Maaf Aku Menilai


Akhirnya hari yang dinanti-nanti telah tiba, hari ketika aku dan rekan-rekanku sesama peserta PPG pasca SM-3T Universitas Negeri Makassar tahun 2017 dapat kembali bercengkerama dengan lingkungan sekolah, menyaksikan canda tawa masa putih abu-abu serta menatap senyum gembira anak-anak yang sedang mengenyam pendidikan serta larut dalam canda masa remaja. Walaupun sebenarnya tidak semua siswa yang bersekolah datang dengan kemauan sendiri untuk menuntut pendidikan. Bahkan tak jarang dari mereka yang datang hanya sekedar melarikan diri dari pekerjaan di rumah atau hanya sekedar berkumpul dan bermain dengan teman-teman se-usianya atau hanya enggan disebut anak yang putus sekolah atau apapun alasannya. Namun sebuah kesukuran karena walaupun dengan alasan yang berbeda-beda aku tetap dapat sejenak menjadi saksi kebahagiaan masa SMU serta bernostalgia dengan masa saat aku seperti mereka.

Hari ini adalah hari ke-dua pelaksanaan PPL di SMAN 8 Makassar, namun ini adalah kesempatan tatap muka dengan siswa secara langsung di dalam ruang kelas untuk pertama kalinya. Kalian tentu tahu bagaimana rasanya ketika kita telah duduk di kelas bersama teman-teman yang sudah lama kita kenal, dengan guru yang sama ketika kita pertama kali bersekolah, kemudian hadir sesosok guru baru yang bertugas di sekolah kita, terlebih ia ditugaskan di kelas kita. Kurang lebih begitu pula yang mereka rasakan siang itu kala memasuki jam pelajaran kelima, aku yang memang ditugaskan di kelas mereka dan Fatimah yang turut mendampingi kala itu memasuki ruangan dengan 32 siswa di dalamnya. Sejenak riuh di ruangan itu seolah terbungkam. Yang muncul dari raut wajah mereka hanya gambaran tanya. “siapa mereka, dan mana Bu No? (panggilan akrab mereka pada Ibu Normawati salah seorang guru fisika mereka)” kurang lebih begitu tanya di benak mereka.

“ketua kelas tolong disiapkan teman-temannya!” ujarku.

“bersiap, beri salam!” ucap salah seorang siswa laki-laki dengan potongan rambut pendek layaknya seorang anggota militer.

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatu” ucap mereka bersama-sama.

“Waalaikumussalam” jawabku pelan.

Mencoba menjawab tanya di benak remaja-remaja itu, aku memulai pembelajaran dengan kegiatan yang dianggap wajib bagi seorang guru yang baru saja bertugas. tepat sekali, tatap muka siang itu dimulai dengan perkenalan. Dengan tutur kata dan nada bahasa sesantun mungkin serta sikap ramah yang kuketahui, aku mulai menyebutkan nama, latar belakang pendidikan serta pengalaman mengajarkan padaku selama bertugas setahun sebagai Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) di daerah pelosok Kalimantan. Namun tidak lengkap rasanya kalau seorang guru hanya mengenalkan dirinya saja tanpa mengenal anak-anaknya (peserta didik) satu persatu. Akupun mulai meminta mereka menyebutkan asalnya berdasarkan nama yang tertera dalam map absensi merah yang aku pegang. Kusebut nama mereka satu demi satu hingga akhirnya aku merasa kewalahan membacakan nama mereka yang rata-rata terdiri dari empat suku kata dengan ejaan yang asing bagi lidahku. acap kali siswa-siswa yang menyebutkan lanjutan namanya tatkala suku kata pertama telah kusebut.

Jam pelajaran telah habis seperempat bagiannya hanya untuk menjalin keakraban dengan mereka. Merasa cukup dengan itu, aku pun melanjutkan kegiatan yang menjadi tanggung jawab seorang pendidik. “untuk lebih mengenali karakter mereka dapat kulakukan di lain waktu, tugas utama di sini harus segera kulaksanakan” pikirku.

Tanpa membuang waktu, aku langsung memulai inti dari pembelajaran hari itu. Mulanya pembelajaran berlangsung kondusif dan terkendali. Seiring berjalannya waktu, mulailah muncul suara-suara sumbang dari bangku deretan belakang, kemudian suara-suara itu kian gemuruh hingga ruangan serasa diserbu gerombolan lebah madu yang pekakan pendengaran. Aku yang saat itu menghadap ke papan tulis sembari menjelaskan konsep elastisitas bahan mulai merasa terganggu dengan dengung yang tak beraturan.

Aku menarik napas dalam-dalam kemudian kuembuskan perlahan sembari memutar badan menatap mereka satu persatu dari ujung ke ujung dalam sejenak diamku hingga pandangan mereka fokus kepadaku. Masih dalam diamku, kuletakkan dua batang spidol yang kupegang di atas meja kemudian mulai kuceritakan tentang budaya dan etika yang begitu arif di pedalaman Kalimantan dengan tutur kata yang terdengar begitu idealis menurut rekanku.

Aku mulai bercerita dengan menggambarkan kondisi lokasi pengabdianku setahun silam. Tentang pelosok negeri yang jauh dan tidak tersentuh oleh modernisasi, akses yang sulit serta komunikasi yang hampir tidak ada. Singkat cerita mulailah aku menggambarkan tentang siswa siswi yang datang ke sekolah bertelanjang kaki dan pakaian lusuh yang tidak lagi layak digunakan menurut orang kota kebanyakan. Namun mereka tetap datang dengan senyum dan tawa bahagia akrab bercanda di luar jam pelajaran dan serius serta tekun saat jam pelajaran, dan yang terpenting mereka yang dinilai banyak orang lebih primitif ternyata lebih beradab dibandingkan kebanyakan orang yang katanya hidup dalam modernisasi.

Wajah mereka tunduk tampak menyesal dan malu pada diri sendiri, dibalik lengkapnya fasilitas yang mereka nikmati tidak menjadikan mereka lebih baik dari orang yang di nilai tertinggal. Melihat ekspresi mereka aku mengakhiri motivasi singkat dengan permohonan maaf karena terpaksa membandingkan mereka dengan orang lain serta harapan bahwa mereka dapat kubanggakan seperti kebanggaanku pada anak bangsa di ujung negeri yang pernah kusambangi atau mereka dapat kubanggakan lebih dari siapapun yang pernah kujumpai.

Jam belajar belum usai, mulai kucairkan lagi suasana kelas itu dengan sedikit lelucon hingga mereka dapat kembali fokus dengan pelajaran. Selebihnya aku memanfaatkan waktu pelajaran yang tersisa dengan melanjutkan pembahasan materi yang telah terencana siang itu. Sebuah kesukuran bagiku karena mereka dapat kembali fokus dalam belajar hingga bel pergantian pelajaran menggema di area sekolah. Di lubuk hatiku aku menaruh harap bahwa apa yang kulakukan hari itu dapat memberi perubahan bagi mereka dan harmoni yang tercipta hari itu akan tetap terjaga selamanya, hingga di penghujung masa tugas aku dapat membusungkan dada bercerita kepada dunia tentang kebanggaanku terhadap masa depan bangsa yang sempat kujumpai.

Makassar, Oktober 2017

Penulis : Ahmad Kurniawan

Ahmad Kurniawan , Total 5 Tulisan .

(Dikunjungi : 40 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
2
Sangat Suka

Komentar Anda