Nak, Kamu Berhasil Mencuri Hati Ibu


Asperoni Zai. Mendadak aku ingin sedikit bercerita tentang dia. Kenalkan! Dia merupakan salah satu siswa SMAN1 Pulau Banyak yang pertama berhasil mendapatkan tempat di hati aku. Perawakannya tinggi, kulit sawo matang, bermata sipit, badan ideal seperti badan anggota angkatan darat. Asperoni adalah siswaku yang berasal dari Nias. Meninggalkan kenyamanan rumah untuk bersekolah di Pulau Balai, Pulau Banyak, Aceh Singkil. Asperoni memeluk agama kristen dan Zai adalah salah satu marga bagi orang Nias. Seperti beberapa siswa lain yaitu Resnawati Zai. Awalnya aku mengira siswaku di sini semuanya adalah muslim, karena asumsi awal bahwa ini Aceh dan kepulauan. Di sini tidak dijumpai anjing, jadi sangat berbeda suasana yang kurasakan di pulau ini. Asumsi awal ini jua lah yang membuatku menyangka Asperoni juga menganut agama islam.

Kelas dibuka dan ditutup dengan doa berbahasa arab dan kulihat Asperoni juga begitu khusuk dalam berdoa. Belum lagi kesopanan siswa yang satu ini cukup menonjol dari pada siswa yang lain. Perhatian pada pelajaran, sopan, rajin, dan ramah. Hati siapa yang tidak luluh mendapatkan siswa seperti ini. Karena langka, tidak ada aku temui Asperoni lain. Suatu hari Asperoni datang ke rumah sebelum latihan pramuka. Ia meminta izin bahwa tidak bisa mengikuti latihan maupun PBM di sekolah karena mendapat kabar ayahnya sakit. Bahkan kabar dari mulut yang lain mengabarkan ayahnya telah berpulang. Sontak kami mengucapkan innalillahi dan menyuruhnya agar sabar dan tetap optimis ayahnya hidup.

“Asperoni rajin-rajin baca Al-Fatihah ya, tetap optimis”, pesanku.

Mendengar itu Asperoni tersenyum, lebih tepatnya dipaksakan senyum. Untuk pulang ke Nias ia harus menyewa boat seharga ratusan ribu katanya. Teman-temannya melepas dia dengan membantu membawakan mie instan 1 kardus, telur beberapa dus dan bahan makanan lain. Kami guru SM-3T pun berkumpul untuk membahas Asperoni. Aku mengusulkan agar kita mengaji bersama. Lalu Afif temanku tersenyum. Afif menceritakan bahwa Asperoni non muslim. Afif pun sempat terkecoh. Waktu itu Asperoni minta film kepada Afif, ia ingin menonton dengan laptop barunya. Tahukah film apa yang diberikan Afif? Film-film para khalifah. Asperoni tersenyum dan meminta film yang lain saja tanpa mengutarakan alasannya menolak film tersebut. setelah ditanya Afif beberapa kali, baru ia menjelaskan bahwa ia berdoa dengan tangan didekap, bukan menengadah. Maklum, semasa kuliahnya Afif aktif dalam organisasi LDK di kampus UNP. Aku pun terkejut karena selama ini jika Asperoni menelepon kita sering mengucap salam.

Mengetahui hal ini, aku hanya bisa tersenyum-senyum, lucu. Untung saja Asperoniku dewasa dan berjiwa besar dengan senyum manis yang selalu tersungging dari bibir tipisnya. Aku bahagia memiliki siswa seperti Asperoni Zai atau yang akrab dipanggil super boy atau zupe. Minoritas yang sangat membaur dengan mayoritas. Dan yang terpenting selalu menghormatiku sebagai guru di dalam maupun di luar kelas dan sekolah. Itulah Asperoni Zai.

Lain lagi dengan siswa lainnya yang juga berhasil memberikanku inspirasi. Kali ini aku ingin sekali menceritakan Harianto atau yang akrab dipanggil Ari. Siswa XI IA yang bertubuh gempal, memiliki kulit sedikit hitam, dan kemana-mana selalu menunggangi sepeda modifikasinya sampai akhirnya ia kembali berjalan kaki karena sepeda itu rusak. Aku tidak mengajar di kelasnya pada semester 1, barulah di semester 2 aku diberi jam mengajar di kelas XI IPA. Namun terkadang jika guru kesenian atau guru PPKN mereka tidak datang di semester 1, akulah yang menggantikannya. Selain itu interaksi aku dan Ari juga terjalin di kegiatan kepramukaan.

Ari yang kukenal adalah sosok yang kocak, gigih dan serba bisa. Walaupun berbadan tidak ideal antara tinggi dan beratnya, tapi Ari sangat lihai menari. Ari sudah sering jogging, namun yang aku lihat postur Ari masih seperti Ari yang dulu. Poin yang paling oke dari seorang Ari adalah rasa percaya dirinya yang tinggi. Ketika latihan dance untuk penampilan ketika kunjungan balasan SMA Haloban, kami selalu ditonton “umak-umak” para tetangga.
“Buk e..jangan lagi dibao si Ari. Ndak cocok inyo boy band bak itu. Nan katakah diki tu sajo malah”, kata ibu-ibu pulau. Mereka hanya menginginkan siswa tampan saja yang ikut. Ya, kebanyakan manusia memang menilai selalu dari cover nya saja, selalu dari kemasan, lupa bercermin diri.

Tapi bagiku kehadiran Ari dalam tim, baik itu dance maupun tari tradisional memberi warna tersendiri. Tanpa malu-malu, lincah bergerak, always smile dan rajin latihan. Ari juga mempunyai jiwa rela berkorban, mengurus peminjaman gendang dan bertanggungjawab penuh atas keselamatan gendang-gendang SMP yang kami pinjam untuk menari Rapai Geleng. Meminjam dasi kepada para guru laki-laki dan bertanggungjawab atas dasi yang dipakai para teman-temannya. Mengatur jadwal latihan, dan mengkonfirmasi jika ada apa-apa pada group tari.

Jika Ari dan Asperoni mendapatkan tempat karena kesopanan dan kegigihan mereka, lain dengan siswaku yang satu ini. Fendra Gunawan. Siswa kelas XI IPS ynag sering dikenal suka bolos, melanggar disiplin sekolah, pembangkang, dan beberapa kali kedapatan merokok. Maka tidak diragukan lagi namanya sudah sering tercatat dalam buku kasus dan menjadi langganan Pak Rusli, waka kesiswaan. Rambutnya panjang jingkrak-jingkrak, sering di sekolah kudapati matanya merah, seperti perpaduan orang begadang dan orang selesai minum. Wajahnya tidak segar, kusut.

Tidak ada penilaian yang spesial bagiku untuk seorang Fendra dari semester 1. Sampai terjadi suatu kejadian ketika pagi itu di kantor guru. Perstiwa yang membuatku mengubah persepsi akan Fendra. Kantor hening, yang terdengar hanya lantunan merdu ayat-ayat suci dari bibir siswa dengan rambut panjangnya dan mata merahnya. Dia tak lain dan tak bukan adalah Fendra. Fendra diminta Bu Nurhayani Gulo untuk mengaji di depannya, karena Fendra ditunjuk untuk menjadi kontingen sekolah dalam pentas agama islam atau PAI ynag diselenggarakan oleh Departemen Agama Aceh Singkil.

Setelah bercerita panjang dengan Bu Nur, akhirnya aku mengetahui bahwa Fendra adalah seorang Qori yang pernah meraih juara 1 lomba tilawah Al-Quran se kecamatan. Fendra dulu tidak seperti Fendra yang sekarang. Ia berubah karena lingkungan pergaulannya. Benar kata pepatah, jika kamu berteman dengan penjual minyak wangi maka kamu akan ikut harum. Namun jika kamu berteman dengan pandai besi kamu juga nantinya akan berbau besi. Fendra sekarang lebih memilih bergaul dengan mereka yang hobinya main batu atau main domino.

Melalui kegiatan ini, Bu Nur berusaha merangkul Fendra kembali. Mengingatkan agar mengurangi merokok agar pita suaranya tidak rusak dan kualitas suaranya tetap terjaga. Membujuk dia agar bisa menunjukkan sedikit perubahan, karena menjadi kontingen sekolah adalah prestise tersendiri bagi para siswa dan orang tuanya di pulau ini. Sekolah juga mensupport Fendra dengan membayar Ustad Kerong untuk melatih mengaji irama.

Namun sepertinya hidayah belum datang kepada Fendra. Lomba tinggal seminggu lagi, namun belum pernah sekalipun Fendra pergi latihan ke rumah Ustad Kerong. Padahal sudah diberi tahu 1,5 bulan sebelum lomba. Padahal ibu Fendra sudah bahagia jagoannya akan pergi berlomba ke Singkil. Karena Fendra tidak pernah latihan dan sering bolos di sekolah, maka diputuskan untuk mengganti Fendra dengan Adek Gunawan. Ada guratan kekecewaan di wajah Bu Nur, di wajahku, dan guru SM-3T lain pun demikian. Apalagi ibunya. Saking kecewanya. ibunya memangkas habis rambut Fendra. Hal ini kami ketahui dari teman-temannya. Benar, beberapa hari setelah ia tidak sekolah ia datang ke sekolah menggunakan topi. Malu karena berkepala plontos. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, karena kaum itu sendirilah yang bisa merubah nasib mereka. Begitu juga dengan Fendra. Semoga suatu saat akan kudengar kabar kesuksesan seorang Fendra Gunawan.

Setiap harinya dalam berproses menjadi bagian dari SM-3T, aku menemui banyak hal, semua tentang pelajaran hidup. Jauh dari rumah mengajarkan kemandirian, menjadi bagian masyarakat pulau mengajarkan arti sesungguhnya kebhinekaan, menjadi guru mengajarkan bahwa tugasku mengajar sambil belajar. Aku belajar banyak dari pribadi Asperoni, Ari, Fendra, dan dari semua siswa-siswiku. Ada pelajaran yang tak kau dapati dari sekolah, tapi hanya bisa datang melalui perenungan dan imajinasi positif. Aku banyak belajar dari sini, dari sekolah ini, dan dari pulau ini.

-2015 silam-

Tahun ini, di 2018, apa kabar anak-anak lautku?

Mereka berjuang pada lintasan masing-masing. Asperoni sudah bekerja, Ari menjadi mahasiswa keguruan prodi Matematika, dan Fendra lulus menjadi tentara. Ibu Dini bahagia, nak.

Penulis : Wahdini Dwiranda

Wahdini Dwiranda , Total 6 Tulisan .

(Dikunjungi : 24 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
2
Sangat Suka

Komentar Anda