Rano Siswa Disleksia


Namanya Rano. Ia adalah siswa kelas lima pada sebuah sekolah di pedalaman Kalimantan Tengah; Tumbang Setoli. Sejak kecil Rano tinggal dan diasuh oleh neneknya. Kehidupan Rano sangat sederhana. Orang tuanya petani. Menghabiskan waktu hidup berladang di tengah hutan. Dua atau tiga kali dalam sebulan kembali ke kampung mengunjunginya.

Sejak masuk SD Rano memiliki kelemahan daya ingat pelajarannya. Apa yang diberikan oleh guru hari ini, esok pasti sudah ia lupa. Guru yang ada di sekolahnya sudah berupaya berbagai cara untuk membantu Rano agar bisa seperti teman-temannya. Minimal bisa mengenali huruf dan berhitung, kecuali bila melihat contekan untuk ia tulis, Rano masih mampu melakukannya.

Guru-guru pun mulai pesimis dengan kondisi yang sedang dialami oleh Rano. Setiap rapat kenaikan kelas, nama Rano ada diperingkat pertama pembahasan. Sudah dua tahun Rano di kelas empat dan tidak berhasil naik kelas. Beradu argumen dan pertimbangan Kepala Sekolah, akhirnya diputuskan Rano naik kelas bersyarat, dan menjadi tanggung jawab guru wali untuk terus mendampingi dan membimbing Rano. Miris hati ketika pertama kali saya melihat kemampuannya.

Rano Beberapa bulan lagi akan ujian untuk naik kelas enam. Ia belum tahu membaca. Menghafalkan huruf pun ia tak mampu. Masih seperti dulu, hari ini ia tahu, besok sudah lupa. Berhitung apalagi. Jangankan perkalian, satu ditambah tiga pun ia tak tahu. Sering lupa apa yang telah diajarkan.

Baru kali ini juga melihat siswa seperti Rano. Kesehariannya normal bahkan cenderung aktif bermain bersama teman-temannya. Perkembangan fisiknyapun demikian, tetapi jika diberikan pertanyaan atau tugas dari guru, jawabannya hanya senyum pertanda ia tidak tahu. Mungkinkah Rano menghidap penyakit gangguan saraf?. Saya bukanlah dokter; Mencari jawaban melalui tulisan para ahli. Saya pun mencoba mencari informasi. Baca beberapa artikel tentang penyakit saraf. Melihat dan mencocokkan perilaku, gejala, dan ciri-ciri yang Rano tampakkan.

Ada beberapa penyakit saraf yang menyerang daya ingat; kemampuan membaca dan berhitung. Namun yang paling mendekati dengan yang terjadi pada Rano adalah Disleksia dan Diskalkulia. Disleksia menurut Wikipedia adalah ketidakmapuan belajar anak dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Ciri-cirinya kesulitan mengenali huruf atau mengeja lambat dan terputus-putus, mengabaikan huruf, kata, awalan imbuhan dan kesulitan yang didalamnya terkandung abjad lainnya. Sedangkan Diskalkulia atau yang disebut juga “matt difficulty” merupakan ketidakmampuan menyelesaikan soal-soal matematika atau konsep dasar aritmatik. Ciri-cirinya antara lain anak mengalami kesulitan dalam proses-proses matematika, seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan konsep hitungan angka atau urutan.

Gangguan Disleksia dan Diskalkulia pada umumnya menyerang anak-anak, tetapi tidak mempengaruhi kemampuan fisik anak dan biasanya baru akan terdeteksi ketika masuk usia sekolah. Gangguan ini diduga terkait dengan kelainan gen dan kelainan pada otak yang menyebabkan lemahnya kinerja otak. Salah satu penyebabnya oleh penggunaan nikotin dan alkohol pada masa kehamilan dan lahir prematur.

Ayah dan Ibu Rano memang memiliki riwayat seorang pengguna alkohol dan nikotin aktif. Bahkan saat Rano di dalam kandungan ibunya. Sudah menjadi kebiasaan mereka masih muda dulu sampai sekarang, karena menjadi budaya masyarakat; minum-minum adalah sesuatu yang wajib di kampung ini jika ada hajatan atau pun dalam kesehariannya.

Apa yang dialami oleh Rano bisa saja terjadi pada anak-anak lain seusianya. Memiliki gangguan saraf seperti Rano bukan berarti akhir dari segalanya. Disleksia dan Diskalkulia bukanlah gangguan permanen kecerdasan anak. Apabila mendapati anak dengan gangguan tersebut, orang tua dan guru hendaknya saling bersinergi dengan melakukan langkah-langkah pengobatan, seperti ke dokter ahli, psikolog, dan melakukan terapi rangsangan memori. Penanganan yang paling mudah dilakukan adalah menyemangati dengan menunjukkan keunggulan yang ada pada dirinya.

Jangan sekali-kali memberikan label “bodoh” kepada anak penderita gangguan Disleksia dan Diskalkulia. Walaupun sebagian otak sudah tidak dapat diperbaiki lagi, tetapi masih ada bagian otak lain yang dapat dirangsang untuk dapat berfungsi optimal. Apabila mendapatkan penanganan yang tepat, anak penderita gangguan ini bisa kembali normal seperti yang lainnya, bahkan ber-IQ lebih tinggi.

Penulis : Ismail Hasanuddin

Ismail Hasanuddin , Total 2 Tulisan .

(Dikunjungi : 46 Kali)

Apa Reaksi Anda?

Terganggu Terganggu
0
Terganggu
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Tidak Peduli Tidak Peduli
0
Tidak Peduli
Sangat Suka Sangat Suka
1
Sangat Suka

Komentar Anda