Literasi Dua Babak: ‘Teman, Kirimi Kami Buku’


Setelah menyelesaikan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Negeri Padang pada akhir tahun 2017, aku kemudian melanjutkan pendidikan di universitas yang sama pada jurusan yang sama pula, karena tidak mungkin aku yang S1 PPKn, mengambil magister pada jurusan teknik mesin, walaupun ayahku sering membeli motor rusak kemudian diperbaiki lalu dijual lagi, sungguh aku tidak ingin menjadi bagian dari pekerjaan ayahku yang seperti itu. Aku terdaftar menjadi mahasiwa baru pada semester genap, kuliah hanya hari Sabtu dan Minggu, jadi Senin-Jum’at kugunakan sebagai hari produktif, agar aku bisa membayar pinjaman uang kuliahku. Banyak cara yang kulakukan agar peruntungan mendekat. Aku memasukkan lamaran pekerjaan paruh waktu, sebagai cook helper untuk usaha donat rumahan, penjaga toko pakaian, guru bimbel, mulai dari yang biasa, kedinasan, juga bimbel multilevel, hingga takdir membawaku kembali ke rumah dosenku, kami bekerja sama membuka jasa layanan pendidikan, aku pergi ke sekolah-sekolah untuk menawarkannya. Dalam pembicaraanku dengan kepala sekolah, aku yang waktu itu sedang produktif menulis cerita anak, bertanya tentang kegiatan literasi di sekolah yang kukunjungi. Musim FL2SN menjadikanku sukses menggaet beberapa kepala sekolah SD untuk membuka ekskul literasi di sekolahnya. Tapi aku hanya berjodoh dengan satu sekolah, sebab yang lain meminta kelas pada hari Sabtu dan Minggu, aku tentu tidak bisa meninggalkan kuliahku yang hanya dua hari itu.

Sebelumnya aku mengajar SMP dan SMA. Ternyata lain pula pesona mengajar SD ini rupanya. Aku serasa lebih menjiwai. Menjadi pembimbing untuk anak-anak SD membuatku merasa lebih menjadi diri sendiri. Setiap hari Jumat, setelah yang lain pulang, kami bertemu di kelas. Sebelum kelas dimulai, anak-anak kusuruh menyerbu buku yang ada di rak, memilih buku yang mereka suka. SD yang kubimbing adalah sekolah literat, buku bacaan ada di mana-mana. Orang tua bisa menunggu anaknya sambil membaca buku yang disediakan di ruang tunggu. Ada juga ‘Bendi Literasi’ di sudut sekolah, yang di dalamnya ada banyak buku cerita yang bisa dibaca kapan saja. Mereka akan membaca lima belas menit, lalu menceritakannya. Aku membagi tempat duduk anak-anak berdasarkan minat. Ada yang suka menulis cerpen, puisi, pantun, juga mendongeng. Ada yang sangat percaya diri dan selalu ingin maju ke depan, ada juga yang malu-malu. Tulisan mereka keren-keren. Namun keberadaanku di sana tidak lama, karena program mengajar ke Sabah yang kuikuti, memaksaku untuk mengakhiri kesepakatanku dengan kepala sekolah. Honor pembimbing yang menurutku berlebih, kubelikan baju dan kubagi mereka satu-satu. Setelah itu aku pamit dari sekolah, dari rumah dosen, dari kampus, dari rumah orangtua. Di Sabah, aku kembali memulai semuanya.

Tuhan Yang Maha Baik, mengabulkan apa yang kuminta. Aku mengajar SD, sesuai doaku. Sebagai guru yang baru mengajar SD, aku melakukan uji coba dan penyesuaian. Lima belas menit membaca sebelum belajar, kuterapkan dengan mendengarkanku bercerita, sebab kami tidak punya buku cerita. Dalam proses belajar, aku menemukan banyak anak yang belum lancar membaca, lalu kuputuskan agar mereka membaca buku pelajaran saja. Setelah berdoa, membaca Asmaul Husna, ayat pendek, menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu nasional, anak-anak kuminta membuka buku, membaca bagian yang mereka suka selama lima belas menit. Sengaja kuputar alunan musik instrumental agar suasana membaca semakin seru. Saat anak-anak membaca, aku memeriksa PR dan jurnal shalat yang diparaf oleh orang tua. Setelah itu aku akan membunyikan bel otomatis dari hpku, sebagai tanda bahwa waktu membaca telah habis. Buku yang dibaca lalu dikumpulkan ke depan, ada satu meja yang kami beri nama ‘Pojok Buku’, tempat buku-buku disusun dan dirapikan. Ini adalah fase literasi babak pertama.

Babak kedua adalah kegiatan literasi dengan mendengarkanku bercerita. Anak-anak suka mendegar cerita 25 Nabi dan Rasul, jadi kubuat seri, satu hari satu nabi. Ada kalanya aku mengganti dengan legenda yang kuambil dari buku ‘Kumpulan Dongeng Nusantara’ yang kubawa, cerita binatang dan kisah-kisah teladan yang kukarang secara spontan. Ceritanya singkat-singkat, namun selalu kuselipkan pesan moral agar cerita tidak lepas begitu saja. Barulah kemudian kami belajar hingga waktu pulang tiba.

‘Literasi Dua Babak’ sebetulnya adalah konsep literasi yang lahir dari dua keterbatasan. Babak pertama adalah literasi yang lahir untuk melatih anak-anak agar lancar membaca, literasi kedua adalah literasi yang muncul karena kami tidak punya buku cerita. Keterbatasan buku cerita sebenarnya bukan hanya milik CLC yang ada di Sepagaya, hampir semua CLC mengalami hal yang sama. Anak-anak di Sabah adalah anak-anak yang rajin membaca, suka bercerita. Lalu, adakah teman-teman di Indonesia, yang barangkali sudah bosan dengan buku-buku bacaannya, kemudian buku tersebut dibiarkan berdebu di rak, di gudang, di meja, yang ingin mengirimi kami buku cerita agar kami bisa ‘berliterasi’ dengan literasi yang sesungguhnya?

Penulis : Rahmi Syalfitri Riska

Rahmi Syalfitri Riska , Total 15 Tulisan .

(Dikunjungi : 43 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
1
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
1
Sangat Suka

Komentar Anda