Ujian, Mimpi, dan Kelulusan


Kasmin irwan

Kasmin irwan

Alumni PPG SM-3T at Lihat Profil
Kasmin irwan

Latest posts by Kasmin irwan (see all)

Sepanjang karir pendidikan saya, mungkin ujian ini yang terberat dalam hidup saya. Ujian Tulis Nasional (UTN) kemudian belakangan diganti namanya menjadi UKM (Ujian Kompetensi Mahasiswa) adalah salah satu tahap ujian terakhir yang menentukan kelulusan dalam program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Mengapa tidak, menurut saya ujian UKM ini lebih berat dibandingkan tes CPNS dan ujian skripsi.

Program PPG yang saya ikuti adalah program PPG pasca SM-3T. Saya ingin menceritakan bagaimana pengalaman saya mengikuti program PPG dan mengikuti ujian ini sampai selesai. Menjadi Mahasiswa PPG SM-3T itu suatu kesyukuran. Sebab semua biaya ditanggung oleh pemerintah termasuk uang kuliah dan tempat tinggal. Disediakan asrama mahasiswa dan makanan prasmanan dengan jadwal makan yang tetap 3 kali sehari. Fasilitas yang disediakan berupa ruang belajar, peralatan olahraga, biaya transport, ruang kuliah full AC, uang saku dan uang buku. Kewajiban kami hanya belajar, belajar, dan belajar.

PPG itu sangat berbeda kurikulumnya dengan S1 maupun dengan S2. Karena kami disiapkan untuk menjadi guru yang professional. Empat sampai enam bulan kami diberikan materi workshop tentang bagaimana cara pembuatan RPP dan kawan-kawannya itu. Setelah RPP selesai dibuat, kami akan praktek mengajar di depan teman-teman kelas dan dosen. Kegiatan itu berlangsung selama kurang lebih enam bulan. Kemudian ada ujian terakhir pembuatan RPP dan praktiknya. Selanjutnya ada ujian lokal, ujian ini diberikaan tes beradasarkan kemampuan pengetahuan yang kita miliki (disiplin ilmu yang kita dalam semasa S1). Kalau dijurusan saya, kami diberikan test TOEFL yang dilakukan oleh pihak kampus.

Berdasarkan test TOEFL itu, maka kami dibagi kedalam tiga group untuk persiapan PPL di setiap sekolah. Di sekolah, kami benar-benar belajar untuk memegang tanggung jawab layaknya guru yang memang sudah professional. Pihak sekolah pun juga mempercayai kami karena pada dasarnya kami telah sarjana dan telah mempunyai pengalaman mengajar di daerah 3T. Di akhir PPL akan ada pembuatan PTK (penelitian tindakan kelas) serta Ukin (uji kinerja). Uji kinerja merupakan ujian praktek secara real kepada siswa, dinilai oleh dosen pembimbing, kepala sekolah, guru pamong, dan pihak kemenristek pusat.

Selain ujian-ujian itu ada beberapa penilaian yang tak kalah pentingnya yakni penilaian sosial kepribadian dan berasrama. Penilain sosial kepribadian berupa penilaian teman sejawat, teman kamar, dan teman biro (keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler). Penilaian ini akan diakumulasi dalam penilaian berasrama. Selain itu, ada juga penilaian secara khusus dari pihak pamong asrama. Jika salah satu ujian tersebut tidak dilulusi, maka akan berpengaruh pada nilai kelulusan PPG. Kemudian ujian yang terakhir adalah UKM (Ujian Kompetensi Mahasiswa). Ini adalah momok yang menakutkan di awal masuk asrama. Karena meskipun nilai yang lain hampir mendekati seratus tapi namun jika ujian ini tidak mencapai standar maka akan ditetapkan sebagai the looser.

Di akhir bulan desember 2016 kami diberikan tiga kali kesempatan untuk ujian. Sebelum menghadapi ujian, kami sudah mengintensifkan belajar untuk menghadapai ujian ini sejak awal masuk asrama. Bahkan kami harus sewa tentor dari luar selain dosen khusus yang disiapkan oleh pihak kampus untuk pendalaman materi. Satu bulan sebelum menghadapi ujian, jadwal belajar bersama semakin dipadatkan. Tidur hanya 5 jam sehari, karena kita bangun sebelum pukul 05.00, dan berangkat ke sekolah sebelum pukul 07.00, pulang sekolah pukul 04.00 (full day school), tiba di asrama pukul 05.00 (efek macet), belajar bersama sehabis salat isya sampai pukul pukul 22.00, setelahnya kami masih harus melanjutkan aktivitas mempersiapkan materi mengajar besoknya. Begitulah rutinitas yang selalu kami lakukan.

Sehari sebelum mengikuti ujian, saya bermimpi mencoba naik ke sebuah puncak gunung dengan mengendarai sebuah mobil truk. Namun jalanan penuh dengan air laut. Air pasang menggenangi semua jalanan dan hujan terus mengguyur. Mobil tak mampu melanjutkan perjalanan, sehingga saya singgah di sebuah rumah dan berusaha melepaskan ban mobil yang terjebak ke dalam lumpur.

Di pagi harinya sebelum berangkat ujian, saya sudah punya firasat tak akan mampu melewati ujian. Dan benar saat hasil ujian diumumkan, hanya ada tiga orang yang dinyatakan “Lulus” dari enam belas orang. Seminggu setelahnya, kami di berikan waktu untuk ujian ulang. Berbagai soal kembali dikumpulkan, kami mencoba mengerjakannya bersama dosen-dosen yang berkompeten di bidangnya. Namun soal-soal tersebut memiliki jawaban yang beragam dari setiap dosen. Kadang kami berkesimpulan yang punya jawaban benar hanya pembuat soal dan Tuhan.

Tiba saatnya untuk ujian ulang pertama. Hasilnya sama saja, masih tidak ada yang lulus di jurusan kami. Kami masih diberikan kesempatan untuk ujian yang ketiga kalinya, mencoba untuk menerapkan strategi belajar yang berbeda, berharap agar ujian kali ini kami dapat lulus seratus persen.

Sebelum pengumuman, saya kembali bermimpi mencoba mencari nama yang kabur dengan pembacaan huruf “K” dalam list pengumuman. Namun nama itu sulit untuk ditemukan. Saya melihat banyak nama namun nama itu kelihatan kabur. Firasat buruk itu kembali muncul sehingga saya harus siap untuk menerima kenyataan yang ada. Sebelum pengumuman, kami  berkumpul di sekret jurusan masing-masing. Secara pelan-pelan, dibacalah pengumuman itu. Mendengar suara tangis yang pecah dari ruangan sebelah, teman-teman jurusan saya pun satu persatu menangis dengan keras, seakan kami tidak mau menerima kenyataan. Saya hanya diam saja melihat teman-teman yang menangis, sebab yang menangis justru adalah teman yang lulus. Sedangkan kami yang belum mencapai kata lulus itu hanya diam meratapi diri dan mencoba menenangkan diri sendiri. Saya menanyai mereka yang lulus “Kenapa menangis? ini hanya ujian dunia”. Mereka menjawab bahwa mereka tidak percaya ujian ini terlau rumit, tidak adil. Kami seharusnya sama-sama juga menuntaskan ini dengan gelar yang sama.

Hari demi hari kami lewati di asrama dengan suasana yang berbeda karena ada pembeda diantara kami yang lulus dan tidak. Ada dua kalimat yang paling berat dan membosankan ketika itu “bagaimana pengumuman?” dan  “sabarki nah”. Kalimat seperti itu justru menyayat hati kami. Bagi kami yang tidak lulus, mungkin lebih baik dicubit dari pada disemangati kata sabar.

Beberapa hari kemudian, kami yang belum lulus mencoba untuk melobi pihak pusat untuk diadakan ujian ulang secepatnya karena kami mau wisuda bersama teman-teman angkatan kami. Maka pihak MSI pun datang dan memberikan motivasi dan mengakomodasi setiap kendala yang kami hadapi. Mereka tentunya ingin melihat saudara seperjuangan dan satu marwah mereka merasakan lulus. Keputusannya kami diikutkan ujian bulan Juni-Juli 2017.

Selama rentang waktu itu, beban kelulusan itu menjadi beban tersendiri. Dia punya porsi yang banyak dari segala beban di pikiran. Sampai pada pada bulan Juli, rilis jadwal ujian pun tidak ada. Maka kami diharuskan untuk menuggu PPG SM-3T angkatan lima di bulan Desember. Kamu tahu rasanya di PHPkan? Kurang lebih seperti itu tapi ini PHPnya bukan tentang rasa kepada seseorang tapi janji yang kemudian tidak ditepati.

Desember itu harapan besar. Saya dan teman-teman angkatan empat tak merasakan kembali beban ujian yang berlebih karena kami kembali punya teman ujian sekitar tiga puluh orang dengan jurusan yang sama berasal dari adik angkatan kami, angkatan lima. Dua minggu sebelum ujian kami mencoba membangun komunikasi untuk belajar bersama di asrama. Segala pengalaman di angkatan empat pun kami bagi, beberapa trik kembali dicoba. Try out setiap minggu kami lakukan sampai pada hari ujian. Di ujian yang ke empat ini saya mencoba untuk berbuat curang, namun saya kedapatan. Secara psikologi, pikiran saya buyar. Maka, lagi-lagi saya tidak ada harapan lulus, kecuali Tuhan punya kehendak lain atau meridhoi kecurangan saya itu.

Sehari sebelum pengumuman, saya kembali bermimpi di malam hari. Saya melihat daftar nama-nama yang lulus ujian, dan lagi-lagi nama yang saya cari pun tidak muncul. Pengumuman pun tiba, nama saya masih dinyatakan belum lulus. Di angkataan saya hanya dua orang yang lulus, jadi yang tertinggal masih ada enam orang sedangkan angkatan lima masih ada sekitar dua puluh orang. Beban pun bertambah lagi, saya sudah mencap diriku bahwa memang saya bodoh dan tidak pantas menjadi guru.

Seminggu kemudian akan ada ujian ulang di bulan yang sama, yakni di bulan akhir desember 2017. Kami berenam pun belajar bersama dari lantai dasar phinisi pindah ke perpustakaan daerah, kemudian berlanjut di asrama. Hampir sebulan pengumuman itu baru dirilis. Lagi-lagi setiap pengumuman itu dirilis, mimpiku selalu terjawab dengan hasil “Tidak Lulus”. Hanya ada dua orang yang yang lulus di ujian kelima ini dan semuanya laki-laki jadi hanya saya dan tiga perempuan yang tersisa.

Ujian selanjutnya akan diadakan empat kali dalam tahun 2018. Untuk angkatan empat, ujian susulan ini adalah kesempatan yang terkahir. Jadwal rilis ujian akan diadakan April, Juli, Oktober, dan Desember. Kami berempat sudah mulai jenuh dengan ujian ini, makanya tidak ada yang fokus untuk belajar. Semuanya fokus bekerja. Ujian April kami sambut dengan persiapan yang tak terlalu mantap, karena kami berpikiran “apalagi yang mau dipelajari”?. Semuanya sudah dihapal. Lantas apakah kami masih belum berkompeten?. Kali ini doa-doa masih belum bisa melobi apa yang menjadi kemauan saya.

Saya selalu menelpon orangtua dan menitip doa “Mohon doanya Ma, besok saya mau ujian, ini ujianku yang ke lima, semoga lulusma ini”, pintaku pada mereka.

“Saya selalu mendoakan anak-anakku, tapi ujian apa lagi itu kamu?. Setiap menelpon doa, doa, dan doa, sering sekalimo kurasa ujian, kapan wisudanya?”. Jawab beliau. Beliau selalu bertanya ujian apalagi ini, sebab setiap pengumuman saya tidak mau memberitahukan hasilnya bahwa saya tidak lulus melalui telpon, harus secara langsung. Karena saya yakin setiap saya mengatakan saya belum lulus, maka air mata mereka pasti akan jatuh.

Pengumuman pun tiba, ini adalah ujian keenam. Dari empat orang tidak ada yang lulus. Sekali lagi, saya berpikiran bahwa saya tidak ditakdirkan menjadi guru, mungkin saja menjadi dosen atau pengusaha. Maka kami harus menunggu kembali ujian bulan Juli. Saya tak merasakan sakit atau kecewa lagi karena saya sudah merasakan yang namanya tidak lulus atau gagal berkali-kali dengan ujian yang sama.

Akhir bulan Mei, saya pun bermimpi seseorang berkata “kamu hanya belajar karena ingin menghadapi ujian, kamu belajar hanya ketika mendekati hari ujian dan kamu belajar hanya untuk mendapatkan jawaban bukan untuk mempelajari secara menyeluruh dan mendalam”. Ketika itu saya pun menyimpannya nasehat itu dalam catatan di ponsel saya. Saya mencoba untuk menerapkan nasehat itu. Teman saya pun juga menasehati bahwa sebelum menghadapi ujian, usahakan pulang kampung. Temui orangtuamu, minta doa dan restunya sehari sebelum ujian.

Rilis ujian bulan Juli pun telah ada, bulan juli adalah bulan ketujuh dalam kalender masehi dan ini pun ujian keTUJUH saya. Dua minggu sebelum ujian, saya pun pulang menemui orangtua. Saya fokus belajar di kampung, mempelajari apa yang menjadi kelemahan saya. Meminta doa restu kepada orangtua dan berusaha bagaimana doa itu dapat terkabulkan. Beberapa teman juga mengirimkan doa-doa; doa sebelum menjawab soal, doa menghadapi kesulitan, dan doa menutup ujian. Ujian kali ini hanya saya pasrahkan kepada Tuhan. Dan akhirnya Tuhan pun menjawab doa-doa saya dengan kata LULUS.

Bagi teman-teman seperjuangan yang belum mencapai kelulusan itu, never give up. Tuhan masih mempercayakan bahwa Anda masih kuat menerima ujian beban ini.

Terima kasih saya ucapkan kepada Masyarakat SM-3T Institute Basecare pusat Makassar, teman-teman SM-3T yang selalu memberikan doa, usaha, dan semangat dengan kehadirannya di setiap hari ujian. Terima kasih banyak juga kepada teman sokab Mansel, Englisher angkatan 4, SM-3T angkatan 4 dan 5, Kelas B Englisher Pascasarjana UNM, driver gojek pangkalan Daeng Kanang serta dua sahabat saya atas doa dan motivasinya. Terkhusus saya ucapkan terima kasih kepada orang tua, saudara-saudara saya dan atas nama kelurga besar. Special Thanks to guru spritiual saya di pondok pesantren Darul Abrar.

Sungguminasa, 27 Agustus 2018

 

Komentar Anda


What's Your Reaction?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
5
Sangat Suka

Login

Don't have an account?
Register

reset password

Back to
Login

Register

Silahkan Register terlebih dahulu

Captcha!
Back to
Login