Melunasi Rindu

Bukan kampung halaman yang kurindu, melainkan sosok yang bermukim di dalamnya yakni Ibu. Aku berhutang rindu, pada Ibu. Maka aku harus melunasinya.

Aku menatapinya yang terlelap. Hape kecilnya masih termangu dalam genggamannya.  Ia tertidur pulas di atas kasur ‘jomblo’ peninggalan nenekku. Sehari setibanya di rumah, aku bertanya “Ma, kenapa kasur ini dibawa ke sini?” Ibu tak menanggapiku bertele-tele. “Karena Ibu rindu dengan nenek, makanya tidur di atas kasurnya,” jawabnya sembari menatapiku. Rupanya Ibuku pun sedang merindukan ibunya, nenekku. Saat ibu merindukan ibunya, aku justru merindukan ibuku.

Merindu itu memang berat. Apalagi pada sosok yang telah membersamai sedari kecil. Berulang-ulang kutatapi wajahnya di dua malam bersamanya. “Ma, tak capek?” tanyaku malam itu. “Mana capek. Kerjanya hanya begini dan begitu saja,” paparnya. Sementara aku saja yang hanya mengamati merasa lelah. Ah! Ibu, begitu pandai membenamkan lelah. Begitu pintar menyimpan rasa letih. Bahkan untuk merahasiakan rasa rindu pun ia begitu ahli. Sesekali ia menatapiku. Di hening waktu terkadang berseloroh “teman-temanmu sudah pada menikah. Tinggal kamu saja kayaknya yang belum,” ujarnya petang itu. Oma mungkin salah hitung itu. Masih banyak temanku Ma yang belum,” ujarku membela diri. Sementara adik perempuanku tertawa sembari berkata “sabar kak, nanti ada waktunya dia datang. Aku hanya mengernyitkan dahiku.

Tanpa terasa fisiknya mulai sepuh. Ia sudah tak segesit dulu. Begitu cepat waktu berlalu. Segala harapnya belum tunai. Segala impiannya belum terwujud. Namun entah kenapa ia tak pernah menuntut. Saat suatu ketika aku hendak menutup pembicaraan di telepon “Ma, doakan aku ya,”. Dengan santai dari seberang menjawab “mana ada orang tua yang tak mendoakan anaknya,” terkekeh aku mendengarnya. Mungkin Ibu berpikir “anakku kini sudah dewasa. Padahal kemarin rasanya masih sekolah”.

Ibu, baktiku padamu karena titah Tuhanku. Sementara aliran doaku mungkin tak sederas aliran doamu. Untung saja waktu berkenan berkompromi, sehingga aku dapat melunasi rindu. Jika tidak, mungkin aku masih saja menabung rindu, padamu.

Pulau Samosir, 11 Juni 2018