‘In Memoriam’ Jeny Eadapa

Untuk sebuah harapan yang kini hanya dapat kulihat saat langit berubah warna menjadi jingga, memancarkan kehangatan sebuah mimpi yang tertinggal dari seorang anak. Pergi meninggalkan saya bersama mimpinya dan rasa bersalah yang akan saya bawa sampai mati. Andai saya bisa memutar waktu semenit saja untuk memperbaiki semuanya, membuatnya kembali bisa menghirup udara bebas, berlarian di landasan pacu pesawat, atau mencari sayur Genemo di hutan. Semua sudah terlambat, yang tersisa hanya penyesalan dan itu tidak akan mungkin membuatnya kembali hidup

Tidak seharipun yang terlewat tanpa rasa bersalah setiap memandangi lembaran foto  seorang anak, perasaan ngilu pun tiba-tiba muncul, ingatan tentang cerita teteh (Kakek) Kabiyai tentang aturan adat di Suku Auye, salah satu suku yang mendiami area hutan lindung di Papua tepatnya di Aibore Distrik Siriwo salah satunya adalah anak perempuan tidak diharuskan sekolah setinggi mungkin, bahkan patokan perempuan di Suku Auye menikah adalah ketika ia sudah mampu mengurus rumah, memasak, dan mengurus kebun, maka ia sudah dikatakan pantas menikah.

Hal ini yang menimpa Jeny ketika setitik harapan sudah mulai muncul, di saat Jeny sudah mampu mengeja, mengenal angka secara tiba-tiba tanpa peringatan ia memilih mengakhiri hidupnya. Memang Jenny adalah siswa kelas 1 di SD inpres Aibore yang seharusnya duduk di kelas 3, namun karena tidak bisa membaca, menulis dan berhitung, jadilah ia berada di kelas 1 bersama dengan saya. Hampir setiap hari saya berteriak mengajaknya sekolah, dan setiap pulang sekolah kami selalu bergandengan tangan sambil mengulangi nyanyian lagu “Kasih Ibu”, ingat ketika ia mencium baju saya dan berkata “Ibu Guru ko harum sekali” padahal bau harum itu berasal dari pewangi pakaian yang sering saya pakai. Setiap teriakan saya menggema di kampung kala memanggil anak-anak untuk datang belajar di rumah baca Aibore yang dibangun bersama teman-teman dari Book for Papua untuk belajar sore. Pasti yang paling pertama datang adalah Jeny, sebelum memulai belajar sore ia selalu menyempatkan membaca buku cerita favoritnya adalah Barbie, setiap kata yang dieja menggema di rumah baca berlomba dengan anak-anak lainnya. Siapa yang tidak menaruh harapan besar terhadap Jeny saat melihat perkembangan dan semangatnya untuk terus belajar.

Hingga saat masa tugas sebagai guru SM-3T berakhir sehari sebelum pulang, saya mengunjungi tiap perkampungan untuk berpamitan, saat melewati landasan pacu pesawat, Jeny berlari sambil berteriak “Ibu Guru” lalu memeluk saya dari belakang, memberikan karangan bunga liar warna putih yang dia ikat dengan akar pohon sambil berkata “Ibu guru besok ko pulang Sulawesi, baru ko kembali lagi lihat saya to” saya dengan keyakinan penuh menjawab, “Ibu guru pasti datang lagi ke sini, liat kalian semua, kalau ibu guru kembali ke Aibore, kalian harus sekolah kalau tidak ibu guru pulang lagi ke Sulawesi”. Mungkin dari kata itulah yang membuatnya menolak untuk dinikahkan bahwa dia harus terus sekolah saat saya datang.

Belum sebulan saya berada di Sulawesi Selatan, saya menerima telepon dari bapak guru Arumpumbo bahwa siswa saya yang bernama Jeny meninggal dunia dikarenakan meminum racun rumput karena menolak untuk dinikahkan dengan salah seorang pemuda dari Aibore II. Seketika itu nyawa seakan ikut melayang dan seolah jantung ini sudah tidak berada di tempatnya, saya hanya tertawa miris, tidak meneteskan airmata karena saya harus mengiring kepergian Jeny dengan senyuman, akan tetapi saya selalu dihantui oleh rasa bersalah tentang orang yang paling bertanggung jawab penuh atas kematian Jeny adalah saya gurunya yang mengajarkannya indahnya memiliki impian, cita-cita, dan harapan akan terwujudnya impian itu dengan berusaha. Saat saya kembali tidak akan ada lagi yang akan mengandeng tangan saya berjalan mengelilingi kampung, tidak ada lagi yang mencarikan saya daun Genemo, tidak ada lagi yang akan memberikan saya bunga kala melewati padang, tidak ada lagi Jeny Edapa yang akan mengatakan kepada saya “Ibu Guru ko harum”.

Tulisan ini saya buat untuk mengenang Jeny yang telah berjuang mempertahankan cita-citanya dan berusaha melawan adat yang akhirnya merengut impiannya, saya tidak bisa membayangkan bagaimana depresinya dan tersiksanya dia saat akan dinikahkan dan tak ada satu orangpun yang mampu memberi solusi dan melindunginya saat itu. Andai saya tidak pulang saat akhir masa tugas saya, mungkin saat ini ia masih berlari-larian di sekitaran kampung dan tak akan ada korban dari adat pernikahan dini di sana