lama seperti ini demi mengharumkan nama sekolah. Mereka begitu kuat berbeda dengan anak-anak yang kukenal di kampung halamanku. Entah apa yang terjadi kalau mereka yang mengalami perjalanan sejauh ini, pikirku dalam hati.

Setelah istirahat, saya dan beberapa anak laki-laki pergi mandi di sungai yang tidak jauh dari rumah itu. Kami kembali dari sungai dan tiba kembali di rumah sekitar pukul 18.30. Saya kaget begitu tiba di rumah, empat orang siswi kami kesurupan di rumah sebelah. Ada yang berteriak karena berhalusinasi kakinya dililit ular besar, ada juga yang menjerit karena berhalusinasi diikuti kakek tua, sedangkan dua orang lainnya menangis menjerit-jerit . Panik, takut dan pikiran negatif menggerogotiku. Saya angkat tangan untuk masalah yang satu ini.

Mungkin mereka kelelahan atau bagaimana. Entahlah!

***

  • Olee… mo gereng mereka le’. Nggita tikolo: Waduh…tidak usah menunggu mereka. Kita duluan saja
  • Rebaz: Ganteng

Ini hanya sederet kisah kami, ketika melakukan perjalanan ke Lengko Elar.

 Islamuddin Syam, Runus, Elar, Manggarai Timur

Penulis : Admin MSI

Admin MSI , Total 49 Tulisan .

Penggiat Literasi

(Dikunjungi : 40 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
1
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
0
Sangat Suka

Komentar Anda