SM-3T itu Menebar Optimisme

Telah datang pria paruh baya itu dengan motor tuanya. Diparkirnya motor tersebut tepat di depan gerbang sekolah. Pria itu turun dari motornya sambil tetap memegang seorang anak yang berada di belakangnya dengan tangan kanannya. Dengan sangat hati-hati dia menarik anak itu untuk dia gendong turun. Di saat yang bersamaan aku telah menyiapkan kursi roda yang memang telah kami siapkan untuknya setiap hari. Angelica Dom, nama siswi tersebut. Siswi kelas VII SMP Negeri 1 Long Bagun itu telah mewarnai hari-hariku dalam mengabdi sebagai guru SM-3T di pedalaman Kalimantan. Tepatnya di Kabupaten Mahakam Ulu Provinsi Kalimantan Timur.

Angel, begitu kami memanggilnya. Dia sangat bersemangat untuk bisa bersekolah. Apalagi tahun ini adalah tahun pertamanya duduk di bangku SMP setelah menempuh pendidikan di SD selama 8 tahun. Tidak mudah baginya untuk melalui hari-hari dengan kekurangan yang dimilikinya. Angel memiliki masalah pada kemampuan berbicara dan berjalan. Hal ini membuat dirinya selalu pesimis dalam menempuh hidup yang menurutnya tidak ada harapan. Pernah aku mencoba untuk mengajaknya berjalan, tapi dia menolak hal tersebut karena menurutnya hal tersebut hanya buang-buang waktu. Namun, kini Angel sudah bisa berjalan sambil berpegangan pada sebuah benda. Semangatnya untuk bersekolah juga telah kembali. Baginya cita-cita untuk menjadi guru adalah hal yang sangat realistis.

Semua berawal dari pertemuan unik pagi itu antara aku dengan Angel. Pagi itu Angel berada di persimpangan antara ruang guru dengan lorong yang mengarah ke kelasnya. Aku tidak pernah memiliki niat untuk menyapa Angel waktu itu. Sebuah dokumen yang kebetulan harus ditandatangani oleh seorang guru membuatku berjalan menuju ruang guru. Sekitar 3 langkah sebelum memasuki ruang guru tersebut Angel tiba-tiba melambaikan tangannya hingga menyentuh kakiku tanpa mengucapkan apa-apa. “Ada apa Angel?” tanyaku kepadanya. “Gak pak” jawabnya dengan suara yang agak samar. Aku terkesan menghiraukan Angel dengan melanjutkan niatku ke ruang guru untuk membawa dokumen yang kubawa tadi.

Setelah dokumen tersebut selesai ditandatangani aku kembali terpikirkan tentang Angel. Hatiku terasa gelisah dan tidak tenang. Buru-buru aku mendatanginya. Rupanya Angel masih ada di posisinya tadi. “Angel, kenapa kamu tidak masuk kelas?” tanyaku sambil tersenyum. “Angel, bodoh pak” jawabnya dengan suara yang berat. “Betul Angel bodoh?” tanyaku lagi. “Iya pak” jawabnya. “Angel merasa bodoh karena tidak bisa bicara dengan baik?” tanyaku kepadanya dengan tetap tersenyum. “Iya pak, Angel gak bisa bicara” jawabnya masih dengan nada samar. “Bapak mau tanya sama Angel, apa semua orang yang tidak bisa bicara dengan baik itu bodoh?” tanyaku kepadanya. “Gak tahu” jawabnya sambil menggelengkan kepala.

Sejak pertemuan tersebut sebagai guru BK, kuputuskan untuk melakukan sesi konseling kepada Angel dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). Pendekatan ini mencoba untuk merubah pemikiran irasional dari seseorang menjadi pikiran-pikiran rasional. REBT yang dikemukakan oleh Albert Ellis ini percaya bahwa suatu perubahan yang mendalam dalam cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku. Sehingga untuk menghasilkan perilaku yang baik, maka yang harus diubah adalah pikiran-pikiran irasional orang tersebut. Angel berpikir bahwa semua orang yang tidak bisa bicara dengan baik pasti bodoh. Sehinga dia berpikir bahwa dirinya termasuk sebagai orang yang bodoh juga.

Dua bulan lebih proses konseling kami jalankan dan akhirnya membuahkan hasil yang bisa dikatakan memuaskan. Keceriaan dan optimisme kini terpancar dari Angel. Dia kini lebih semangat dengan sekolahnya. Pikirannya yang selama ini irasional kini menjadi lebih rasional tentang dirinya. Tidak semua orang yang memiliki kekurangan itu bodoh. Anak adalah titipan Allah kepada kita. Tidak akan Allah berikan anak tersebut kekurangan jika tidak ada kelebihan yang bersanding di dalamnya. Inilah SM-3T, menebar optimisme di pelosok negeri. SM-3T mendorong kita semua berjuang untuk pendidikan yang lebih baik di pelosok negeri. Semua itu demi cita-cita mulia kita untuk maju bersama mencerdaskan Indonesia.

(Dikunjungi : 35 Kali)

Komentar Anda