Literasi Petang: Inovasi dalam ‘Berliterasi’, Anak-anak Kecanduan


Setelah kuhitung-hitung, ternyata aku memerlukan waktu satu bulan untuk membaca situasi di sini. Satu bulan menjadi guru bagi anak-anak Buruh Migran Indonesia di Sabah, aku baru mulai berliterasi. Agak ‘telat’ barangkali, namun tidak apa-apa. Aku mengawalinya dengan mendongeng sebelum belajar. Setelah mereka berdoa, aku mulai bercerita. Cerita pertamaku adalah Timun Emas, sengaja kubuat bersambung dan sekarang telah habis. Ternyata mereka suka, lebih-lebih menirukan bagaimana si raksasa tertawa. “Ada yang ingin belajar bercerita?” tanyaku iseng. Padahal aku juga tidak begitu pandai. “Aku Buuk, akuuu,” banyak yang angkat tangan. Maka aku umumkan bahwa siapa yang ingin bercerita (belajar dan mendengarkan) boleh datang petang. Syahdan, terbentuklah ‘Literasi Petang’, sebuah gerakan kecil yang kusiapkan untuk mengenalkan mereka pada dunia literasi sejak dini. Kunamakan begitu karena memang kegiatannya dimulai pada petang hari. Anak-anak boleh pulang dulu, kemudian kembali ke sekolah pada pukul tiga, setelah istirahat di rumah, mandi dan berganti pakaian

Sayangnya, kami tidak punya buku cerita. Aku hanya membawa satu majalah Bobo dan satu kumpulan dongeng nusantara. Maka literasi dimulai dengan cara menceritakan saja. Awalnya mendengar, kemudian membaca, bahan cerita kucetak, lalu kubagi ke mereka. ‘Si Lancang’ (Cerita daerah dari Riau) menjadi cerita pembuka di kelas Literasi Petang, kemudian ‘Danau Lotus Usana’, cerita yang kukatakan sangat bermutu, padahal mereka tidak tahu kalau yang menulisnya adalah aku. Kelasnya hanya satu jam. Tidak perlu lama-lama. Setelah membaca, anak-anak menceritakan kembali dengan bahasa sendiri. Nyambung ga nyambung, tetap harus bertepuk tangan supaya semua senang, gembira. Literasi berikutnya menghadirkan sosok Oki dan Nirmala, tokoh cerita favoritku dari aku belum lancar membaca. Ayahku (pedagang kaki lima yang tampan dan jagoan) dulu sering membelikanku Bobo dan Ino, tapi aku lebih suka Bobo. Dari semua isi Bobo, yang kubaca hanya tiga: Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang, Paman Kikuk Husin dan Hasta, lalu Oki dan Nirmala. Selebihnya aku hanya melihat-lihat gambar dan memperhatikan foto sahabat pena. Meski bacaan masa kecilku juga diwarnai oleh buku-buku Petruk yang dewasa, tapi aku tetap suka persahabatan Oki dan Nirmala. Dalam setiap cerita anak, selalu ada nilai moral yang dapat mereka serap. Maka kukatakan pada mereka, bahwa membaca adalah pekerjaan menemukan hal-hal baik dengan cara menyenangkan. Dengan membaca kau tidak hanya mengenal banyak kebaikan, tapi kau juga akan paham bagaimana kebaikan itu dilakukan

Setelah kurang lebih dua bulan dibiasakan membaca-bercerita, aku melakukan rotasi pola. Dari cerita-cerita yang kuberikan, kupikir mereka sudah mulai paham tokoh, alur, dialog, dan tema. Sudah bisalah diajak untuk mengarang. Kegiatan mengarang kami pada pertama kali diselamatkan oleh dua ekor anak kucing yang kelaparan. Perhatian mereka tertuju pada dua ekor kucing itu. Kuminta mereka mengarang cerita secara lisan tentang kucing yang sedang mereka perebutkan. Maka sore itu lahirlah tokoh kucing bernama Joji, Binggo, Alukat, Rojer, Laila, Iki, Omar dan Beruang. Alurnya keren-keren, ada kucing yang bisa diajak pungut biji, main bola, mengerjakan PR, lalu mati di pinggir pantai. Saat kutanya mana yang lebih seru, mengarang atau membaca? Mereka jawab mengarang. Bukankah yang membuat mereka bisa mengarang adalah karena mereka telah terbiasa membaca? Jadi kesimpulannya: kebiasaanku yang suka ngarang-ngarang telah berhasil kutularkan pada mereka. Hahaha

Sekarang ‘Literasi Petang’ kami sudah berumur empat bulan. Dari yang awalnya mendengarkan, membaca, bercerita, mengarang secara lisan, kini anak-anak sudah menulis. Mereka sudah mengirimkan karyanya untuk lomba yang diusung Komunitas Literasi Anak Indonesia di Sabah. Anak-anak juga pernah kuminta membuat komik, kami belajar berpidato kebangsaan, tadi kami berpantun. Kuakui dalam empat bulan ini, literasi petang kami mengalami pasang surut. Anak-anak yang awalnya ramai datang, mulai berkurang. Kedatangan mereka bersifat fluktuatif. Namun dari sekian banyak anak yang kadang datang dan kadang tidak, ada beberapa orang yang sudah ‘kecanduan literasi,’. Mereka meminta agar tetap ada literasi petang ini. Akhirnya aku yang bilang tidak, mengangguk juga. Sebetulnya aku malu, karena itu berarti semangatku telah layu. Pembelajaran di sekolah usai pada pukul 11.30, sementara literasi petang dimulai pukul 15.00. Dan mereka yang telah kecanduan itu, tidak mau kusuruh pulang, memilih menunggu di sekolah hingga datang waktu untuk literasi petang.

Penulis : Rahmi Syalfitri Riska

Rahmi Syalfitri Riska , Total 15 Tulisan .

(Dikunjungi : 24 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
1
Sangat Suka

Komentar Anda